27

2297 Kata
Athena terbangun di tengah malam. Saat hujan begitu deras mengguyur kota Dallas dan dia mengerjap, mencoba menyingkap selimutnya saat dia menyadari dia sendirian di dalam kamar. Pemanas telah dinyalakan. Udara hangat melingkupi sepanjang kamar dan Athena beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu, menemukan militer hitam berjaga di sudut tangga. Dia melangkahkan kakinya turun dan mendengar suara gemuruh dari langit samar-samar masuk ke dalam rumah. Athena berjalan, mengintip kaca jendela belakang rumah saat dia menemukan Sang Jenderal sedang berdiri dalam diam, memunggunginya. Bukan—bukan itu yang menjadi fokus Athena. Tetapi pada bekas luka cambukan di belakang punggungnya yang masih baru dan membekas merah sedikit pekat. Athena meringis dalam hatinya. Dia berjalan, hendak membuka pintu dan menunggu di tepi teras dari hujan yang mengguyur karena Sang Jenderal sama sekali tak terpengaruh dengan jutaan air hujan yang mengguyur tubuhnya. "Biarkan saja." Suara Letnan Edsel yang berasal dari luar rumah menyapanya dingin. "Dia hanya butuh waktu." "Kau kembali mencambuknya?" Letnan Edsel hanya diam. "Kenapa kau mencambuknya?" Letnan Edsel menatap datar kedua mata Athena. "Karena ini keinginannya." "Tidak ada keinginan yang seburuk dirinya untuk meminta orang lain melukai tubuhnya sendiri," Athena menggelengkan kepala miris. "Apa yang terjadi?" Letnan Edsel mengangkat satu alisnya tinggi. "Apa yang terjadi?" Sudut bibirnya tertarik dingin. Letnan Edsel menyapu pandangannya dengan sorot mengancam pada Athena. "Tidak ada yang lebih kelam dan menyakitkan dibanding masa lalu kami. Aku, Panglima Sai dan bahkan Jenderal itu sendiri." Alis Athena saling menekuk tajam. "Dan aku rasa Mia ada hubungannya dengan ini semua." Athena mendesis dan ekspresi Letnan Edsel berubah kaku. "Dia punya warna mata yang sama dengan Sang Jenderal. Rambut yang hampir mirip dengan warna rambutku maupun rambut Dokter Sara di masa lalu. Siapa dia sebenarnya?" "Kau sudah terlalu jauh menilai situasi yang tidak mungkin bisa kau pecahkan seorang diri. Dan, ya, mata Mia senada dengan warna mata Sang Jenderal. Tapi apa kau lupa bahwa mata Mia juga mirip dengan mata Panglima Sai?" Athena membeku di tempat. Letnan Edsel tersenyum hampa. Dia berlalu setelah meninggalkan Athena dalam kebisuan yang menyakitkan. Athena memejamkan mata, menahan debaran di d**a ketika menatap punggung penuh bilur luka itu dan berbalik pergi menuju kamar. Tiga puluh menit Athena menunggu dengan antisipasi dan tiga puluh menit itu juga dia merasa lepas kala melihat sosok Sang Jenderal memasuki ruangan dengan tubuh setengah mengering. Tanpa perlu menutupi ketelanjangan dadanya, Sang Jenderal masuk ke dalam kamar tanpa menatap Athena yang duduk menunggunya. "Kenapa kau belum tidur?" Sang Jenderal terdiam di depan pintu kamar mandi. Athena menghela napas panjang. Dia bisa tetap diam untuk tidak membalas ucapan Sang Jenderal dan memilih bersikap acuh. "Aku terbangun." Sang Jenderal meraih handuk bersih. Melingkarkannya di sepanjang leher kokohnya. "Ini hari yang baik bagimu karena kau bertemu dengan kekasih lamamu di sore hari." Mata Athena membelalak terkejut. Dia berdiri, menatap punggung Sang Jenderal ketika dirinya memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan Athena mendesis dingin sebagai reaksi. Sang Jenderal melepas seluruh pakaian yang tersisa menempel di tubuh kokohnya. Dia membiarkan pancuran air hangat membanjiri sepanjang tubuhnya guna membilas sisa air hujan yang menempel. Matanya terpejam ketika dia mendengar pintu kamar mandi terbuka lebar. Alis Sang Jenderal terangkat naik saat sang istri merangsek maju dan berdiri menantang di hadapannya. Tubuhnya ikut basah karena terpaan air pancuran. Sang Jenderal mendengus pelan menahan tawa meledek. "Kenapa kau sangat keras kepala?" Dia membuka mata, menilai bagaimana basahnya sang istri sama seperti dirinya. Pakaian tidurnya menipis ketat karena air dan bibir pucat itu bergetar. Rambut sebahunya ikut basah dan air menetes dari ujungnya ke lantai. "Apa kau terus memata-mataiku dengan apa yang aku lakukan?" Athena mendesis dingin. "Kau berpikir kau bisa terus mengawasiku dan aku merasa tidak punya privasi di dalam kehidupanku sendiri. Kau benar-benar membuatku marah." Napasnya terengah-engah dan Sang Jenderal menatap dingin pada matanya. Kemudian, merambat turun pada d**a naik turunnya dan kembali ke perutnya yang rata. "Aku bahkan tidak lupa dengan kesepakatan kita, Jenderal. Berhentilah bersikap kekanakkan hanya karena kau takut aku sewaktu-waktu meninggalkanmu." Kepala Sang Jenderal miring ke kanan, mengamati ekspresi marah luar biasa dari sang istri dengan tatapan tajam. "Lalu? Apa yang bisa menjamin kau tidak akan lari dari kesepakatan kita?" Athena menggeram parau. Dia menunjuk perutnya sendiri dengan telunjuknya. "Kau lihat ini? Aku sedang mengandung. Dan anak adalah jaminannya. Aku tidak mungkin lari di saat aku sedang mengandung anakmu!" Sang Jenderal mendesak tubuh mungil istrinya bersandar pada tembok. Dia mengangkatnya, menjauhkan kedua kaki Athena dari lantai ketika bibir panas Sang Jenderal mengecupi sepanjang leher dan bahunya. Memberikan tanda samar berupa gigitan sensual dan Athena berusaha menahan diri agar tidak merintih. "Aku b*******h padamu malam ini." Sang Jenderal berbisik parau di depan bibir bergetar sang istri yang kemudian memagutnya lembut, berubah panas dan liar saat bibir manis itu membalas pagutan panasnya tak kalah liar. Athena memundurkan wajah. Menggeleng parau ketika dia mencoba bicara di saat tubuhnya berkata lain menikmati sentuhan telapak tangan Sang Jenderal dimana-mana. "Aku belum selesai denganmu." Sang Jenderal tersenyum dingin. Dia menarik gaun malam Athena dan membiarkannya teronggok tak berdaya di atas lantai. Penampilan sang istri sama polosnya dengan dirinya. Namun, Athena berusaha tidak peduli saat tubuhnya tanpa sadar menggeliat pada dasar tembok menahan sentuhan tangan Sang Jenderal di dadanya. "Kau bisa memarahiku sepuasmu nanti. Saat kita berdua sama-sama menuntaskan hasrat yang sudah terlanjur tinggi ini." Sang Jenderal mendesak tubuh istrinya yang siap menerimanya di bawah pancuran air hangat yang masih setia mengalir, membasahi keduanya dengan liar. Napas mereka beradu, terengah-engah dan panas. Bibirnya sedikit membuka dan Sang Jenderal memberi lumatan tergesa-gesa di dalam mulutnya tanpa ampun. "Tidak ada yang mampu membuatku candu seperti ini. Tidak Sara, tidak siapa pun." Sang Jenderal berbisik parau di telinganya, memberikan gigitan samar sebagai penanda bahwa Athena miliknya. Di tengah kegiatan lain untuk menuntaskan hasrat ini agar segera padam. "—hanya dirimu. Dan untuk seterusnya, hanya dirimu." *** Letnan Edsel berlari menembus pasukan siaga satu saat alarm pertanda berbahaya berbunyi nyaring di pagi hari dalam Benteng Dallas. Para militer yang beberapa sedang membaringkan diri untuk istirahat harus lekas bergegas sebelum terlambat. Para militer hitam Dallas bersiap memakai pakaian tempur mereka dan senjata untuk melindungi Benteng Dallas dari kepungan musuh di luar benteng maupun di dalam. Alarm terus berbunyi dan para rakyat biasa yang terjebak di dalam Benteng Dallas dievakuasi secepatnya oleh para militer saat berlalu-lalang menyiapkan barisan untuk menahan segala kemungkinan besar yang terjadi mampu dicegah sedini mungkin. Panglima Sai berlari menuruni tangga dengan topi militer hitam yang terpasang di kepalanya. Dia melompat, memimpin pasukan militer hitam di dalam Benteng Dallas ketika mereka semua membungkuk menyapa kedatangan Sang Jenderal yang tergesa-gesa masuk ke dalam benteng. "Distrik Sopa. Sekitar seratus lima puluh orang dan ini mengejutkanku." Sang Jenderal menipiskan bibir dengan gertakan gigi yang amat keras. Dia menggeram, melempar botol anggur di dalam ruangannya ke tembok saat Letnan Edsel masuk ke dalam bersama Panglima Sai yang selesai memerintahkan militer untuk mengepung hutan pohon pinus agar para pemberontak tidak mampu melarikan diri dari kejaran mereka. Sang Jenderal mendesis dingin kala dia memakai topi militernya dan seragam tempur yang senada dengan seragam militernya terpasang lekat di tubuhnya. "Apa yang mereka incar? Green Ariana?" Letnan Edsel menggeleng pelan atas ketidaktahuannya. Sang Jenderal merangsek mendekat ke arahnya dengan sorot dingin dan membunuh yang kental. "Mereka tidak akan sejauh ini tanpa ada seseorang yang memicu pematik." Panglima Sai menengahi mereka berdua dengan gusar. Dia maju, menatap tajam Sang Jenderal dan pada Letnan Edsel yang membeku. "Kepung mereka dari segala sisi. Pastikan kali ini tidak ada yang bisa melarikan diri. Setelah kita menghabisi semua yang berani menantangku kemari, aku akan membunuh massal keturunan mereka. Tidak akan lagi ada Distrik Sopa." Sang Jenderal menabrak bahu Letnan Edsel dan Sang Letnan hanya bisa menghela napas panjang. Panglima Sai menangkap raut bingung itu saat dia mengejar langkah Jenderal dengan terburu-buru. "Aku yakin ada hal yang lebih besar lagi selain Green Ariana. Kita harus cari tahu penyebabnya." Letnan Edsel memasang topi militernya dan mengangguk pelan pada Panglima Sai yang berjalan di sisinya, mengikuti langkah Sang Jenderal yang memberi perintah pada bawahannya di atas mimbar tepat di bangunan tertinggi Benteng Dallas. Kedua giok hijaunya melebar mendapati asap tinggi membumbung ke angkasa dari arah Benteng Dallas. Athena terdiam cukup lama sampai otaknya berputar keras dan dia menduga ini aksi gila Organisasi Partai Merah lagi. Kenapa mereka terus menyerang Benteng Dallas tanpa mengenal lelah? Dia meraih mantel putih miliknya. Melingkupi tubuh kecilnya dengan mantel itu dan berlari ke luar kamar. Dia melihat dua militer hitam Dallas yang menjaganya tampak awas. Keamanan diperketat dan Athena tidak bisa pergi ke benteng untuk melihat situasi. Dia mendesis pelan. Berlari menuju balkon yang sayangnya terlalu tinggi baginya. Athena menghela napas. Otaknya kembali dipaksa berputar secara cepat dan dia berlari masuk ke dalam ruangan rahasia Sang Jenderal, mencari tali tambang atau apa pun yang bisa dia pakai untuk melarikan diri. Dia menemukan tali tambang berwarna hitam dan segera berlari ke balkon, mengikat ujung tali itu pada tiang besi, dan melempar sisanya ke bawah. Dia merangkak naik, berpegangan pada tali itu sebelum dia turun ke bawah dan pegangannya terlepas. Dia terjatuh ke atas tanah, membentur bokongnya cukup keras. Suara ringisannya terdengar sampai ke telinga para militer yang berjaga di depan pintu utama. Athena segera bangun, berlari menembus hutan pohon pinus dengan alas kaki seadanya dan terus berlari sampai militer tidak mampu menangkapnya. Langkahnya membawanya ke arah benteng Dallas yang tampak tegang. Suasanya sangat mencekam dan Athena bernapas terengah-engah ketika dia sampai dan mantel putih susunya ternodai dengan tanah dan debu. Saat dia sampai di hutan pohon pinus tepat di depan gerbang masuk Benteng Dallas, Athena membeku hebat. Dia menemuan sekurangnya ada seratus orang mengepung seisi benteng dengan pakaian baja mereka. Mereka bukan dari militer. Kaki Athena terseok-seok saat dia melangkah. Mencoba mengenali salah satu dari mereka yang mungkin berasal dari Organisasi Partai Merah ketika dia merasakan perasaan takut dan ngeri luar biasa karena dia terjebak di salah satu peperangan yang belum dimulai ini. Sebesar apa nyali mereka untuk datang ke hadapan Benteng Dallas? Salah satunya yang melihat Athena terlonjak kaget. Refleksnya tanpa sadar mengangkat senapan laras panjang di tangan, dan mengarahkannya pada Athena yang berpegangan pada batang pohon dan bergetar. "Kau?" Suara serak pria itu membuat tubuh Athena membeku hebat. Terlebih semua pasang mata mengarah padanya dengan mata membulat penuh dan rasa kaget yang luar biasa. "Kami berhasil menemukanmu!" Sorak-sorak itu terdengar riuh sampai ke telinga Sang Jenderal yang berdiri di atas mimbar, menunggu salah satu pemimpin pemberontakan mereka untuk keluar dari persembunyiannya dan segera menghadap. Panglima Sai mendesis dingin. Tangannya terkepal memandang ratusan orang yang bersiap menyerang Benteng Dallas dengan senapan hasil rampasan mereka di era Jenderal Akram waktu lalu. Mereka menyimpan senjata itu bertahun-tahun lamanya karena tahu, Jenderal Levant tidak akan membiarkan siapa pun berani merampas senjata milik militer hitam Dallas dengan mudah. Tangan Athena ditarik paksa. Gadis itu menjerit tertahan, menemukan dirinya berjalan kebingungan di tengah-tengah barisan para pemberontak yang menatapnya takjub sekaligus menghormati secara bersamaan. Apa yang terjadi? Athena terus berjalan bagai orang yang kehilangan arah tujuan hingga dia sampai di pintu masuk Benteng Dallas yang telah terkoyak dan hancur akibat ledakan hebat dari kaum Distrik Sopa. Dia menolehkan kepala, menatap seluruh pemberontak itu dan berbalik, menemukan Sang Jenderal berdiri sedang menatapnya tajam. "Athena?" Letnan Edsel mengangkat alis. Terkejut luar biasa karena orang yang mereka nantikan berdiri di depan sebagai pemimpin Distrik Sopa. Tapi bukan ini yang mereka harapkan. "Dia mengambil Nona Athena dari rumah?" Panglima Sai mendesis dingin kala Athena menahan napas memerhatikan sekitar yang begitu kontras dengan dirinya. Dia yang memakai pakaian serba putih dan berantakan, beradu warna dengan seragam hitam pekat milik para militer Dallas. Sang Jenderal mendesis tajam menatap para pemberontak itu dan dia mengangkat tangan, memberikan kode pada salah satu anggotanya untuk melindungi sang istri dan menariknya masuk ke dalam benteng, tapi salah satu pemberontak menarik tangan Athena agak keras hingga gadis itu terjatuh. "Kami datang untuk meminta Green Ariana." Sang Jenderal mengetatkan rahangnya. Menatap bagaimana tubuh rapuh itu tampak lusuh dan kotor sedang berusaha untuk bangun. "Bermimpilah selagi kalian bisa. Green Ariana telah mati." Seluruh moncong pistol mengarah pada Sang Jenderal dan ratusan militer yang tersebar di sekitar benteng ikut mengarahkan pistol mereka ke arah pemberontak. Saling beradu senjata masing-masing dengan mempertaruhkan waktu siapa yang lebih cepat menarik pelatuk di tangan. Salah satu dari mereka tertawa sinis. "Bukan masalah. Green Ariana yang menjaga dan memantau kami. Tapi kami telah menemukan pemimpin kami yang telah lama hilang." Alis Letnan Edsel menekuk tajam dan Sang Jenderal menunggu penuh antisipasi. "Karenina, senang melihatmu lagi." Karenina? Sontak, tubuh Athena beringsut mundur. Para militer mencoba menangkapnya dengan gertakan dan para pemberontak itu beringas menyingkirkan para militer dari Athena tanpa kenal ampun. "Aku bukan Karenina." Kepala merah muda itu menggeleng berkali-kali. "Aku bukan Karenina!" Dia berteriak dan membuat suasana yang mencekam semakin bertambah tegang. Mata Sang Jenderal memicing tajam mendengar teriakan tinggi dari Athena di bawah sana. Dia menunduk, menipiskan bibir saat Athena kembali menatap ke arahnya, meminta penjelasan dengan kedua mata menyala-nyala. Luka bakar di tubuh Panglima Sai. Bekas luka tembak di d**a sebelah kiri Letnan Edsel. Dan bayangan gelap yang terus membayangi Sang Jenderal. Semua sudah jelas sekarang. Athena mengerjap. Tubuhnya bergerak mundur saat para militer yang mengerti kode samarnya segera membuka ruang untuknya melarikan diri ketika waktunya tepat agar bisa mendapat akses masuk ke dalam Benteng Dallas lebih cepat dan mendapat perlindungan di dalam sana. "Siapa Karenina?" Salah satu dari mereka menyeringai lebar. "Dia pemimpin pemberontakan kelas atas dari Distrik Sopa. Pemimpin kami." Kedua mata Athena melebar menunggu bibir hitam itu kembali membuka penuh peringatan. "Kami mendengar bahwa Jenderal Akram membunuh Karenina. Tapi, kami tidak menemukan mayat atau barang bukti dimana pun." Pria itu merangsek maju, bertekuk lutut di hadapan Athena dan diikuti seluruh pemberontak Distrik Sopa. "Setelah sepuluh tahun Karenina menghilang—" suara serak itu kembali mengalun keras dengan tawa kemenangan. "—kami menemukannya." Athena tidak sanggup mendengar kelanjutannya. "Karenina ... adalah dirimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN