16

1632 Kata
Di sisi lain, Sang Jenderal turun dari mobil jeep miliknya. Dia menatap datar pada Distrik Sopa yang tenang. Letnan Edsel ikut turun, mengamati permukiman yang sepi karena hari sudah beranjak malam. "Kepung segala sisi. Jangan sampai ada satu pun berhasil meloloskan diri lari ke hutan pinus." Perintah Sang Jenderal yang segera ditaati para militer hitam tanpa membantah. Letnan Edsel berjalan dalam tenang. Menilai sekitarnya dengan mata awas bersama Sang Jenderal pergi menuju salah satu rumah yang tampak sepi. Pintu diketuk berulang kali. Hingga ketukan kelima pintu itu terbuka. Seorang pria paruh baya keluar dengan memegang punggungnya yang ditempeli plester pereda nyeri. "Jenderal." Pria itu bersujud di bawah kaki Sang Jenderal dan Jenderal mengabaikannya. Dia masuk ke dalam, menatap isi rumah dengan tatapan tajam. Letnan Edsel memiringkan kepala, menatap sosok rapuh itu dengan sorot memindai dingin. Seolah hanya dengan tatapan matanya dia bisa membaca jelas isi dalam kepalanya. Sudut bibir Sang Jenderal tertarik. Dia mengambil salah satu sampel percobaan milik laboratorium Dalla dengan gerakan pelan, menatap isi dalam tabung mungil itu dan menyuruh Letnan Edsel untuk masuk dan melihatnya sendiri dengan mata kepalanya. Letnan Edsel berekspresi datar ketika dia menatap tabung kecil berisi cairan kimia itu. Sang Jenderal memberikan itu padanya dan Letnan Edsel segera menutupnya, menyimpannya dalam saku seragam militernya. "Bisa kau buka isi lemari itu untukku?" Pria itu mengangkat kepalanya dengan getir. Matanya membelalak gelisah saat dia menatap balik mata pekat Sang Jenderal yang dingin. "Sekarang." Dia tidak sanggup berdiri ketika sepatu boot milik Letnan Edsel menahan kedua kakinya. Sekali injak, Sang Letnan bisa mematahkan keduanya sekaligus. "Sudah kuduga. Tidak seharusnya aku membangun kembali distrik pemberontak ini," gumam Sang Jenderal dingin dan dia menendang lemari kayu itu hingga isinya berceceran keluar, memberantaki lantai kayu dengan suara gemirisik yang nyaring. Senjata, segala jenis parang dan aneka pisau yang baru diasah, dan suntik-suntikan berisi obat penahan rasa sakit. Semuanya ada di atas sana. Letnan Edsel hanya menatap datar seluruh barang bukti itu. Saat Sang Jenderal berjalan, menendang salah satu pisau ke hadapan pria paruh baya itu. "Kau punya sepuluh detik untuk menjelaskan." Pria itu diam membisu. Menatap kosong pada pisau yang baru saja dia asah sejak pagi dengan tatapan pahit. Bibirnya mengetat, siap melontarkan kata makian pada Sang Jenderal di depannya. "Mati kau!" Sang Jenderal mendesis dingin. Dia melayangkan tangannya, memukul wajah pria paruh baya itu dalam sekali pukulan hingga terlempar dan membentur daun pintu dengan keras. Letnan Edsel berpura-pura meringis dalam lirikan matanya. Melihat pria paruh baya itu berdarah di hidung dan pelipisnya. Hanya dengan sekali pukulan. Sang Jenderal mendesis sekali lagi. Dia meraih salah satu pistol yang Distrik Sopa curi dari gudang senjata Dallas dan mengarahkan mulut pistol itu ke d**a pria paruh baya itu. Satu tembakan bergema keras. Menewaskan pria paruh baya itu seketika. "Bakar rumah ini." Letnan Edsel mengangguk pelan. Saat Sang Jenderal melompati teras dan berpijak pada tanah yang dingin, dia terkesiap. "Anak baik ... kau harus menurut." "Aku tidak mau!" "Kau harus menurut. Jangan harap kau bisa hidup kalau kau melawanku." "Kembalikan ibuku!" Bias cahaya yang berasal dari api membias sampai kedua matanya. Mata elang itu menajam sempurna seiring kobaran api yang semakin besar terbang tinggi ke angkasa. Berbaur bersama pekatnya malam. "Jenderal, kami menemukan satu rumah yang kosong dan tidak lagi dihuni. Kami sudah menyisiri tempat tersebut dan menemukan kalau rumah itu milik Green Ariana." Alis Sang Jenderal terangkat tinggi. Dia menatap pada anggotanya dan segera mengangguk. Sebelum dia berbalik, dia menyempatkan diri untuk melirik Letnan Edsel yang diam tanpa menunjukkan emosi apa pun di sampingnya. "Kita harus bergegas." Perintah Sang Jenderal yang diberi anggukan kepala singkat dari Letnan Edsel. Di aula tempat pesta terjadi, Maru mengikuti tatapan Athena yang perlahan menghilang untuk pergi ke kamar kecil. Dia menghela napas, memindai di sekitar mereka untuk berjaga-jaga kalau gadis mengerikan itu berbuat sesuka hatinya dan membahayakan sekitar mereka. Karena Organisasi Partai Merah sedang tidak bergerak sama sekali. Ini bisa saja menjadi konspirasi untuk membuat militer Dallas semakin membabi buta menyerang mereka tanpa kenal lelah. Ck, sialan! Samar-samar langkah Athena terhenti ketika dia mendengar suara kecil seperti gerakan jarum jam. Napasnya terhenti. Dia menoleh ke sekeliling ruangan dan tidak mendapatkan apa pun yang mencurigakan selain tembok dan tembok sebagai pembatas. Panglima Sai berdecih. Dia harus menggagalkan perangkap yang digunakan Green Ariana untuk menjebak mereka ke dalam cangkang ini dan membunuh mereka secara bersamaan. "Nyalakan alarm darurat. Lindungi semua orang." Panglima Sai memberi mandat dan semua anggota militer hitam Dallas berkeliling mengamankan aula. Di saat Panglima Sai mencari-cari di mana istri Sang Jenderal berada. Maru berlari berhamburan saat alarm tanda bahaya berbunyi nyaring memekakkan telinga mereka. Dia mencoba mencari kemana Athena pergi dan membawanya ke tempat persembunyian untuk bertemu Immanuel Gildan secepatnya. "Panglima Sai, b*****h kau." Green Ariana berdecak jengkel ketika dia menekan alat hitam itu dan sumbu dinyalakan dari jarak jauh yang cukup. Cukup membuatnya tetap aman sampai dia mampu melarikan diri dengan tenang. Athena berlari ke luar aula saat mendengar alarm berbunyi. Mengangkat gaunnya dan ikut berhamburan bersama ratusan orang untuk berlari menyelamatkan diri ketika militer mencoba membantu mereka dan mengamankan lokasi agar ledakan tidak merembet ke bangunan lain. Ledakan itu terjadi. Panglima Sai membuka tangannya untuk menangkap tubuh rapuh Felice Athena yang terpental hampir membentur pagar beton masuk aula yang retak parah. Militer segera berlari mencari korban yang terluka dan membawanya ke rumah sakit secepatnya. Maru termenung, menemukan Athena ada bersama Panglima Sai dan dia tidak bisa berbuat apa pun untuk membawanya pergi. Saat gadis itu dibawa ke dalam mobil militer dan dilindungi ketat oleh empat pria berseragam militer Dallas. Dan Maru tidak akan mencari kematiannya sendiri dengan nekat membawa Athena pergi bersamanya. *** Athena tersedak rasa takutnya sendiri ketika dia terbangun di tengah malam. Seolah dia terjebak di dalam aula menegangkan itu dan tubuhnya terkoyak lalu mati. Dia benar-benar mati dalam kesia-siaan. Tangannya menggapai sisi ranjangnya yang kosong. Dia duduk, meminum air dalam gelas kaca dan beranjak bangun untuk menyalakan lampu kamar yang gelap. Tidak ada siapa pun. Jam menunjukkan pukul satu dinihari dan malam semakin larut. Udara semakin dingin ketika Athena menutup jendela kamar dan pergi ke luar ruangan untuk mencari udara segar. Ada salah satu pintu berwarna hitam yang tertutup sempurna menarik perhatiannya. Athena berjalan mendekat, menemukan suasana yang sepi, dia memberanikan diri hingga tangannya memutar gagang pintu dan sosok Sang Jenderal tengah duduk memejamkan mata terlihat. "Jenderal, apa yang kaulakukan?" Athena merangsek maju dan tidak lupa menutup pintunya. Dia terngaga dengan segala pisau dan senjata berbahaya lainnya di depan Sang Jenderal. Juga .. cambuk? "Bunuh aku sekarang." Mata Athena melebar. "Jenderal." Dia mendekat, berlutut di hadapannya dan menatap wajah sang suami yang begitu pucat. Seakan darah yang mengalir berhenti dari dalam tubuhnya. Keringat dingin menetes sampai ke atas lantai kayu yang hangat. Athena menggigit bibirnya, menendang jauh semua senjata itu dan kembali berlutut. "Sadarlah. Kenapa denganmu?" Saat Athena berhasil menarik kesadarannya dengan satu tamparan keras. Sang Jenderal mengerjap padanya. Mengamati Athena dengan pandangan tajam dan tersenyum dingin. "Istriku." Athena mundur dua langkah ke belakang mendengar panggilan mengerikan itu. Dia berdiri, merasakan perasaan yang buruk menghantui pikirannya. Sang Jenderal tidak lakukan apa pun selain membuka piyama tidurnya dan bertelanjang d**a. Dia mendorong cambuk itu di hadapan Athena. "Cambuk aku." Athena menahan napas. "Jangan konyol, Jenderal!" Athena berteriak dengan tarikan napas berat. "Aku akan dihukum karena melukai suamiku sendiri." Sudut bibir Sang Jenderal tertarik ngeri. "Bagaimana dengan pestanya, kau bersenang-senang?" Athena mendesis dalam hati. Sang Jenderal memejamkan mata. Dia berdiri, bersedekap di depan d**a. "Aku akan membuat kesepakatan." Jenderal menarik napas panjang, menghelanya kasar. Mata Sang Jenderal kembali membuka. "Kau harus bersumpah untuk setia padaku dan tidak pernah bertemu dengan Immanuel Gildan secara diam-diam—" "—atau membantunya dalam menegakkan haknya menuntut kebebasan." Athena terpaku diam. "Apa yang kau inginkan?" Athena bergumam dingin. Sang Jenderal tersenyum kosong. "Kau." Athena mengernyit dalam. "Kenapa aku?" "Kau harus di sini. Bersamaku. Mengikat kesetiaanmu selamanya padaku." "Dan jika aku menolak?" Sang Jenderal memejamkan mata. Dia menarik napas, membuang rasa takut yang di dalam kepalanya. "Kau akan melihat penderitaan Immanuel Gildan yang memohon dengan parau agar dia mati di tanganku." Iris hutan itu membelalak penuh rasa sakit. Athena mengambil cambuk itu dari atas lantai, mencambuk satu kali pada bagian d**a Sang Jenderal. Sang Jenderal memejamkan mata. Menahan ringisan dalam geraman suaranya ketika cambukan kedua mengenai bahunya, meninggalkan bekas seperti ruam kemerahan yang pekat. Athena menunduk dalam, hingga tangannya tidak sanggup lagi melakukannya. Dia melempar cambuk itu ke atas lantai dan menerjang tubuh Sang Jenderal hingga mereka terjatuh di atas lantai dan Sang Jenderal terbaring kaku di bawahnya. "Kenapa kau menangis, manis?" Mata Athena membuka sayu. Bola mata itu bergerak turun menyapu luka bekas cambukan pada d**a dan bahu Sang Jenderal. Jemarinya mengusap lembut permukaan yang memerah pekat itu dengan gerakan hati-hati. "Ini efekmu padaku. Kau membuatku sakit dimana-mana. Membuatku tidak nyaman. Di kepalaku, terutama di sini, di dalam dadaku." Jenderal menunjuk dadanya sendiri dan Athena hanya menatapnya kosong. Wajah Athena mendekat maju, meremas bahu kokoh itu sebagai pegangan ketika dia mencium bibir Sang Jenderal tanpa ampun dan melumatnya kasar. Membuat Sang Jenderal kehilangan pengendalian dirinya dibawah anggur yang baru dia tegak dan membalas ciuman manis itu penuh hasrat. Sang Jenderal duduk tegak, memeluk pinggang mungil sang istri dan menciumnya secara tak sabar dan kasar, membuat Athena terengah-engah tetapi dia enggan melepas pagutan bibirnya. Jenderal merapatkan pelukan mereka hingga tidak ada jarak yang memisahkan. Bayangan tentang sang istri yang masih mengenakan gaun merah mudanya melekat di dalam kepalanya. Membuatnya ingin sekali lagi menatap gaun itu pada istrinya dan dia sendiri yang akan melepas gaun itu. Momen itu tentunya akan menjadi kenikmatan sendiri untuknya. Athena memundurkan kepalanya dengan napas terengah. Jenderal tidak memberi jeda bagi Athena untuk beristirahat saat dia menggendong tubuh itu ke kamar mereka, membaringkan sang istri ke atas ranjang dan menelanjangi mereka berdua sebelum mendesak keras dan bercinta lagi dan lagi hingga keduanya lelah dan tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN