Mengajar di kelas 11 memang harus ekstra sabar. Kelas 11 adalah masa di mana mereka merasa diri paling berkuasa lantaran baru saja naik tingkat. Hah, ingin rasanya Alyssa pindah kelas saja.
"Shill, lo mau kemana?". Tanya nya pada gadis itu yang sedang meletakkan bukunya.
"Ngantin, ikut gak?". Tawar Shilla.
"Boleh deh! Belum pada istirahat kan?". Shilla menggeleng pelan. Mereka berjalan ke kantin dan duduk bersama Sasa yang sudah terlebih dahulu disana.
"Sa, makan apa?".
"Eh Bumil, ini makan soto. Mau?". Selera makan Alyssa langsung terbit melihat kuah soto Sasa yang kental dan sangat merah menyala. Menggiurkan. Pikirnya.
"Bumil gak boleh makan yang pedes-pedes loh!". Gumam shilla memperingatkan. Alyssa mendengus sembari mengelus perutnya.
"Duduk di sebelah Sasa aja, biar gue pesenin nasi. Lo full hari ini kan?".
"Iya! Thanks Ibu Ashilla". Cengirnya. Shilla hanya tersenyum singkat dan berjalan menuju stand makanan.
"Full Sa?". Sasa mengangguk singkat.
"Capek say, mana pamong gue pergi pelatihan 3 bulan dan belum tau kapan balik". Keluh Sasa. Alyssa terkekeh melihat raut tak enak tersebut.
"Eh lo udah check up belum? Udah tau jenis kelamin nya apa?".
"Udah, tapi gak pernah keliatan. Dia ngumpet terus nih!". Kata Alyssa sembari mengelus perutnya. Semenjak sudah memasuki bulan ke empat, Alyssa mulai mengganti baju pemda nya dengan baju terusan. Tidak lagi pakai rok. Hanya terusan panjang dengan blazer diluar.
"Jahil juga ya dia! Lucu gitu main ngumpet pas kalian mau lihat". Alyssa ikut tertawa, membenarkan ucapan Sasa.
"Hari minggu kemarin gue nelfonin lo tapi gak di angkat, sekitar jam 9 an lah--".
"Lah ngapain? Kenapa gak telfon balik?".
"Lupa hehehe. Kita mau ngajak lo hangout, biar seru. Emang lo kemana sampai gak aktif tu hape?".
"Ih posesif banget lo! Gue ke gereja lah, kemana lagi?". Sasa tercenung mendengar nya. Ia baru menyadari bahwa rekan sesama PLK nya ini berbeda keyakinan dengan dirinya.
"Serius lo?".
"Ya! I'm cristian, lo baru tau ya?". Praktis, Sasa mengangguk.
Tepat saat itu shilla datang dengan dua piring nasi beserta lauk pauk nya. "Wajar sih. Tapi ya gapapa lah! Toh kita kan bhineka tunggal ika". Katanya lagi.
"Harus itu! Kalau gue udah tau, kan bisa ngerti waktu lo sama suami di hari minggu".
"Apa sih? Gue gak ngerti deh". Sahut Shilla.
"Ini loh Shill, kan kita kemarin hangout ke mall. Sekalian mau ajak Alyssa, tapi hape nya gak aktif--".
"Eh iya, itu lo ke gereja kan? Gue juga lupa ngasih tau ke ini anak. Hehehe". Sasa mendelik sebal kepada teman nya itu.
"Miss Alyssa". Seorang siswa memanggilnya.
Ada Mayang dan ketiga temannya menghampiri "Kenapa Mayang?".
"Ehmm, kata anak kelas 10, Miss buka les dirumah, bener ya Miss?". Shilla dan Sasa kontan menatap dirinya.
"Iya. Kenapa memangnya?".
"Boleh kalau kami juga les dirumah, Miss?". Tanya Mayang dengan wajah memelas nya. Alyssa menghela nafas panjang. Ingin menolak, tapi kasian juga.
"Boleh aja. Tapi maksimal lima orang ya. Hari nya jumat siang setelah sholat jum'at aja. Bisa?".
"Kami bertiga bisa, Miss! Nanti Mayang tanya sama dua orang lagi ya, Miss". Alyssa mengangguk patuh. Kemudian mereka bertiga permisi.
"Lo buka les dirumah? Sejak kapan?". Tanya Sasa.
"Baru-baru ini sih. Awalnya karena ngajarin anak Olimpiade. Eh gak tau kenapa malah mereka bisa tau gini".
"Bersyukur dong! Itu rejeki namanya. Rejeki anak lo". Kata shilla santai. Alyssa terdiam.
"Benar juga ya!".
Bel istirahat pun menggema di seluruh penjuru sekolah, kantin mulai ramai dan mereka bertiga memutuskan kembali ke kantor sebelum siswa-siswi berebutan meja kantin.
***
Alyssa keluar dari kantor saat jam pulang sekolah usai, ia sangat lelah mengingat hari ini dia full mengajar. Ia ingin sampai dirumah dan menikmati empuknya kasur.
Saat di gerbang sekolah, Alyssa melihat Rena yang berdiri di samping mobilnya menunggu entah siapa. Tak ingin mengambil pusing, ia mencoba memesan taksi online.
"Pulang dulu ya, Miss!". Itu Vanya dan anak Olimpiade lainnya.
Alyssa tersenyum menyambut kedatangan mereka yang ingin bersalaman dengan dirinya.
"Iya! Hati-hati pulang nya ya!".
Alyssa memperhatikan Vanya yang berjalan ke arah mobil sedan hitam. Tepat dimana Rena berdiri.
Jantung Alyssa berdegub tak karuan.
"Vanya dan Rena, mereka ada hubungan apa?".
"Apa Vanya adik Rena??".
Mobil tersebut melaju meninggalkan sekolah.
"Miss Alyssa!". Ada Ananta yang datang menemuinya.
"Hai Ananta! Apa kabar?".
"Baik, Miss! Miss sendiri? Sehat dong ya! Ponakan saya gimana nih?". Seloroh nya ceria seperti biasa. Alyssa merasa nyaman jika berteman dengan Ananta karena pembawaan pemuda itu santai dan hangat.
"Baik, sangat baik. Ada apa kamu ke sekolah?".
"Gak ada! Cuma ditugasi oleh suami Miss untuk pulang dengan saya saja". Kata nya kalem. Alyssa tak tau hal demikian, rio tak memberi tahu nya.
"Tapi Rio gak ada bilang sama sekali".
"Itu karena dia tau, Miss gak akan melihat hape hari ini. Jadwal Miss penuh kan hari ini?". Mau tak mau Alyssa mengangguk pelan.
Ananta tertawa kecil "Ayo pulang, tapi kita makan dulu ya Buk! Saya laper banget soalnya".
"Boleh-boleh! Makan dimana?".
"Di kafe nya Rio aja. Gimana?". Alyssa ingat, Rio pernah bilang kalau ia memiliki sebuah kafe yang sudah maju sekitar dua tahun ini. Sayang, ia belum sempat berkunjung ke sana.
"Saya ikut saja". Lalu mereka pun pergi menuju kafe milik Rio.
***
"Nan, saya boleh tanya gak?". Mereka sudah sampai di kafe dan memesan makan siang.
"Apa Miss?".
"Kamu kenal Vanya? Anak Olimpiade kelas 10 yang menang dan lanjut ke nasional?". Ananta tampak berpikir lalu mencoba mencari di media sosial nya tentang Vanya.
"Ohh iya, tau tau! Dia adik kelas saya waktu SMP. Kenapa buk?".
"Kamu tau dia punya kakak?". Lagi, ananta mengangguk.
"Namanya Rena kalau gak salah. Dia kerja di perusahaan juga, tapi gak tau dimana". Alyssa mengusap perutnya yang sedikit keram.
"Miss kenal kakaknya Vanya?".
"Sedikit, dia sekretaris dari rekan bisnis Rio di kantor".
"Saya baru tau kalau dia kakaknya Vanya".
"Memangnya dia kenapa, Miss? Tukang rebut pasangan orang kayak di w*****d gitu ya?". Tebak Ananta tepat sasaran. Alyssa terbahak mendengar nya.
Tapi kemudian tatapan nya berubah sendu "Dia suka sama Rio".
Hampir saja Ananta menyemburkan minuman nya kalau saja ia tak menahan diri "Serius? Miss tau dari mana?".
Lalu mengalirnya cerita beberapa hari lalu ketika mereka bertemu dengan Rena yang terang-terangan mendekati Rio dan ketika tadi pagi ia berjumpa dengan Rena didepan sekolah.
"Astaga! Barbar banget cara dia! Gak ngotak tu j****y". Dengus Nanta.
"Vanya les dirumah saya, saya takut kalau nanti Rena bertanya tentang saya ke adik nya itu dan semua rahasia kami terbongkar, Nanta". Lirih Alyssa. Ia tak ingin nama baik rio di sekolah menjadi buruk. Ia ingin rahasia mereka bisa aman sampai hari kelulusan tiba. Setidaknya Rio bisa menjaga nama nya.
Ananta juga tak habis pikir dengan situasi yang mereka hadapi "Semoga saja enggak sampai begitu, Miss".
Alyssa hanya bisa mengaminkan ucapan sahabat suaminya itu.
***