"Biarkan aku mengantarnya, emosinya sedang tidak stabil," ujar suamiku pelan. "Baiklah, antarkan saja," jawabku. "Kuharap kau maklum tentang tingkahnya Filza, aku minta kau untuk bersabar sedikit saja." "Insya Allah." "Ayo, Mas ... aku mau pulang dan tidur," ujar Filza dengan Manja. "Iya, iya, kenakan bajumu, ayo ke mobil." Mas Albi membantu istri mudanya memakai baju, dan mengajaknya ke mobil. Kupikir semuanya akan selesai saat itu juga tapi ternyata salah, Filza berhenti dan memandang Mas Albi penuh amarah. "Ada apa lagi, kenapa kau berhenti!" "Apa yang kau lakukan, kenapa lehermu ada tanda merah?!" ucapnya lantang, saat itu ia berdiri di teras dan berteriak kencang. "Mana?" "Ini! Brak! Filza merobek paksa hingga baju suami kami koyak dan kancing kancingnya lepas. "Kau namp

