Immanuel Gildan menatap langit yang tampak pekat dan suara dentuman dari ledakan bercampur desingan peluru samar-samar sampai ke telinganya. Alisnya terangkat, menerka-nerka siapa yang memiliki nyali dan persiapan matang untuk menyerbu langsung ke hadapan Benteng Dallas.
"Ini pasti ulah Distrik Sopa."
Maru berdiri di sisi Immanuel Gildan dengan mata menatap asap pekat di langit. "Mereka benar-benar merepotkan sejak era Jenderal Akram. Jenderal terlalu baik membangun permukiman itu kembali setelah Jenderal Akram menghabisinya tanpa sisa.”
Immanuel Gildan menggeleng lemah. Dia menundukkan kepala, tersenyum pahit. "Yang aku dengar pula, Jenderal Akram telah membunuh massal pemberontak ini sampai ke akar. Apa yang terjadi?"
Kedua bahu Maru terangkat acuh. "Ada sesuatu di balik kejadian ini. Mereka tidak akan seceroboh ini dalam bergerak. Terlebih yang mereka hadapi Jenderal Levant. Kau tahu, dia lebih kejam dari Jenderal Akram. Bertangan dingin dan bengis. Mereka cari mati."
Maru menarik napas panjang. "Jenderal Akram memberi kelonggaran bagi para pengkhianat negara untuk mediasi. Hanya saja, kekeraskepalaannya mengalahkan semua masukan. Pada akhirnya, peraturan Dalla tetap keluar sebagai pemenang."
"Dan Jenderal Levant memberi kelonggaran yang membuat kita harus waspada. Kau sendiri tahu, Jenderal Levant tidak meminta pasukannya untuk menyerang persembunyian kita. Dia mampu, aku yakin dia sangat mampu. Ini yang membuatku cemas karena kita tidak pernah tahu isi kepala seseorang. Termasuk kepala Jenderal satu itu.”
Immanuel Gildan menoleh pada Maru yang memasang ekspresi cemas amat kental. Sudut bibirnya tertarik, dia tersenyum hangat ketika tangannya mengusap pucuk kepala Maru layaknya seorang kakak tertua. "Aku mengerti benar bagaimana rasa cintamu yang besar terhadap kebebasan dan ideologi yang kau anut sejak kau kecil. Hanya saja, lain kali kau harus berhati-hati dalam bicara dan bertindak. Aku percaya padamu." Immanuel Gildan menepuk bahunya dan berlalu pergi.
Maru menghela napas sekali lagi. Kepalanya menengadah menatap langit yang tampak kelabu karena tertutup asap pekat berbentuk gumpalan yang berasal dari peledak berkekuatan tinggi militer Dalla. Peledak ini tidak menimbulkan efek suara yang luar biasa keras, namun kekuatan yang dihasilkan benar-benar mengerikan. Hampir seperti nuklir saat perang dunia kelima, peledak ini mengandalkan cahaya terang yang menyilaukan mata dan mampu membuat tubuh manusia yang terkena cahaya ini berubah menjadi abu dalam sekejap mata.
Senjata ini yang dihindari mereka, Organisasi Partai Merah.
Maru berlari masuk ke dalam gudang kosong bekas pesawat penumpang pasca perang dunia kelima dengan tergesa-gesa. Dia menemukan Immanuel Gildan sedang duduk dan menggambar sesuatu di atas kertas kosong.
"Bagaimana kalau kita menyelamatkan Green Ariana?"
Alis Gildan terangkat. "Maru, dia sudah dihukum mati."
Kepala Maru menggeleng. "Saat aku menyusup ke dalam rumah sakit jiwa, Green Ariana terkurung di dalam. Di kamar isolasi bersama pasien kejiwaan lainnya. Dia pantas disebut boneka. Tubuhnya menua dan tatapannya benar-benar kosong. Aku masuk ke dalam kamarnya setelah Panglima Sai melakukan pengecekan rutin."
Kening Immanuel Gildan berkerut. "Boneka? Dia hanyalah tubuh tanpa jiwa? Dia seperti cangkang yang kosong?"
Kepala Maru mengangguk yakin. Dia menipiskan bibir, mendekati Immanuel Gildan dan berlutut di samping pria itu. "Maafkan aku karena lancang, tapi aku benar-benar mencurigai Green Ariana sejak dia datang ke tempat persembunyian kita sebelumnya. Aku selalu mengendap-endap mendengarkan percakapan kalian." Maru menunduk, tidak berani menatap mata Immanuel Gildan yang berubah tajam.
Immanuel Gildan memejamkan mata. Menarik napas panjang. "Maru, perlu kutekankan bahwa Green Ariana berbahaya. Dia picik dan mengerikan. Kita harus berhati-hati," Gildan terdiam sebentar. "Aku tertarik dengan maksud ucapanmu tentang cangkang kosong dan Ariana hidup tanpa jiwa. Kita bisa menjadikannya boneka untuk membuat lengah Letnan Edsel."
Kepala Maru menoleh. "Letnan Edsel?"
Immanuel Gildan mendesis pelan. Dia bersandar pada kursi kayu itu seraya menghela napas panjang. "Mereka adalah sahabat sejak kecil. Mungkin, jika aku boleh menyebutnya begitu. Letnan Edsel jelas menaruh perasaan pada Green Ariana yang tangguh dan bukan berasal dari keluarga sembarangan. Dia sangat mandiri, cekatan dan pintar. Letnan Edsel tidak punya alasan untuk tidak jatuh cinta padanya."
Maru mendengarkan dalam diam.
"Saat usia Letnan Edsel lima belas tahun, dia dibawa ke dalam Benteng Dallas untuk seleksi menjadi anggota militer hitam. Letnan Edsel awalnya menolak, tapi karena melihat kemampuannya jauh lebih rendah dari Green Ariana, dia terpacu untuk menjadi orang yang lebih baik."
Immanuel Gildan tersenyum tipis menatap raut bingung yang jelas di wajah Maru. "Sara yang menceritakan ini semua padaku. Dan pada akhirnya, Green Ariana mengakuinya."
"Tapi pada akhirnya kecintaan Letnan Edsel yang berasal dari Distrik Rose yang telah punah begitu kental pada Dalla, dia mencoba membunuh perasaannya sendiri terlebih Green Ariana membencinya karena pangkat Sang Letnan yang menurutnya menjadi sandungan terbesar baginya untuk menggulingkan kekuasaan Sang Jenderal."
Maru memberanikan diri membuka suara. "Apa kau yakin kalau perasaan Letnan Edsel masihlah sama?"
Immanuel Gildan mendengus pelan. Dia mengangguk samar menatap kertas di atas meja seadanya. "Lima tahun lalu, saat Green Ariana sekarat di tangan Jenderal, Letnan Edsel menyelamatkannya. Dan dia harus bertarung dengan Sang Jenderal untuk meminta ampun dan keringanan bagi gadis yang dia cintai."
"Jadi—" Maru menahan napas. "—lima tahun lalu Green Ariana masih hidup berkat tangan Letnan Edsel?"
Kepala Gildan mengangguk lagi. "Jenderal menyuruh Sara untuk mengobatinya. Hanya mengobati, tidak membantu Green Ariana melarikan diri. Tapi Sara dan Letnan Edsel bekerjasama untuk membawa Ariana lari dari kejaran Sang Jenderal."
"Aku pikir seharusnya Jenderal dan Letnan bertengkar atau Jenderal membunuh Letnan Edsel detik itu juga saat dia tahu."
Immanuel Gildan tersenyum pahit. "Kau tidak tahu bagaimana berpengaruhnya dua tangan kanan terbaik itu di dalam kehidupan Sang Jenderal, Maru. Letnan Edsel adalah Letnan terbaik di kelasnya. Dia tidak akan mudah dibuang begitu saja saat Jenderal membutuhkannya di dalam tubuh pemerintahan dan militer.”
Maru mengerjap berulang kali dan dia memundurkan kepala, mulai paham akan situasi yang terjadi.
"Tapi, Sara adalah bagian dari kita. Apakah Letnan Edsel tahu?"
Immanuel Gildan mengangguk samar. "Kesepakatan di antara mereka berdua terjadi. Letnan Edsel jauh lebih dulu tahu tentang Sara yang berasal dari kami. Karena Sara berperan besar menyelamatkan Green Ariana, jaminan rahasia identitas dirinya ada di tangan Sang Letnan hingga akhirnya Jenderal tahu dan dia membunuh Sara di depan mataku."
Maru tersenyum parau menatap ekspresi dingin Immanuel Gildan. "Perasaan seseorang tidak mudah terhapus walau ratusan jam telah berlalu dan sayangnya, semua bisa berubah semudah membalik telapak tangan."
Genggaman Gildan pada penanya mengencang tanpa sadar. Dia mengabaikan Maru dan beranjak pergi untuk mengambil minum. Meninggalkan Maru yang termenung sendiri, menyadari letak kesalahannya.
Dia sudah salah bicara.