Jannet membantu menaruh barang-barang Lissa ke dalam lemari pakaiannya. Karena berbelanja terlalu banyak Jannet jadi bingung harus menaruh pakaian-pakaian itu di mana. Diam-diam Jannet memasukkan beberapa pakaian lama ke kardus dan menyimpannya ke gudang, agar pakaian baru Lissa bisa masuk sepenuhnya ke dalam lemari. Lissa terlihat masih diam di atas ranjang dengan pandangan kosong. Jannet agak bingung, karena Lissa akhir-akhir ini sering terlihat melamun. Lissa seperti sedang memikikan sesuatu yang sangat berat.
Tadi saja baru sebentar tidur, Lissa sudah menjerit gara-gara mimpi buruk. Jannet hanya menggelengkan kepala. Jannet mondar-mandir menata barang-barang Lissa dan hal itu sama sekali tidak membuat Lissa benar-benar melihat ke arahnya. Gadis itu seperti sedang berada di dunianya sendiri. Jannet yang awalnya tidak peduli, menjadi ingin tahu. Cepat-cepat Jannet membereskan tugasnya. Anehnya Lissa tidak marah ketika ia menyingkirkan sebagian pakaian lamanya. Bisa jadi karena ia tidak sedikit pun memperhatikannya.
“Lissa ….” Jannet mengernyit dan kembali mengulang panggilannya kepada Lissa.
“Lissa ….”
“Hah? Ya?” Lissa tampak tergagap.
Jannet langsung mengambil posisi duduk di sebelah Lissa. Dari dulu ia memang bisa melakukan apa saja bersama Lissa. Bagi Jannet, Lissa adalah majikannya yang bisa memperlakukan bawahannya seperti saudaranya sendiri. Jannet kadang merasa beruntung, karena memiliki Lissa dan keluarga Lavolta yang memperlakukannya dengan sangat baik.
“Akhir-akhir ini kau sering melamun? Apa yang kau pikirkan? Kakak tingkatmu itu?” Tebak Jannet.
Lissa terdiam dan banyak mencerna. Sepertinya Jannet banyak mengetahui. “Aku tidak memikirkan apa-apa.” Lissa tidak mungkin mengatakan kalau dia sedang memikirkan tentang jiwa Clara yang ingin dirinya membunuh orang-orang yang jumlahnya lebih dari dua itu. Bagi Lissa membunuh adalah keahliannya, tapi ia agak … takut dan tidak percaya diri. Pikirannya masih belum sepenuhnya sepaham. Dia tidak bisa langsung menyesuaikan diri terhadap lingkungan barunya. Masih ada perasaan tidak nyaman ketika dirinya merebut hak hidup orang lain.
Lissa juga masih memikirkan soal Raven yang memintanya untuk tidak kembali dan melupakan soal segala misinya. Raven terbunuh dan dirinya tidak tahu seperti apa kebenaran yang belum ia temukan.
“Kau mencoba berbohong kepadaku?”
“Hah?” Lissa kembali tersadar.
“Lupakan kakak tingkatmu itu. Dia hanya akan menjadi luka untukmu. Beda cerita kalau kau mau mengejarnya terlebih dahulu. Kau selalu mengatakan kalau kau tidak berani menemuinya. Bagaimana caranya dia akan mengenalmu kalau dirimu saja tidak mau membuka diri?” Jannet menasihati. “Jika sudah tidak ada jalan ke luar, hal terbaik adalah melupakan.”
“Meskipun itu akan sangat sulit, tapi aku yakin sekali kalau kau bisa melakukannya. Memangnya seberapa tampan pria itu sehingga kau tidak bisa berpaling?” Tambah Jannet.
“Kau tidak tahu?” Lissa bertanya.
“Ck, kau ini sedang mengejekku? Bagaimana aku bisa tahu? Kau tidak pernah memperlihatkan fotonya, bahkan namanya saja tidak kau beritahukan.”
Lissa tersenyum, lalu memilih membaringkan punggungnya. “Dia sangat tampan.” Lissa asal bicara. Lissa tidak peduli dengan pria itu, yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya ia menjadi dirinya yang dulu. Tinggal di tubuh Clara selama beberapa hari, membuatnya menjadi lemah. Alasannya, karena Clara selalu membuatnya memikirkan sesuatu yang merupakan potongan-potongan kehidupan gadis itu. Lissa hanya belum terbiasa.
“Kuamati kau sering sekali tidur. Mungkin karena tubuhmu belum sepenuhnya pulih. Ingin kubuatkan sup ayam?”
“Tidak. Aku hanya mudah lelah ketika ada banyak tugas kuliah.” Lissa mencari alasan yang masuk akal.
“Memang kau akan pusing ketika banyak tugas kuliah. Sudah kukatakan berikan saja kepadaku, aku akan membantumu sebisanya. Meskipun aku hanya seorang pembantu, pendidikanku cukup tinggi.” Jannet memamerkan keahliannya. Dia memang pernah menempuh pendidikan hingga tamat di sebuah kampus. Jannet memilih menjadi asisten tumah tangga, karena pekerjaannya sangat menyenangkan.
“Aku tidak akan bisa pintar, kalau aku bergantung padamu.”
“Kau selalu saja bertingkah mandiri. Aku kadang berpikir seberapa kecil otakmu itu. Kau terlihat sangat membenci kuliah.”
“Memang.” Lissa kembali menjawab asal. Lissa hanya mengikuti alurnya. Akan sangat aneh jika ia merubah cara bicara dan berpikirnya. Akan sangat berbahaya jika dirinya sampai ketahuan.
“Ingin tidur lagi?”
“Ya. Aku masih lelah sekali.” Lissa mulai memejamkan matanya.
Jannet menghela napas dan menyelimuti tubuh Lissa yang agak dingin itu. Sepertinya gara-gara sakit, Lissa masih perlu beberapa waktu agar bisa sembuh. Semoga saja Besok Lissa tidak akan marah, ketika pakaian kesayangannya ia singkirkan.
Ketika Jannet meninggalkan kamar, Lissa langsung membuka kelopak matanya dan meraih laptop. Ia mulai membuka akunnya, dan baru ingat kalau DBigRiver terakhir kali berpamitan akan pergi ke suatu tempat untuk waktu yang lumayan lama. Lissa tidak tahu harus mencari pemuda-pemuda yang membunuh Clara di mana. Mungkin besok ia akan menjelajahi kampusnya yang luas itu. Selama beberapa hari ke kampus, ia tidak melihat mereka.
Bagaimana Lissa bisa menemukan mereka, kampus Clara memiliki lahan yang sangat luas. Ada dua gerbang utama yang jaraknya berjauhan. Gerbang-gerbang itu adalah tempat ke luar dan masuk mahasiswa dan dosen. Tidak akan cukup jika ia menjelajahi area kampus dalam satu hari. Itu akan sangat melelahkan sekali. Mungkin besok ia akan memulai dari yang terdekat, hingga ia bisa menemukan mereka. Akan sangat mudah jika ia mengetahui namanya, sayangnya Clara tidak memberitahu nama mereka. Ponsel Clara masih terkunci. Lissa yakin sekali kalau sandi yang Clara gunakan adalah tanggal ulang tahun pria kesanyangannya itu. Parahnya Lissa tidak tahu siapa orang disukai oleh Clara Lissa. Memikirkannya saja mampu membuat kepalanya terasa sangat pening.
“Clara, tolong tuntun aku menemukan mereka.” Ucap Lissa lirih.
“Aku bingung dengan hidupmu. Hidupku saja sebenarnya sudah sangat rumit.” Lissa mengeluh.
Lissa sedang menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan untuk menemukan pembunuh Raven. Ia mengatakan kalau ada timnya yang berkhianat. Ada banyak orang berada dalam divisinya. Tidak mungkin ia mencurigai semuanya. Raven sudah tiada. Ia tidak meninggalkan sesuatu yang bisa ia selidiki. Ia sangat menyesal atas kematian Raven. Andai ia tidak meninggalkan pria itu, mungkin mereka masih tetap hidup.
Kejadian selama dirinya berada di Paris seperti baru saja terjadi. Ia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya. Andai bisa, ia ingin Raven masih hidup. Berada di tubuh Clara membuatnya tidak bisa berpikir dengan lancar. Ia penasaran apa yang sebenarnya mampu dilakukan oleh Clara. Ini mungkin karena pengaruh fisiknya yang lemah dan daya pikir Clara yang tidak seperti dirinya yang sudah meninggal.
Lissa melihat pantulan dirinya pada cermin. Tidak ada yang mencurigakan. Mungkin ia akan memulai latihan fisik untuk membentuk tubuh Clara menjadi lebih memiliki stamina. Lissa merasakan kalau dirinya sangat mudah lelah. Ia mudah pusing, apalagi setelah mengerjakan tugas kuliah. Ia menahannya, karena ia tidak bisa meninggalkan study-nya.