16. Aura Mengerikan

1189 Kata
Pekerjaan Eros belum sepenuhnya selesai. Ia masih berada di Paris. Setelah kematian Lissa, Eros kembali seperti dirinya yang biasa. Hanya saja, beberapa pengawal merasa kalau Eros semakin dingin dan kejam. Mereka tidak banyak membantah apalagi membuat suatu yang membuat Eros marah. Eros akan berubah menjadi monster yang sangat mengerikan, ketika sedang marah. Baru saja Eros membuang semua makanan di meja makan, karena pelayan yang tidak segera menyiapkan minumannya dengan cepat. Eros melampiaskan perasaan tertekannya dengan marah berlebihan, ketika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Para pelayan semakin ketakutan dan berusaha agar tidak membuat kesalahan lagi. “Tuan, transaksi malam ini sudah diatur. Mereka tidak akan berani melakukan hal-hal yang akan merugikan diri mereka sendiri.” Seorang pria bernama Brizo terlihat sedang melapor. Ada aura mengerikan di sekitar tubuh Eros. Brizo tahu kalau Eros baru saja marah di meja makan. “Bagus. Jika mereka melakukan pelanggaran langsung habisi saja.” “Baik, Tuan.” Ucap Brizo patuh. “Kau bisa pergi.” “Baik, Tuan.” Brizo segera angkat kaki dari ruang kerja Eros yang suram. Ia tidak mau berlama-lama, karena detak jantungnya menjadi tidak normal karena ketakutan. Brizo sudah lama mengikuti Eros, dan baru beberapa hari ini tuannya begitu sadis. Biasanya Eros akan bersikap dingin, tapi sekarang sikap dingin dan sadisnya lebih dari yang biasa ditunjukkan. Brizo tahu kalau ini akibat dari kematian wanita bernama Lissa. Brizo tidak tahu apa hubungan antara Eros dan Lissa. Setahunya Eros tidak pernah dekat dengan siapa pun. Brizo memang sempat kehilangan kontak selama beberapa waktu saat Eros baru mendarat di Paris. Malam harinya Eros harus mendatangi undangan makan malam dengan beberapa orang yang ia kenal. Meskipun tidak terlihat seumuran, Eros terlihat tidak merasa canggung ketika bercakap-cakap dengan orang-orang yang lebih dewasa daripada dirinya dalam sebuah pertemuan besar. Kehadiran Eros merupakan hal yang dinantikan, karena banyak orang ingin tahu seperti apa penerus klan D’Angelo berikutnya. Rumor mengatakan kalau anak tunggal Tuan Nino D’Angelo memiliki kecakapan melebihi ayahnya yang sudah hebat itu. Eros memiliki wajah cantik milik ibunya dan tubuh seperti ayahnya. Meskipun terlihat tampan, pria itu sebenarnya sangat berbahaya. Sudah banyak orang pernah mati di tangannya. Wajar jika selama Eros berada di cara itu, tidak ada satu orang pun yang berani menyinggungnya. Akan menjadi petaka jika mereka tidak sengaja melakukannya. Mereka kebanyakan masih ingin menghirup udara bebas, sehingga tidak mau membuat ulah. Beberapa wanita datang menghampiri, mereka merupakan anak-anak yang dibawa oleh kolega Eros, ada beberapa yang memang sengaja diundang untuk memeriahkan suasana. Eros tampak datar seperti biasa ketika mereka datang menghampiri dan mengajak berkenalan. Eros cukup bisa mengendalikan dirinya, meskipun ia sudah tidak tahan dengan mereka yang terang-terangan tertarik kepadanya. Akan sangat buruk jika Eros terlalu emosi malam ini. Untuk mencegah hal yang tidak ia inginkan, Eros segera kembali setelah makan malam selesai dengan alasan lelah. Tidak ada yang memaksanya untuk tinggal terlalu lama. Acara mereka sudah selesai, meskipun ada yang masih tinggal untuk menikmati acara selanjutnya. Eros sama sekali tidak tertarik. Ia sedang tidak menyukai tempat-tempat yang ramai. “Mormo, kapan aku bisa ke Spanyol?” Sopir pribadi Eros malam ini adalah Mormo yang terlihat seumuran dengan Eros. “Malam ini semuanya sudah disiapkan, Tuan. Jika ingin beristirahat terlebih dahulu besok pagi kita bisa pergi.” “Malam ini saja. Aku ingin berangkat secepatnya dan kembali secepatnya.” “Baik, Tuan.” Mormo segera menghubungi Attis, karena keberangkatan tuannya dipercepat. Mormo paham benar kalau tuannya sedang dalam suasana hati yang buruk. Sepanjang perjalanan Eros tampak jengkel. Mormo hanya menebak-nebak apa yang terjadi di acara makan malam. Eros terlihat jelas ingin membunuh seseorang. Attis langsung panik, karena sebentar lagi tuannya sampai. Ia memerintahkan beberapa pelayan untuk menyiapkan keperluan Tuannya sebelum berangkat malam ini ke Spanyol. “Cepat-cepat!” Attis berseru kepada pelayan. “Aku sudah meminta jalur untuk penerbangan malam ini. Untuk pesawat aman.” Brizo mengabari Attis yang sedang sibuk menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan. “Oke, thanks.” Attis merasa lega. Dalam keadaan buru-buru ia takut kalau ada berkas yang tertinggal. “Apa yang harus kusiapkan lagi?” Brizo ingin membantu. “Jangan bertanya. Kepalaku pusing.” Attis terlihat heboh sendiri. Brizo hanya menggelengkan kepala lalu meninggalkannya. Brizo membantu seorang pelayan memasukkan pakaian dan keperluan tuannya ke dalam bagasi mobil. Itu akan diantar duluan ke bandara. Brizo memerintahkan kepada teman-temannya untuk memastikan kalau penerbangan kali ini akan aman. Beruntung Brizo sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Benar saja, Eros sedang dalam mood yang sangat baik untuk bekerja. Brizo kadang sebal saat Eros rajin seperti ini, karena mereka harus mengimbangi majikannya itu dalam hal mempersiapkan ini dan itu. “Attis, kau ingin kubantu dalam hal apa?” Kembali Brizo menawari bantuan kepada Attis yang masih sibuk itu. “Please, Briz. Jangan berisik.” Attis malah terlihat tidak senang, saat Brizo ingin membantunya. “Jangan panik, kau bisa meninggalkan banyak hal.” Brizo mengingatkan. “Aku sedang berusaha untuk tidak melakukannya.” Attis sama sekali tidak memperhatikan temannya itu. “Memang seharusnya jangan sampai terjadi, kalau kau masih ingin hidup.” Brizo dengan santai duduk di sofa sambil mengamati Attis. “Aku sudah meneliti semuanya, seharusnya tidak ada yang tertinggal.” Attis sudah memasukkan semua dokumen ke dalam koper yang akan dibawanya nanti. “Laptopnya tertinggal.” Brizo menunjuk ke arah laptop di meja. “Iya, aku hampir melupakannya.” Attis segera memasukkan laptop Eros yang sangat mahal itu. “Di mana charger-nya?” Attis bertanya sambil mencari-cari. “Di sini.” Brizo meraih charger laptop di depannya. “Kenapa bisa berada di situ?” Attis bertanya. “Mana kutahu.” Brizo mengangkat kedua bahunya tidak peduli. “Jangan lupakan pena dan kaca mata. Semua ada di laci.” Attis benar-benar lupa belum memasukkan semuanya. “Untung ada kau di sini. Aku tidak bisa membayangkan jika Eros mencarinya dan tidak ada.” “Paling kau akan dibuang ke laut oleh boss kita itu.” Brizo terkikik geli membayangkan Attis yang berteriak ketika di lempat ke laut. “Jangan sampai terjadi. Kau tega melihatku dilahap oleh sekawanan hiu?” “Itu kesalahanmu sendiri. Kupikir-pikir Eros jadi aneh karena wanita itu?” “Siapa? Lissa?” “Iya.” Brizo mengangguk. “Kau tidak akan mengerti, karena kau tidak pernah merasakan jatuh cinta. Aku malah kasian kepada Lissa.” “Aku juga. Apa menurutmu jiwanya akan tenang jika tubuhnya diawetkan seperti itu oleh Eros?” Brizo bertanya ingin tahu pendapat Attis. “Jika aku adalah ayah Lissa, aku lebih senang kalau anakku dimakamkan dengan baik.” Attis buka suara. “Masalahnya Lissa tidak memiliki keluarga. Dia yatim-piatu.” Brizo semakin merasa iba kepada nasib Lissa. “Boss pasti begitu sayang kepada Lissa. Kuakui kalau dia cantik sekali. Andai aku memiliki kekasih atau istri seperti Lissa, aku rela menjadi b***k cinta seumur hidup.” Attis tidak salah soal kecantikan Lissa. “Lissa sangat cantik, lalu mengapa tidak ada orang yang mengadopsinya selama di panti asuhan? Bukannya orang-orang normal akan mencari anak yang cantik atau tampan?” “Mungkin karena nasibnya kurang beruntung. Bahkan ia mati dalam usia yang sangat muda. 28 tahun.” Attis akhirnya menyelesaikan tugasnya dan sudah akan bersiap-siap pergi ke bandara bersama Brizo dan beberapa orang lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN