06 - Belum meminta maaf.

1503 Kata
  Reno pikir, setelah kejadian kemarin, Nesya akan bersikap kembali seperti biasanya. Tapi ternyata dugaan Reno salah, karena sampai saat ini, Nesya masih bersikap tak peduli padanya.   Hari ini adalah hari sabtu, jadi Reno tidak pergi bekerja, begitupun dengan Nesya yang tentu saja libur, sama seperti dirinya. Hari kerja hanya dari hari senin sampai hari jumat, selebihnya libur, begitupun ketika ada tanggal merah.   Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya, Nesya tidak datang untuk membangunkan Reno, membuat Reno terus berpikir kalau mungkin Nesya belum memaafkannya.   Saat ini, Reno sedang duduk di bangku kayu yang berada tepat di balkon kamarnya, pria itu terus merenung, memikirkan apa saja yang kemarin terjadi antara dirinya dan juga Nesya.   Kemarin mereka berangkat ke kantor bersama, lalu makan siang bersama dan pulang kantor pun bersama-sama. Saat makan siang, Nesya bersikap seperti biasanya, begitupun ketika pulang kantor. Tapi setelah Reno pikir-pikir dengan seksama, ketika pulang, Nesya lebih banyak terdiam, sama seperti ketika berangkat ke kantor. Sama seperti ketika berangkat kerja, Nesya lebih banyak diam.   "Apa dia masih marah sama gue?" gumam Reno dengan kening berkerut dalam. "Tapi kemarin kan sudah baikan, masa iya sih masih marah?" Reno jadi bingung sendiri, sebenarnya Nesya itu sudah memaafkannya atau sama sekali belum memaafkannya. Tapi ada hal yang membuat Reno semakin bingung, sebenarnya ia sudah meminta maaf atau belum sih pada Nesya?   Reno mengacak rambutnya, merasa frustasi dengan apa yang terjadi. Akhirnya Reno memutuskan untuk keluar dari kamar, mungkin pergi menemui kedua orang tuanya untuk mengobrol atau sekedar menonton televisi di ruang keluarga.   Reno ingin sekali pergi ke rumah orang tua Nesya, untuk menanyakan Nesya, tapi setelah ia pikir-pikir, ada baiknya kalau pagi ini ia tidak datang berkunjung, karena mungkin kedua orang tua Nesya sedang beristirahat.     Begitu keluar dari lift, Reno langsung melihat kalau ada Rinda di ruang tengah begitupun dengan Rinda yang kini menatapnya dengan raut wajah terkejut.   Reno jadi bingung. "Kenapa Rinda melihatnya dengan mimik wajah seperti itu?" Batinnya bertanya-tanya. Reno menghampiri Rinda yang sedang membaca majalan, lalu ia pun duduk di samping kanan sang Bunda.   "Kamu enggak pergi olahraga sama teman-teman kamu?" Rinda tentu saja bingung ketika tahu kalau Reno masih berada di rumah, karena biasanya jika hari libur tiba, Reno akan pergi main basket bersama dengan teman-temannya atau sekedar pergi berolahraga di taman komplek perumahan mereka.   "Enggak ah Bun, capek banget," sahut lirih Reno sambil menyandarkan punggungnya di sofa di iringi dengan kedua matanya yang mulai terpejam.   "Padahal tadi pagi Nesya pergi olahraga."   "Iyakah? Sama siapa?" Tadinya Reno sudah lesu, lemas tak bertenaga, tapi begitu mendengar kalau Nesya berolahraga, ia pun kembali bersemangat. Bahkan kedua matanya yang sebelumnya terpejam kini sudah kembali terbuka, menatap sang Bunda dengan mata berbinar.   "Iya. Nesya olahraga sama Arsa, katanya sih mau keliling komplek." Tadi pagi saat ia akan keluar dari gerbang utama komplek, ia dan sang suami melihat Arsa dan Nesya yang sedang joging bersama.   "Ya sudah kalau begitu, Reno mau menyusul mereka."   "Sekarang sudah jam 8 loh Bang, pasti mereka sudah pulang. Tadi Bunda ketemu sama mereka jam 6, pasti kalau sekarang sudah selesai olahraganya."   Penjelasan yang Rinda berikan membuat raut wajah Reno yang sebelumnya penuh semangat, kini kembali berubah menjadi sendu. "Kenapa Bunda enggak bilang dari tadi?" lirihnya sambil menghela nafas berat.   Gagal sudah rencana Reno untuk bertemu Nesya. "Apa sebaiknya ia pergi saja ke rumah orang tua Nesya, untuk melihat apa yang saat ini sedang Nesya lakukan?" Pikirnya.   "Kan Bunda enggak tahu kalau kamu ada di rumah. Bunda pikir kamu pergi olahraga sama teman-teman kamu." Tadi pagi selesai sarapan bersama, Rinda dan suami pergi keluar, sementara Reno kembali ke kamar. Selang 1 jam kemudian, Sigit dan Rinda pulang. Keduanya berpikir kalau Reno pergi bersama teman-temannya, seperti pada hari libur bisanya, karena itulah Rinda cukup terkejut ketika melihat Reno keluar dari lift.   "Mahesa kapan pulang Bun?" Reno baru sadar kalau sudah hampir 1 minggu adiknya itu pergi dan sampai saat ini belum juga pulang.   Mahesa sedang pergi berwisata ke bromo, bersama dengan teman-teman kuliahnya. Mereka sudah lulus sejak 1 bulan yang lalu dan baru minggu kemarin mereka bisa pergi untuk berlibur setelah merasakan betapa penatnya menyusun skripsi.   "Mungkin besok, katanya tadi pagi sudah sampai di candi borobudur."   "Mahesa juga ke candi borobudur?" Reno pikir, Mahesa dan teman-temannya hanya akan ke Bromo, tidak mampir ke borobudur.   "Iya, katanya ke sana juga."   "Tapi dia baik-baik saja kan Bun?"   "Kamu sama Mahesa sama sekali tidak pernah berkirim pesan?" Rinda menatap sang putra dengan mata memicing penuh curiga.   "Belum Bun, Abang belum telepon atau mengirim pesan pada Mahesa."   "Kenapa?"   Reno menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Ya tidak apa-apa Bu," jawabnya dengan bingung.   Sebenarnya hubungan antara Reno dan Mahesa baik-baik saja, hanya saja keduanya memang jarang berkirim pesan atau pun melakukan panggilan. Tapi jika keduanya sudah bertemu, maka keduanya akan sangat akrab, bahkan sebenarnya Reno sangat memanjakan Mahesa.   Pria itu akan menuruti apapun keinginan sang adik selama itu baik dan tidak merugikan siapapun. Meskipun selalu memanjakan Mahesa dan menuruti apapun yang Mahesa mau, tapi Reno selalu meminta timbal balik atas apa yang sudah ia lakukan untuk adiknya itu.   Timbal balik yang Reno harapkan sama sekali tidak sulit. Pria itu hanya meminta sang adik agar fokus pada pendidikannya, tidak bermalas-malasan dan hal positif lainnya.   Mahesa tidak mau membuat sang Kakak kecewa, begitupun dengan kedua orang tuanya, karena itulah ia selalu berusaha keras untuk memberikan yang terbaik untuk mereka mengingat ketiganya juga sudah memberikan yang terbaik untuknya.   "Oh iya, besok kamu mau kemana Bang?" Rinda bertanya dengan sangat antusias.   Reno seketika merasa curiga, terlebih ketika mendengar sekaligus melihat ekspesi wajah sang Bunda yang terlihat sangat antusias. "Memangnya kenapa Bun?" tanyanya penasaran sekaligus gugup.   "Mau ya temani Bunda?"   "Kemana?" Kening Reno semakin berkerut dan ia merasa kalau jawaban yang akan Rinda berikan sama sekali bukan jawaban yang ia harapkan.   "Ke acara arisan." Rinda menyahut dengan sangat antusias.   Benar saja, jawaban yang baru saja Rinda berikan sama sekali tidak seperti apa yang Reni harapkan. "Enggak mau!" Tanpa banyak berpikir, Reno menolak dengan tegas permintaan Rinda.   "Loh kenapa enggak mau?" Mimik wajah Rinda sudah berubah menjadi masam, karena jawaban yang Reno berikan sama sekali tidak seperti apa yang ia harapkan.   "Itukan acara Ibu-ibu masa Reno ikut sih." Reno sudah bisa membayangkan dirinya yang berada di antara ibu-ibu.   "Ya enggak apa-apalah kalau kamu ikut, biar ramai. Kalau kamu ikut, pasti kamu akan akan menjadi pusat perhatian."   "Iyalah, Reno pasti akan menjadi pusat perhatian, itu karena Reno yang paling tampan di antara para ibu-ibu yang cantik." Reno merasakan bulu kuduknya yang berdiri, dan itu terjadi karena ia sudah bisa menebak bagaimana para Ibu-ibu tersebut memperlakukannya.   "Yakin enggak mau ikut?" Rinda menaik turunkan alisnya, sengaja menggoda sang putra.   "Yakinlah." Reno menyahut tegas, penuh keyakinan.   "Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut, padahal Nesya bakalan ikut loh." Akhirnya Rinda mengeluarkan jurus andalannya. Rinda yakin kalau Reno pasti akan ikut ketika tahu kalau Nesya juga akan ikut.   "Bunda enggak bohongkan?" Reno menatap Rinda dengan mata memicing penuh curiga. Entah kenapa, Reno curiga kalau Rinda hanya sedang bercanda, tidak serius dengan apa yang di ucapkannya.   "Gini aja deh. Besok kita lihat, Nesya ikut apa enggak. Tapi kalau Nesya ikut, kamu mau ikut atau enggak?"   "Kalau Nesya ikut, Reno juga mau ikut Bunda." Reno menyahut dengan antusiasme tinggi. Ah semoga saja besok Nesya akan ikut, karena jika Nesya ikut, maka ia punya kesempatan untuk berbicara dengan perempuan itu.   "Baiklah, kita tunggu besok ya." Rinda senang karena Reno setuju untuk ikut jika Nesya akan ikut. Sekarang Rinda berharap kalau Nesya akan ikut, karena jika Nesya ikut, sudah bisa di pastikan kalau Reno akan ikut juga.   Reno mengangguk dan setelah itu memilih untuk menonton televisi, sedangkan Rinda kembali fokus membaca majalah.   "Abang ada di rumah."   Reno sontak menolehkan kepalanya ke samping kanan dan ia melihat sang Ayah yang kini sedang menuruni anak tangga.   "Iya Ayah, Abang di rumah."   "Oh, Ayah pikir Abang pergi. Malam minggu mau jalan-jalan kemana nih?" Sigit duduk di samping sang putra, lalu memberi pijatan di bahu Reno.   Reno memejamkan matanya, menikmati pijatan Sigit. "Enggak kemana-mana Yah, di rumah aja. Lebih enak kalau di rumah."   "Enggak nongkrong sama teman-teman kamu?"   Reno lantas menggeleng. "Enggak Ayah, teman-teman Reno juga pada sibuk sama acara keluarga masing-masing, jadi nongkrongnya di tunda sampai minggu depan."   "Oh, Ayah pikir kamu akam nongkrong sama teman-teman kamu."   "Memangnya kenapa Yah? Ayah mau ikut?"   "Tidak apa-apa, Ayah hanya bertanya saja." Sigit menghentikan pijatannya, lalu ia pun berpidah duduk di samping sang istri.   "Abang pindah gih duduknya, Ayah mau rebahan."   "Ck, kalau mau rebahan kenapa enggak di kamar aja sih?" Reno menggerutu, tapi tak ayal menuruti ucapan Sigit.   "Kalau di kamar tidak ada Bunda, tidak enak, karena rebahan itu enaknya di pangkuan Bunda."   Rinda menggeleng sementara Reno hanya menggerutu. Reno memilih pamit, pergi ke kamar. Jika Reno tetap berada di ruang tengah, maka ia hanya akan melihat sang Ayah yang bermanja-manja dengan Bundanya, lalu meledeknya dan menanyakan kapan ia akan menikah.   Menikah? Reno juga ingin menikah, tentu saja dengan perempuan yang ia cintai. Saat ini, Reno masih berusaha keras untuk mendapatkan hati dari perempuan itu dan Reno harap kalau itu tidak akan memakan waktu yang cukup lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN