12. Sedang Syok

1244 Kata
Di dalam sebuah gedung yang tampak suram, Lissa berlari untuk menemukan jalan ke luar yang tidak kunjung ia temukan. Ia sudah menuruni banyak anak tangga dan tidak pernah sampai ke lantai dasar. Ia masuk lebih dalam lagi untuk menemukan eskalator, tapi semakin jauh ia berjalan maka hanya lelah yang ia rasakan. Lissa tidak tahu bagaimana ceritanya ia berada di tempat ini. Tap. Tap. Tap. Tap. Lissa menghentikan langkahnya. Ia seperti mendengar ada banyak suara langkah kaki. Setahunya ia memang sedang setengah berlari, tapi telinganya mendengar ada suara langkah yang lain dan ia memutuskan untuk berhenti dan mencari siapa yang sedang mengikutinya. Lissa adalah wanita yang pemberani. Meskipun seorang diri, ia tidak merasa takut. Ia tidak percaya hantu dan Lissa tidak akan gentar dengan apa pun yang ada di depannya. “Siapa?” Lissa bertanya kepada siapa saja yang mungkin akan mendengarnya. “Ke luar!” Lissa merasa kalau tidak apa-apa jika menyuruh orang yang mengikutinya untuk menampakkan dirinya. “Cepat ke luar!” “Jangan jadi pengecut!” Lissa jadi geram. “Ini aku ….” Seorang gadis muncul dan perlahan-lahan wujudnya semakin nyata. Lissa bergidik, karena kemunculan dirinya dalam versi yang lebih muda dengan pakaian kunonya. Awalnya tubuh Clara Lissa terlihat samar, tapi lama-lama sosok itu terlihat jelas. Apa Lissa sedang melihat sosok hantu Clara? “Clara?” Lissa memastikan dengan kata-kata yang terdengar sangat ragu. “Aku, Clara. Aku memang pengecut, Lissa.” Clara melangkah semakin dekat dalam keadaan yang menyedihkan. Bajunya sudah berganti menjadi compang-camping, Lissa ingat itu adalah baju yang Clara Lissa kenakan di hari kematiannya. Clara menangis tanpa suara. Lissa yang awalnya ngeri malah menjadi iba kepada Clara yang terlihat sangat memprihatinkan, walaupun masih ada aura kecantikan yang terlukis di wajahnya. Melihat Clara, mengingatkan Lissa kepada dirinya sendiri. Mereka tampak sangat mirip, hanya Lissa terlihat lebih tua daripada Clara. Umur mereka memang sangat jauh berbeda. “Lissa, aku sudah tidak tahan.” “Lissa, tolong aku.” Clara tampak memohon sambil bersimpuh di kaki Lissa. “Lepas! Apa yang kau lakukan?” Lissa tidak mau kalau Clara berbuat seperti itu kepadanya. “Aku akan membantumu, tapi jangan seperti ini.” Lissa mendorong pelan tubuh Clara yang ternyata bisa ia sentuh. “Aku ingin mati dengan tenang.” Clara masih bersimpuh dan Lissa ikut duduk di lantai untuk menatap Clara lebih dekat. “Jangan menangis.” Lissa menenangkan. “Maaf, membuatmu harus berada dalam tubuhku. Kau bebas melakukan apa saja. Aku hanya ingin kau membunuh mereka semua. Aku mati karena mereka.” Clara mengadu. Memang benar teman-teman Eros yang sudah membuatnya celaka. “Apa aku sudah meninggal?” Lissa bertanya kepada Clara yang tampak tidak menjawab. “Tinggalah di tubuhku. Jaga ayahku. Hanya dia yang kumili. Aku tidak setangguh dirimu. Kumohon.” Kembali Clara merengek kepada Lissa yang masih kebingungan. “Jika aku memang sudah mati, maka aku akan tinggal di tubuhmu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa ada di sini.” “Aku tidak apa-apa. Tolong, balaskan dendamku. Agar aku tenang dalam kematianku yang tragis ini.” “Apa aku harus membunuh mereka semua?” Lissa bertanya ragu. Clara Lissa mengangguk tanda setuju. Nyawa harus dibalas dengan nyawa. “Kau pasti mampu melakukannya. Kau lebih kuat daripada diriku.” Lissa tampak diam dalam pemikirannya sendiri, lalu ia pun kembali menatap Clara yang masih meneteskan air mata. Bajunya sudah rusak, Lissa bingung bagaimana caranya agar Clara menemukan pakaian yang layak untuk dipakai. Lissa merasa sangat kasihan. Ia adalah wanita yang masih memiliki perasaan di balik sikap kerasnya. “Bagaimana caramu bisa diperlakukan sangat kejam oleh mereka?” “Aku … aku dijebak. Aku disuruh ke tempat itu dan aku diperkosa. Aku kesakitan, harga diriku lebih sakit lagi. Aku tidak bisa melawan mereka, meskipun aku ingin. Kau tahu Lissa, setelah aku mati tidak ada yang bisa menjerat mereka dengan hukuman. Mereka sangat berkuasa. Ayahku begitu menderita dan aku semakin ingin membunuh mereka semua. Aku terlalu lemah, sehingga tidak bisa menolong diriku sendiri meskipun aku ingin hidup lebih lama lagi.” “Clara, apa dengan membunuh mereka kau akan bahagia?” “Ya. Aku akan sangat berterima kasih sekali kepadamu.” Ada senyum yang tersirat di bibir Clara, meskipun air mata masih menetes di pipinya. Baru Lissa sadari jika baju Clara terdapat noda darah. “Aku … aku akan melakukannya, untukmu.” “Terima kasih, Lissa.” “Kau harus membalaskan semuanya. Aku kesakitan sampai aku mati. Andai aku hidup, aku pasti tidak akan mampu bertahan menanggung malu. Aku senang kau bisa mengerti apa yang kumau. Aku sudah mati, aku tidak bisa membantumu. Aku tidak nyata, Lissa.” Lissa mengangguk, “Aku akan berusaha, demi dirimu.” Ucap Lissa yakin. “Aku merindukan ayahku. Tolong jaga orang tuaku. Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan ibuku. Aku selalu merindukan ibuku.” “Aku tidak memiliki orang tua.” Balas Lissa getir. Lissa tidak pernah tahu siapa orang tuanya, karena dirinya ditinggalkan begitu saja di panti asuhan. “Kau memiliki ayahku yang akan menyayangimu. Aku rela berbagi denganmu. Apa ketika aku dewasa aku akan terlihat seperti dirimu?” Clara meraba pipi Lissa, terlihat sekali sedang memuja sosok yang disentuhnya. “Tolong aku, Lissa. Hanya kau harapan yang kumiliki.” Kembali Clara meneteskan air matanya. “Aku akan membalas rasa sakitmu dengan menghabisi mereka. Itu sudah menjadi pekerjaanku. Tidak masalah melakukannya lagi untukmu.” “Terima kasih, Lissa. Kau harus berjanji.” “Ya, aku berjanji.” “Apa kau melihatku malam itu?” “Ya … dengan sangat jelas.” Lissa berkata lirih. “Aku sangat malu … aku hancur. Jika ayahku tahu pasti akan menambah kehancuranku. Aku bersyukur bisa mati dengan cepat. Meskipun aku ingin hidup, aku tidak mau hidup dengan harga diri yang tercabik-cabik seperti barang usang, tidak berguna.” “Maaf, aku tidak bisa menolongmu … malam itu. Aku ingin, tapi … aku … aku tidak bisa.” “Maafkan aku.” Ucap Lissa lirih. Ketika melihat Clara terluka dan memohon ampunan, hatinya seperti tersayat pisau. Ia ingin menolong tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak tahu ada hubungan apa sehingga dirinya bisa berada dalam situasi yang tidak Lissa mengerti. Wajah mereka begitu mirip. Memang benar di dunia ini ada beberapa orang yang diciptakan dengan wajah yang mirip. Akan tetapi, Lissa tidak mengerti bagaimana caranya mereka bisa terhubung. Apa memang sudah suratan? “Lissa, aku mencintai seseorang. Dia tidak pernah melihatku. Aku sedih, tapi karena kebodohanku semuanya menjadi semakin rumit.” “Siapa orang itu?” “Dia terlalu jauh untukku. Aku hanya ingin mereka semua yang membunuhku mati.” Ada kemarahan ketika Clara mengatakannya. Perlahan wajah Clara membusuk dan dalam sekejap sosok menyeramkan membuat Lissa menjerit. Lalu lantai di mana ia berpijak langsung terbelah. Lissa jatuh ke dalam lubang besar dan semuanya menjadi sangat gelap. Lissa terengah-engah. Jannet terlihat khawatir kepada Lissa yang tiba-tiba menjerit setelah kelelahan dan tertidur di sofa ruang tamu. “Lissa! Lissa! Sadarlah! Kau bermimpi buruk.” Jannet mengguncang tubuh Lissa yang terlihat seperti mayat hidup. “Lissa! Sadarlah!” Jannet segera berteriak, “Bibi! Ambilkan air minum! Cepat!” Dalam waktu singkat Jannet segera memberikan air mineral kepada Lissa yang masih melamun seperti orang yang sedang syok. Lissa tampak tidak bergeming dan Jannet masih berusaha menyadarkan Lissa. “Lissa! Lissa! Minum. Kau hanya bermimpi.” Jannet malah ketakutan karena respon Lissa yang sangat lambat. “Jannet, aku … aku … melihat ….” Lissa terbata-bata. “Minum ini, kau hanya bermimpi buruk.” Jannet dengan sabar mengelus punggung Lissa dan membantunya minum perlahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN