36

1755 Kata
Immanuel Gildan menahan kunyahan di dalam mulutnya saat dia mengintip bagaimana Athena yang tak berselera menyentuh makanannya sendiri. Gadis itu hanya menunduk, menatap makanannya tanpa minat dan memejamkan mata sendu. Alis Immanuel Gildan mengernyit halus. Dia samar-samar mendengar suara helikopter yang terbang di sekitar mereka. Dia segera beranjak, berlari menuju anggotanya yang tampak telah siap dengan senjata mereka. Ini terhitung sudah lima jam Immanuel Gildan berhasil membawa Athena lari dari rumah sakit. Rekor yang cukup lama sampai militer hitam Dallas memburunya seperti predator berdarah dingin. Bukankah Athena tidak lagi berguna? Immanuel Gildan mengernyit pada Maru yang menunduk, menatap tanah yang bergetar di bawah kakinya. Mengumpat pelan, dia mendobrak pintu baja di belakang persembunyian mereka dan menarik Athena yang kebingungan untuk menjauh dari sana secepat mungkin. "Gildan, apa yang terjadi?" Kepala Athena dengan cepat menengadah ke atas. Dia mengernyit menatap baling-baling helikopter yang berputar keras cukup jauh di atas mereka dan Athena terpaku selama beberapa detik karena terkejut. "Militer hitam Dallas?" Immanuel Gildan mengangguk pelan. Dia merangkum kedua pipi pucat Athena dengan lembut. "Dengar, kita berdua tahu kalau aku sama saja bunuh diri dengan membawamu lari dari Jenderal. Tapi, aku punya tekad yang kuat membawamu lari dari neraka di dalam Benteng Dallas itu, Athena. Aku mencintaimu. Dan kau akan menjadi satu-satunya yang berharga selain Partai Merah. Kau. Hanya kau." Athena terdiam mendengar penuturan Immanuel Gildan yang penuh rasa sakit. Tatapan Gildan turun pada perutnya dan hantaman rasa bersalah itu begitu pekat mengental di sepasang matanya. Tolong. Jangan katakan? Athena tersentak saat dia hendak bicara, tetapi misil diledakkan di dekat mereka. Membuat Athena hampir terhempas saat Immanuel Gildan memeluknya, melindunginya dari benturan keras yang bisa melukai kepalanya. "Larilah ke dalam hutan. Aku akan menemuimu jika ini semua selesai.” Athena menahan napasnya dengan gelengan kepala. Sungguh, Immanuel Gildan ingin memeluknya sekarang. "Aku janji. Aku akan bicara banyak padamu setelah ini, Athena." Athena mengangguk lemah dan dia harus memaksakan diri untuk tenggelam ke dalam hutan pohon pinus demi menyelamatkan diri. Sang Jenderal melompat turun dari tank militernya. Dia menyipit, menatap bagian depan markas persembunyian Immanuel Gildan yang hancur sebagian. Sang Jenderal meraih senapan laras panjang miliknya. Dia membidik dengan salah satu mata tertutup pada sosok pria yang bersembunyi dan menargetkan dirinya sebagai sasaran peluru jauhnya. Satu peluru meletus dan pria itu seketika tewas akibat luka tembakan di kepala. Sang Jenderal memindai seluruh persembunyian dan dia tidak menemukan dimana Athena berada. Itu berarti, Immanuel Gildan sudah membawanya pergi sebelum pasukannya datang menyerbu. Helikopter yang terbang di atasnya membuat kepala Sang Jenderal menengadah. Dia mengangkat tangan, memberikan kode pada pilot untuk mengejar kemana Athena pergi karena dia mendengar langkah yakin dari seseorang dibalik runtuhnya bagian depan markas mereka. Letnan Edsel melompat turun dari jeep militer bersama Panglima Sai yang berdecak puas menatap pemandangan porak-poranda di depannya. "Aku terlambat melewatkan yang satu ini." Dia mengerang kecewa dan Letnan Edsel memiringkan kepala, mencari penyusup yang bersembunyi di balik pohon pinus guna bersiap menembakkan peluru ke anggota tubuh mereka. Panglima Sai memberi kode mata saat dia menyuruh penembak terbaik militer Dallas untuk bersembunyi di tempat mereka sampai di antara mereka bertiga memberi perintah untuk menembak. Sang Jenderal menurunkan senapan laras panjangnya menatap Immanuel Gildan yang berjalan tenang dengan senyum di bibirnya. "Lama tidak bertemu, Jenderal—" alis Immanuel Gildan terangkat dan dia terkekeh pelan. "—maksudku, Levant. Amante Levant." Letnan Edsel mengetatkan rahang dan Panglima Sai yang bersandar batang pohon pinus memicing tajam padanya. "Aku yakin kau sadar apa yang kau katakan baru saja, Immanuel. Bersikaplah sopan.” Sudut bibir Immanuel Gildan tertarik puas. "Aku baik-baik saja, Panglima Sai. Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku," tatapan Gildan jatuh pada bagian d**a yang terlindung seragam militer Dallas. "Bagaimana dengan bekas luka bakarmu? Aku harap bekas itu akan hilang seiring kita yang bertumbuh dewasa." Panglima Sai mengumpat pelan. Dia menurunkan tangannya, bersiap menghampiri Immanuel Gildan saat Sang Jenderal menekan moncong senapan laras panjangnya ke tanah dengan ekspresi marah. "Di mana Athena?" Kening Immanuel Gildan mengernyit. "Athena?" Dia mengembuskan napas panjang. "Mungkin, yang kau maksud Karenina, Jenderal?" Mata biru laut Letnan Edsel berubah gelap. Dia mengamati ekspresi santai Immanuel Gildan yang terlewat biasa. Dan napasnya tertahan ketika dia bertemu pandang dengan Panglima Sai yang memiliki pikiran sama. "Ingatanmu kembali?" Immanuel Gildan menatap tajam ke arah Letnan Edsel. "Apa kau ingat sekarang, Letnan? Aku menduga kalau kau tidak akan pernah lupa dengan pertempuran kita. Dan, ya. Ingatanku kembali. Kenapa? Kalian terkejut? Apakah aku tidak berhak mendapatkan separuh ingatanku yang hilang karena kekejaman kalian?” Bibir Panglima Sai menipis ketat. "Jadi ini alasannya kenapa kau membuat Ami sekarat di ruangannya sendiri. Kau mencuri ekstra penawar agar ingatanmu kembali. Sungguh licik, Immanuel.” Maru menatap Panglima Sai penuh kebencian. Dia berbisik pelan, dan Panglima Sai memiringkan kepala, menatapnya tajam dan dingin karena Panglima itu mendengarnya bicara. "Aku menduga kalau kemampuanmu jauh lebih mengerikan dari ukuran tubuhmu." Panglima Sai berbisik dingin dan Maru bergetar menahan marah luar biasa. Dia tentu tidak akan bisa menghajar Panglima Sai seorang diri karena kemampuannya begitu luar biasa. Maru tidak mungkin menang melawannya. Immanuel Gildan berpaling pada Jenderal yang menatapnya dingin dan tak terbaca. Immanuel Gildan tidak lagi perlu bersusah-payah menebak apa yang Jenderal pikirkan karena memang pria terkuat di Dalla itu tidak bisa terbaca dari segi mana pun. "Di mana Athena?" Immanuel Gildan mendecih dingin. "Bermimpilah kau bisa mendapatkannya kembali." Sang Jenderal bergeming di tempatnya saat Immanuel Gildan mengarahkan senapannya tepat ke arah dahinya. "Aku tidak akan membiarkan Athena mati seperti Karenina. Tidak, Jenderal. Berhentilah bermimpi.” Panglima Sai menoleh dengan mata memicing tajam. Letnan Edsel hendak merangsek maju saat tangan Sang Jenderal terulur guna menahan langkahnya. "Kau hanya menduga-duga, Immanuel Gildan. Karenina mati tidak di depan matamu." "Siapa yang tahu?" Immanuel Gildan menurunkan moncong pistolnya dari Sang Jenderal dan beralih pada Letnan Edsel. "Selama ini saksi hidup kematian Karenina hanyalah kau, Letnan Edsel dan Panglima Sai." Letnan Edsel menatap Immanuel Gildan tajam dan pria itu sama sekali tak gentar. "Sayang sekali, Jenderal. Kau melupakanku." Immanuel Gildan menyentuh dadanya dengan sebelah tangan. "Kau juga tidak akan pernah lupa dengan bekas sayatan benda tajam di dadaku, Jenderal. Dan ini karenamu." Sang Jenderal menatapnya datar seolah ucapan Immanuel Gildan tidak berefek apa pun padanya. "Aku tidak akan mengulang pertanyaan yang sama, Immanuel." Jenderal membidik ke atas pohon pinus dengan satu matanya dan dia berhasil membuat satu anggota Partai Merah tewas setelah terjun bebas dari ketinggian pohon pinus dengan luka tembakan di d**a karena berani mengarahkan moncong pistol miliknya kea rah Sang Jenderal yang pasif. Panglima Sai menatap Immanuel Gildan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah siap meremukkan Sang Jenderal. "Sekuat apa pun kau mencoba, sebaiknya kau berhenti." "Aku tidak akan bicara dengan manusia yang bukan tandinganku." Panglima Sai menggeram marah. Kemudian dia tertawa pahit. "Kau benar. Kau benar-benar sekarat hanya saat Jenderal turun tangan. Kemampuanmu setara dengan Letnan Edsel. Tidak tahu bagaimana sekarang." Immanuel Gildan. "Mungkin kau ingin mencoba lebih dulu? Tidak ada yang tahu kapan waktu merubah segalanya. Mungkin sekarang kau jauh lebih hebat?” "Berhentilah bicara omong kosong," Jenderal kembali menekan senapan miliknya ke atas tanah. Mengistirahatkan kedua tangannya di atas senapan itu dengan tatapan dinginnya menyapu wajah murka Immanuel Gildan. "Aku tidak bodoh, Jenderal. Kau sengaja membiarkanku tanpa perlu melukaiku atau saat aku menyerang bentengmu, yang kaulakukan hanyalah bertahan dan melakukan serangan pada anggotaku. Bukan padaku." Immanuel Gildan tersenyum dingin. "Apa ini artinya rasa terima kasihmu padaku masih ada? Sebagai teman lama, mungkin?" Letnan Edsel menjejalkan sepatu boot miliknya berjalan menyusuri sisi jalan yang hancur dan anggota Partai Merah langsung menghadangnya. Saat Letnan Edsel memiringkan kepala, dia melihat Athena bersembunyi di balik pohon dan reruntuhan markas bekas gudang milik Organisasi Partai Merah. Jenderal meliriknya dan Letnan Edsel menganggukkan kepala. Sang Jenderal kembali pada Immanuel Gildan yang mengetat menahan marah ketika Jenderal melangkah menuruni jalanan curam dengan santai dan memikul senapan laras panjang miliknya di bahu. Manik hijau Athena melebar penuh saat dia mendengar suara langkah sepatu boot sampai ke telinganya. Dia mundur perlahan-lahan, menunduk menatap duri yang berasal dari semak-semak belukar ketika dia siap melarikan diri, seseorang menarik belakang pakaiannya dan Athena ditarik keras, hingga tubuhnya membentur d**a seseorang yang bidang dan kokoh. Athena hendak memutar tubuhnya ketika tangan kekar itu melingkari perutnya dengan hati-hati. Memeluknya dari belakang. Aroma ini, Athena tahu siapa pemilik aroma ini. "Jenderal?" Kepala Jenderal menunduk ke bawah. Tenggelam di dalam balutan kelembutan pakaian lusuh Athena. Di saat satu tangannya memegang senapan dan satu lagi memeluknya erat. "Kau beruntung karena tidak terluka. Kenapa kau begitu keras kepala dan selalu melawanku?” Athena membuka mulut untuk menyela tetapi Sang Jenderal membebat tangannya, membawanya naik ke atas dengan langkah kecilnya yang terseret-seret. Dia mencoba meronta, namun genggaman tangan Sang Jenderal sangat kuat dan kaku. Seolah Athena diborgol dengan borgol besi yang kokoh. Immanuel Gildan menatap nanar pada Athena yang kini terduduk di atas tanah. Tepat di bawah kaki Sang Jenderal. "Jangan perlakukan dia seperti Karenina. Dasar kau Jenderal biadab!" Karenina? Athena mendongak mencari-cari di mana mata Immanuel Gildan saat dia baru saja berteriak nama Karenina. Apakah Gildan mengenal wanita itu? Sang Jenderal mendengus tipis. Dia menunduk, menatap puas pada ekspresi bingung Athena yang luar biasa. "Aku tahu ini akan terjadi. Dimana kau merasa di atas awan dan bebas karena militer hitam Dallas seolah memberikan kebebasan untukmu melancarkan aksi gilamu." Kepala Sang Jenderal menggeleng. "Sekali pengkhianat tetaplah pengkhianat." "Diam kau." Immanuel Gildan mendesis dingin pada Jenderal berwajah kaku di hadapannya. "Aku semakin yakin kau mengambil Athena dariku karena ingatan tentang Karenina masih melekat erat di dalam kepalamu." Athena terdiam. Begitu pula dengan kedua tangan kanan terbaik Sang Jenderal. Mereka membisu menyaksikan bagaimana Immanuel Gildan yang kembali berapi-api setelah lama memendam diri. "Kau mengenal Karenina?" Jeda cukup lama tercipta saat para militer hitam Dallas dan anggota Partai Merah bersiap di tempat mereka namun belum ada yang memberi perintah untuk melancarkan serangan. Immanuel Gildan menatap penuh rasa bersalah pada Athena yang menatapnya menuntut jawaban. Sang Jenderal menunduk, guna menatap sekilas ekspresi terluka sang istri yang membuatnya menggeram tanpa sadar. Immanuel Gildan melarikan matanya dari sorot terluka milik Athena yang menatapnya pecah. Dia kembali menatap giok pekat milik Jenderal dengan napas memburu. "Kenapa kau diam? Apa dugaanku ini benar?" Immanuel Gildan berpaling pada dua tangan kanan Sang Jenderal yang menatapnya tajam dan siap membunuh. "Dan kalian berdua tahu tentang ini." "Diam, Immanuel." Immanuel Gildan menyipit pada Letnan Edsel dan dia bergegas kembali pada Sang Jenderal dengan sorot tak kalah tajam. "Jangan lupakan ini, Jenderal. Bahwa kau dan aku terluka karena satu orang yang sama. Karena Karenina—" "—termasuk Letnan Edsel dan Panglima Sai. Kita, keempat dari kita terluka dan mati karena Karenina."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN