Ryan mengemudikan mobilnya perlahan menyusuri jalan perumahan yang sepi. Di kursi penumpang, Anggi tertidur pulas, kepalanya bersandar dengan lembut di jendela. Wajahnya yang tenang membuat Ryan tersenyum kecil, meskipun perasaannya bercampur aduk. Dia tahu bahwa hubungan mereka selalu berada di ujung tanduk, terutama karena permusuhan lama antara keluarganya dan keluarga Anggi. Ketika mobil berhenti di depan rumah megah keluarga Anggi, Ryan ragu sejenak. Lampu-lampu di teras masih menyala, menandakan bahwa seseorang masih terjaga di dalam. Dengan hati-hati, dia membangunkan Anggi. “Sayang, bangun. Kita udah sampai di rumah,” kata Ryan pelan. Anggi mengerjap-ngerjapkan mata, masih setengah sadar. “Oh… kita udah sampai, ya?” gumamnya sambil mengusap wajah. "Kok kamu anter aku ke sini, si

