Rencana Jahat Rean

1296 Kata
Jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi saat Rhea selesai memasak untuk sarapan pagi. Ia sengaja bangun lebih awal dan memasak cepat agar suaminya tak punya alasan lagi untuk menolak ajakannya untuk makan bersama. Setelah semua makanan tersusun rapi di atas meja makan. Rhea bergegas menuju kamar suaminya untuk mengajaknya sarapan. Namun, wajahnya berubah murung saat ia membuka pintu kamar suaminya. Ia tak menemukan suaminya. Rhea pun menghela napas panjang. “Sepertinya percuma. Dia memang tak ingin memakan makananku,” kata Rhea sedih. “Apa yang kau lakukan di kamarku?” Rhea spontan terlonjat kaget saat suaminya tiba-tiba ada di belakangnya. “Ah ... anu. Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama,” jawab Rhea gugup. “Aku buru-buru pergi kerja,” jawab Ethan dan segera masuk ke dalam kamarnya. Rhea pun segera menjauh dari pintu. Rhea berbalik ingin kembali ke ruang makan. Wajahnya tampak murung karena Ethan benar-benar tak ingin memakan makanan yang ia buat. Namun, baru beberapa langkah ia menjauhi kamar suaminya. Tiba-tiba Ethan membuka pintu. “Siapkan bekal untukku.” Rhea pun berbalik dengan wajah penuh bahagia. “Aku akan menyediakannya segera!” pekik Rhea senang. Ethan mengangguk masih dengan wajah datarnya. Tapi, saat ia menutup pintu kamarnya wajah yang semula datar kini menyunggingkan senyum tipis. *** Di perusahaan. Ethan pun membuka kotak bekal yang telah Rhea buatkan untuknya. Ia tersenyum sekilas saat melihat makan di kotak bekal di tata sedemikian rupa sehingga terlihat unik. Tak hanya itu, Ethan menemukan sebuah nota kecil antara kotak bekalnya. “Semoga suka dan selamat bekerja” Pak Jack yang sejak tadi berdiri di samping Ethan tersenyum-senyum melihat Tuannya yang sedang membaca pesan singkat dari istrinya. “Wahhh, istri anda sangat perhatian. Sepertinya istri anda sangat mencintai anda.” Ethan menatap Jack sekilas dengan wajah datar. Kemudian Ethan kembali menatap kotak bekal pemberian Rhea dan senyumnya kembali muncul. “Sebaiknya anda jujur pada istri anda jika anda adalah CEO perusahaan Start-up,” kata Jack lagi membuat Ethan mulai kesal. Ethan pun menatap Jack dengan wajah datar dan dinginnya. “Diam,” kata Ethan dengan nada ketus membuat Jack menundukkan kepala dan diam. Ethan pun menghela napas lalu ia kembali menatap nota kecil dari Rhea. Ethan pun meremas kuat nota tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia dekat mejanya. Perkataan Jack membuat napsu makannya hilang. Ethan segera merapikan kotak bekal pemberian istrinya dan tak jadi memakannya. *** Di sisi lain. Rhea sedang membersihkan rumah saat ia mendapatkan telepon dari Bu Rena – istri kedua ayahnya. “Ada apa?” tanya Rhea dengan nada ketus tak bersahabat. Sejak ia mengetahui sifat asli ibu tiri dan saudara tirinya, Rhea mulai tak menyukai mereka. “Apa!” Wajah yang terlihat datar itu pun berubah panik saat Bu Rena memberitahukannya jika ayahnya baru saja kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit. Dengan terburu-buru, Rhea segera berganti pakaian dan keluar rumah menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Tak membutuhkan waktu yang lama saat Rhea tiba di rumah sakit. Kini ia sudah berada di depan ruangan ayahnya. Langkahnya terasa berat saat ia memasuki kamar inap ayahnya. Di ruangan itu, ia melihat ayahnya terbaring tak berdaya di atas ranjang. Lalu ia melihat Bu Rena duduk di sebuah kursi sambil bercermin. Seakan tak ada rasa simpati dan kepedulian terhadap ayahnya. “Bu, bagaimana keadaan ayahku? Apa kata dokter?” tanya Rhea sambil menahan tangisnya. “Kata dokter, ayahmu akan lumpuh. Ia tak akan bisa berjalan lagi dan mungkin cacat seumur hidup,” jawab Bu Rena sambil bercermin. “Apa?” Rhea pun menghampiri ayahnya yang belum sadarkan diri dengan bercucuran air mata. Ia tak menyangka jika akan seperti ini jadinya. Di saat Rhea sedang meratapi nasib ayahnya, tiba-tiba Bu Rena mengeluarkan beberapa dokumen dan menyerahkannya pada Rhea. “Ini daftar biaya keseluruhan ayahmu. Dan juga, jika ayahmu sudah sadar tolong minta dia untuk menandatangi surat perceraian ini.” “Apa! Bu, apa kau sudah gila? Di saat ayah sedang sakit kau ingin minta cerai!” pekik Rhea marah. “Terserah aku dong. Lagian untuk apa aku bertahan pada lelaki yang sebentar lagi akan lumpuh. Aku tidak mau mengurusinya,” kata Bu Rena lalu bergegas meninggalkan ruangan ayahnya. Rhea pun menatap ayahnya yang saat ini masih terbaring tak berdaya. “Itukah wanita yang ayah cintai? Lihatlah, di saat ayah sakit dia malah meninggalkan ayah ...” lirih Rhea. Tak bisa menahan tangisnya, Rhea pun menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan ayahnya yang masih terpasang infus. *** Jam telah menunjukkan pukul delapan malam saat Rhea masih ada di rumah sakit. Ia sedang membaca dokumen pembayaran rumah sakit ayahnya. “Di mana aku mendapatkan uang sebanyak ini,” batin Rhea bingung. Ia tak punya uang banyak untuk membayar semua tagihan ayahnya. Tapi, jika ia tak membayar tagihan, rumah sakit tak ingin merawat ayahnya. Rhea segera membuka ponselnya, dan ia akan menghubungi beberapa kenalannya untuk meminjam uang. Namun, setelah beberapa kenal telah ia hubungi, satu pun tak ada yang ingin meminjamkannya. Kini pandangan Rhea terfokus pada kontak suaminya. “Haruskah aku meminta bantuannya?” batinnya bimbang. Tapi, setelah beberapa menit berpikir. Ia mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan Ethan. “Aku tak bisa meminta bantuannya.” Rhea pun beralih pada kontak selanjutnya. “Rean. Haruskah aku minta bantuannya?” Setelah memikirkan secara matang, Rhea pun memutuskan untuk menghubungi mantan pacarnya untuk meminjam uang. Setelah berbicara cukup panjang dengan mantan kekasihnya, Rean tak bisa meminjamkannya uang. Tapi, Rean menawarinya dengan pekerjaan yang bergaji besar. Menurut keterangan Rean, ia hanya perlu bekerja tiga bulan agar bisa mengumpulkan uang 100 juta. Rhea pun melirik ayahnya yang masih tak sadarkan diri. “Ayah, akhirnya aku menemukan pekerjaan. Aku akan membayar tagihan ayah secepatnya agar ayah bisa dirawat. *** Susuai dengan perjanjian yang Rean buat untuknya, Rhea akan dikenalkan oleh kenalan Rean untuk mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar. Rhea keluar dari mobil taksi dan ia mematung menatap bangunan di hadapannya. “Benarkah di sini?” batin Rhea ragu. Sebab, bangunan yang ada di hadapannya adalah sebuah klub malam khusus para orang kaya yang sedang mencari wanita. “Jangan bilang pekerjaan yang Rean maksud adalah ...” Rhea segera menggelengkan kepalanya cepat. “Mungkin lebih baik aku pergi saja,” batin Rhea semakin ragu. Namun, saat ia memikirkan keadaan ayahnya. Ia kembali menatap bangunan di hadapannya. “Lebih baik aku masuk dulu untuk mengetahui apa pekerjaanku. Mungkin saja, aku hanya ditugaskan untuk sebagai pelayan.” Rhea mencoba menyakinkan dirinya dan memberanikan diri untuk masuk ke klub malam tersebut. Setibanya di dalam, ia segera menemui Rean yang telah menunggunya sejak tadi. Setelah itu, Rean pun mengantar Rhea menemui pemilik Klub malam untuk mendaftarkan pekerjaan. Saat mereka masuk ke ruangan pemilik klub malam, pandangan Rhea langsung menyusuri seluruh ruangan. Lalu pandangannya berpusat pada seorang lelaki paruh baya di hadapannya. Rean segera memperkenalkan Rhea dan meminta untuk dipekerjakan. Lelaki itu pun menatap Rhea dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Wanita ini lumayan cantik, mungkin dia bisa menarik banyak pelanggan,” batinnya. “Ka ... kalau boleh tahu. Di sini aku akan bekerja sebagai apa?” tanya Rhea memberanikan diri. Lelaki itu sejenak menatap Rean lalu kembali menatap Rhea. “Aku butuh seorang bartender seseorang yang membawakan minuman pada pelanggan.” Rasa ragu Rhea pun sedikit menghilang. Dengan cepat, Rhea menyetujui kerja sama mereka dan menandatangi surat perjanjian jika Rhea akan bekerja di klub malam itu selama tiga bulan. Setelah Rhea menandatangi surat perjanjian, wanita itu segera keluar, meninggalkan Rean dan pemilik klub malam mengobrol. “Dia lumayan cantik. Sepertinya dia bisa membawa keberuntungan untukku.” Rean tersenyum. “Tapi dia sudah menikah dan kemungkinan besar tidak perawan lagi.” “Tidak masalah. Selama ia bisa menarik pelanggan untukku,” kata lelaki paruh baya tersebut dan tersenyum menyeringai. Rean segera keluar dan menghubungi istrinya. "Rencana kita berjalan baik. Sekarang Rhea sudah terjebak dan mungkin akan menjadi seorang p*****r di klub malam ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN