6. Gembong Narkoba

1488 Kata
Lissa masih termenung di kamarnya. Tidak ke luar kamar meskipun hari sudah siang. Lissa tidak tahu harus melakukan apa. Seorang pelayan datang dan cukup bingung karena melihat anak majikannya begitu pucat. Lissa memandangi seorang wanita muda yang masuk ke kamarnya, setelah mengetuk pintu. Dia terlihat tampak khawatir, tapi Lissa sama sekali tidak mengenalnya. Lissa hanya tahu ayah dari Clara dan fakta kalau ibunya sudah meninggal. Lissa masih membutuhkan waktu untuk menerima pecahan-pecahan memori yang datang silih berganti. Membuatnya pening luar biasa. Mungkin hal itu yang membuat pelayan itu mengira kalau dirinya sedang sakit. Hal itu tidak sepenuhnya salah. Lissa memang sangat kesakitan ketika bayangan-bayangan itu muncul dan menguji pemahamannya akan sesuatu yang terjadi di pikirannya. Tanpa tenaga, Lissa disuruh berbaring di tempat tidur. Pelayan tadi begitu sigap dan segera menyiapkan segala keperluan Lissa. Dia tentu tidak tahu kalau dirinya bukanlah Clara yang dia kenal. “Kepalaku pusing.” Lissa mengeluh dan menangis. Setiap teringat bagaimana kematian Clara dan seperti apa proses hukumnya membuat Lissa sakit hati dan ikut bersedih. Lissa jadi tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa. “Minum obatnya, aku akan menyiapkan bubur. Kalau tidak membaik, aku akan segera memanggil dokter.” Pelayan yang berusia lebih tua beberapa tahun dari Clara begitu panik. “Clara, aku akan menyetel pendingin udaranya lebih hangat.” Ucapnya kemudian. “Jangan, biarkan saja.” Lissa mencegahnya. “Panggil aku Lissa, jangan Clara.” Lissa tidak mau mengingat bagaimana sedih kehidupan Clara Lissa yang jejak kematiannya ditutupi sampai akhir. Ia tidak mau mereka memanggil dirinya dengan nama Clara. Selain tidak terbiasa, gadis itu merasa sakit kepala setiap mendengar pelayan itu memanggilnya dengan nama Clara. “Oke, jujur aku lebih senang memanggilmu dengan nama Lissa. Lebih enak dilidahku.” Pelayan yang tidak diketahui namanya itu tampak tersenyum. Lissa balas tersenyum tipis dan memilih lebih tenang. Setelah meminum obatnya, Lissa tertidur dan pelayan segera menyiapkan makanan, supaya nanti bisa dimakan oleh anak majikannya itu ketika bangun nanti. *** Tengah malam, seorang wanita sedang mengejar pria yang berlari lebih cepat daripada dirinya. Tidak mau kalah, wanita berjaket anti air itu menambah kecapatan larinya. Memalukan sekali jika kali ini musuhnya kabur lagi. Sudah sebulan lebih Lissa mengintainya dan kali ini dia harus berhasil menangkapnya. Disaat genting seperti ini, Lissa merutuki teman satu timnya yang malah menghilang entah kemana. Ia benci bertugas bersama Dave yang sangat lambat itu, meskipun dia sangat pintar. Setiap bersama dengan Dave, Lissa harus berpikir lebih keras karena kebanyakan Dave tidak berguna dalam misi-misi yang lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik daripada otak. Tidak ada pilihan lain, Lissa melemparkan kayu yang tidak sengaja ia lihat ke arah kepala korbannya. Tidak percuma ia melempar begitu keras dan kuat. Keseimbangan targetnya terganggu dan membuatnya sedikit melambat. Tidak membuang waktu, Lissa langsung menendang pria di depannya hingga tersungkur. Lissa memelintir tangan pria bertopi itu hingga merintih kesakitan. Selesai dengan pelintirannya, Lissa menendang punggung pria tadi hingga terdengar suara mengerikan. “Aaakh …” “Rasakan!” Lissa kembali menendang musuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Suara langkah kaki terdengar, itu Raven dan Dave. Seperti biasa, tidak selamanya memiliki tim pria bisa diandalkan dan menguntungkan. Raven baru hari ini tiba di Paris. Dia yang menggiring musuh untuk masuk ke perangkapnya. Karena kesalahan teknis, Raven mengalami hambatan yang membuatnya tidak dapat membantu Lissa lebih lanjut. Paling tidak Raven lebih berguna dibandingkan dengan Dave. “Aku sudah mengamankan yang lain.” Raven terengah. Segera Raven menyeret pria yang merupakan gembong narkoba itu secara kasar. Tidak ada ampun bagi siapa saja yang mengedarkan narkoba, karena hukumannya adalah kematian. Setelah berhasil menangkapnya mereka akan membawa mereka ke Jersoix untuk diadili. Sangat melelahkan ketika harus menyebarangi banyak negara hanya untuk menangkap salah satu penjahat yang memiliki kaki tangan dimana-mana. Lissa akhirnya bisa kembali ke negaranya dengan damai. Setelah misi ini selesai, ia akan mendapat libur selama setengah bulan. Ia tidak akan membuangnya dengan kegiatan yang tidak berguna. Ia akan pergi ke berbagai tempat wisata untuk menghibur diri. Tidak mudah menangkap gembong narkoba yang memiliki banyak sekali anak buah. Mereka bersembunyi dengan sangat rapi dan sangat sulit dilacak keberadaannya. Meskipun Paris adalah kota cinta yang begitu terkenal, Lissa lebih cinta Jersoix yang merupakan tanah kelahirannya. Ia sudah puas berkeliling di sekitar Menara Eifel dan makan di kedai-kedai yang tersebar sangat cantik di pinggiran jalan. Jangan lupakan ia juga membeli beberapa pakaian besutan rumah mode terkenal di Paris. Akan ada bonus besar yang menanti bagi Lissa. Gajinya bekerja sebagai agen rahasia untuk pemerintahan Jersoix sudah lebih dari cukup, dan ini masih ada bonus setiap berhasil menyelesaikan misi dengan sangat baik. Mungkin Lissa akan tertahan di negara asing itu sampai dua atau empat hari ke depan, karena ada yang perlu dilakukan agar bisa membawa penjahat itu kembali ke negaranya. Lissa kembali ke tempat menginapnya. Suhu sangat lembab karena sepanjang pagi kabut menutupi Kota Paris lalu siangnya turun hujan lumayan lebat hingga malam. Beberapa hari ini Kota Cinta itu memang diguyur hujan. Kali ini Lissa barkunjung di musim yang salah. Dari bulan September sampai pertengahan Desember di Paris mengalami musim gugur, di mana hujan akan sering muncul. Kepala Lissa sering pening setiap melihat hujan. Gadis itu benci hujan, meskipun hujan itu terjadi di tempat yang katanya penuh dengan cinta, tetap saja itu tidak ada bagus-bagusnya bagi Lissa. Kata orang, ketika berkunjung di musim gugur akan disuguhi pemandangan daun-daun yang berguguran, tapi kalau hampir setiap hari hujan itu sangat konyol sekali. Lissa bahkan harus memakai jaket anti air setiap kali mengintai musuh negaranya yang sedang berada di negara orang itu. Sampai di penginapan, Lissa melepas jaketnya. Hampir sebulan di Paris membuat Lissa terbiasa dengan cuacanya yang menjengkelkan itu. Tengah malam ia memanaskan lagi sup buah labu yang dibelikan oleh Raven. Ia memakan setelah memanaskannya, meskipun belum masuk musim dingin, suhu udaranya lumayan rendah. Lissa bersyukur dirinya tidak perlu merasakan waktu yang mundur satu jam di bulan November karena bulan ini ia sudah kembali ke Jersoix. Setelah tubuhnya terasa hangat, Lissa mencari laptopnya dan membawanya sampai ke ranjang. Sebelum tidur ia akan bercakap-cakap dengan River, yang ia kenal lima tahun yang lalu lewat dunia maya. Dulu mungkin River adalah musuhnya, karena River memiliki kecerdasan yang sulit untuk disaingi bahkan oleh Lissa. River adalah orang yang sepanjang minggu dimaki-maki oleh Lissa karena sudah meretas laptopnya dan memberikan virus yang langsung membuat laptopnya rusak. Meskipun perkenalan mereka sangat tidak manis, tapi akhirnya mereka berteman. Setelah mereka berteman, tidak ada niatan untuk saling mengunjungi satu sama lain. Mereka nyaman dengan kehidupan masing-masing. Hanya saja ketika mereka memiliki waktu, River dan Lissa akan meluangkan waktu untuk sekedar bertukar cerita. Mereka merasa memiliki persamaan. Mereka senang meretas program orang lain. Hobby seperti itu memang tidak biasa bagi sebagian orang, tapi River dan Lissa sangat menyukainya. Seperti ada yang menantang ketika ada sebuah sistem yang sangat sulit ditembus. Kebetulan malam ini akun DBigRiver sedang online. “Aku sudah menunggumu.” Terlihat tulisan di layar Lissa. “Menungguku? Untuk?” Lissa segera mengetikan jawaban sangat cepat. “Aku ada misi dan kemungkinan tidak akan berulah lagi sampai tiga atau empat bulan ke depan. Jangan merindukanku, meski aku tahu kau tidak akan merindukanku.” “Oke.” Bukan hal baru jika River menghilang. Dulu, River pernah bilang akan menghilang selama setengah tahun dan ia benar-benar melakukannya. “Aku malah penasaran dengan misi yang kau kerjakan di dunia nyata.” “Bukan sesuatu yang penting. Apa enaknya berbagi ilmu dengan sekumpulan orang bodoh? Bagaimana misimu?” Memang benar mengajari orang bodoh yang tidak memiliki niat untuk belajar atau mencoba sama saja seperti melakukan hal yang tidak berguna. Lissa tahu seperti apa perasaan River. “Berhasil.” “Akan sangat lucu jika gagal.” “Kau mengejekku?” Lissa semakin penasaran dengan lanjutan kata yang akan dibalas oleh River untuknya. “Aku mengatakan kebenaran, bukan?” “Di Jepang sudah jam berapa?” Lissa tahu kalau River berada di Jepang karena sempat bercerita kalau dia sedang bekerja di Jepang. “Jam delapan pagi. Kau tidak tidur? Ini sudah malam sekali di Paris.” “Baru jam satu lebih. Aku biasanya tidur jam dua malam.” “Liz, aku harus segera pergi. Aku akan mencarimu beberapa bulan lagi. Kalau aku masih ingat.” Nama akun Lissa untuk menghubungi River adalah Lizzy. “Aku mungkin sudah kembali ke Jersoix sebelum bulan depan.” River sudah tidak online lagi. Lissa tidak akan memiliki teman bercakap-cakap ketika dirinya sedang jenuh. Mereka biasanya memainkan game bersama atau meretas sebuah sistem bersama-sama. Berbicara dengan River yang jenius lebih mengasyikkan daripada bersama Raven atau Dave. Orang-orang seperti mereka memang akan merasa nyaman ketika berada di sekitar orang yang memiliki jalan pemikiran yang sama. Interaksi River dan Lissa sebenarnya sangat jarang sekali, mereka lebih sering bekerja sama dalam meningkatkan keahlian mereka dalam dunia komputer. Lissa tidak tahu apa pekerjaan River. Bisa jadi ia adalah seorang ahli komputer atau bisa juga dirinya adalah seorang peneliti. Ia sering melakukan perjalanan ke beberapa belahan dunia, sama seperti dirinya yang kadang harus menyelesaikan misi yang membawanya pergi meninggalkan Jersoix, tempat ternyamannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN