Possesive Prince || 18

652 Kata
Prince membuka pintu apartemennya dan menemukan Roselyn duduk di ruang tengah sedang menonton sambil tertawa sendiri. Gadis cantik yang diclaimnya itu begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Tertawa tanpa beban. Tawa yang terlihat sangat indah di mata Prince. Andai saja tawa itu selalu dilihatnya setiap hari dan tawa itu hanya ditujukan padanya. Berjalan mendekat ke arah gadis yang tengah asik dengan dunianya sendiri itu. Kepalanya menggeleng heran melihat bungkus makanan yang berserakan di sekitar gadis itu. Entah sudah berapa lama gadis itu menonton sehingga bisa menimbulkan sampah sebanyak ini. Kepalanya semakin menggeleng heran melihat gadis itu tidak menyadari keberadaanya sama sekali. Gadis itu tetap fokus menonton sambil mengunyah keripik kentang yang mereka beli tadi. Sesekali tertawa geli dan meremas bantal gemas. Sebenarnya tingkah gadisnya itu cukup menghiburnya tapi masalahnya ia tidak suka melihat Roselyn masih belum tidur padahal sudah larut malam. Ia duduk di samping Roselyn yang masih saja tidak menyadari kehadirannya. Dia jadi berpikir, akan mudah sekali orang membunuh Roselyn dari jarak dekat karena ketidak pekaan gadis itu. "Kenapa belum tidur, honey?" Baru lah gadis itu menyadari kehadirannya. Terlihat dari tubuhnya yang sedikit terlonjak kaget. Prince mendengus kesal melihat Roselyn yang tidak berniat menatapnya sama sekali. Tatapan gadis itu terus tertuju pada layar laptop. "Drakornya seru. Jadi aku ingin menamatkannya dulu sebelum tidur." "Tidak boleh! Sekarang kau harus tidur!" Larangnya langsung. Roselyn mengabaikan ucapan Prince sehingga pria itu menjadi semakin geram. Diambilnya laptop Roselyn dan membawanya pergi tanpa banyak kata. "Heii!!! Kembalikan laptopku!!" Teriak Roselyn kesal. Prince tidak menoleh ke arah Roselyn. Ia tetap melanjutkan jalannya ke dalam kamar untuk menyembunyikan laptop gadis itu. "Aku akan mengembalikan laptopmu sepulang sekolah besok. Sekarang kau harus tidur dulu, honey. Ini sudah larut malam." Roselyn berdecak kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Kenapa tuh cowok pulang sih? Ganggu orang yang mau nonton aja." Padahal tanpa kehadiran seorang Prince, kehidupannya begitu aman tentram dan bisa menonton sepuasnya. Sekarang malah dilarang menonton dan laptopnya di sita. Tinggal bersama Prince benar-benar sesuatu yang buruk. Jika begini terus, dia tidak akan bisa sebebas dulu lagi. "Honey!! Kemarilah!!" Teriakan kencang Prince kembali membuat Roselyn berdecak kesal. Meski begitu, dia tetap pergi ke sana dengan berat hati. Setiba di kamar mereka, Prince tersenyum ke arah Roselyn sedangkan Roselyn menatap Prince kesal. "Kembalikan laptopku! Aku masih mau nonton!" Senyuman Prince luntur mendengar ucapan Roselyn yang sangat tidak ingin di dengarnya itu. "Tidur, honey! Besok saja lanjut nontonnya." "Tapi tadi itu sedang seru filmnya. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak kalau tidak menonton kelanjutannya." Rengek Roselyn masih tidak mau kalah dari Prince. "Aku akan membantumu tertidur dengan nyenyak." "Boleh ya? Satu episode aja deh." Bujuk Roselyn. Melihat gelengan tegas Prince, gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dia berjalan dengan langkah lebarnya ke arah tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Prince menghela nafas melihat gadisnya merajuk. Pria tampan itu beringsut mendekat dan memeluk tubuh Roselyn dari belakang. Mendaratkan kecupan singkatnya di puncak kepala Roselyn. "Jangan marah. Aku seperti ini juga untuk kebaikanmu. Bergadang itu tidak baik, honey. Apalagi kau bergadang untuk menonton film." Roselyn mengigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal. Ia sungguh tidak suka dilarang-larang seperti ini apalagi dilarang menonton Drakor. "Sekarang tidur ya. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur, honey." Prince membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Roselyn secara paksa lalu membalikkan tubuh gadis itu ke arahnya. "Jangan ngambek. Ini juga demi kebaikanmu, honey." Kekehnya pelan sembari mengusap pipi Roselyn lembut. Roselyn tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Prince kesal. Prince tersenyum manis. Mengecup mata Roselyn gemas. "Tidur ya." Bisiknya lembut. Menarik gadis itu ke dalam pelukannya dengan penuh kelembutan, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu mengusap punggung gadis itu lembut. Berharap sentuhannya bisa membuat gadisnya yang tengah merajuk itu mengantuk dan segera tertidur. Sudut bibirnya tertarik ke atas merasakan deru nafas tenang Roselyn. "Mimpi indah, honey." Bisiknya sembari mengecup puncak kepala Roselyn yang sudah tertidur nyenyak. Begitu lah penutupan mereka hari ini. Entah bagaimana dengan besoknya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN