Sejak memutuskan untuk menjatuhkan talak pada Filza, Mas Albi jadi pendiam, suamiku menjelma tidak bersemangat dan jadi sering termenung. Aku kerap memergoki dia sedang terlihat murung di teras belakang. Saat kutegur, dia mengulas senyum, tapi senyumnya tidak bisa menutupi kegelisahan hatinya. * "Kau tidak pergi bekerja?" Tanyaku suatu hari saat menemukan Dia sedang termenung seperti biasa. "Sepertinya ... nanti saja." "Posisimu sangat penting dan kau tidak mau kan jika jabatanmu diambil orang lain?" "Tentu saja tidak mau, tapi aku lesu," jawabnya. "Apakah kau memikirkan Filza?" "Bukan dia!" "Gibran?" "Iya, mertuaku tidak mengizinkanku untuk menemui Gibran selama aku belum merujuk anak mereka." Astaghfirullah, keadaannya jadi serumit ini. "Tapi, sebagai ayahnya harusnya kau teg

