Bab 14: Di Balik Pintu Jati

1347 Kata
Dinding kayu jati yang memisahkan Alana dari kedua saudara Arkananta itu terasa seperti satu-satunya pertahanan terakhir yang ia miliki. Di luar sana, di lorong vila yang remang-remang, udara seolah membeku. Alana bisa mendengar napas berat Kenzie yang memburu karena amarah, dan keheningan Nathan yang jauh lebih berbahaya—keheningan seorang predator yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menerkam. Pertanyaan Alana tentang siapa yang mengganti pakaiannya saat ia pingsan telah meledakkan sumbu yang sejak tadi tertahan. "Kau menyentuhnya, Nathan?" suara Kenzie terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman binatang buas. "Kau melepaskan pakaiannya saat dia tidak berdaya? Kau benar-benar b******n paling menjijikkan yang pernah kukenal." "Aku tidak membiarkannya kedinginan dengan gaun pesta yang penuh keringat dan air mata, Kenzie. Aku merawatnya dengan cara yang paling terhormat yang bisa kulakukan," sahut Nathan. Suaranya tetap stabil, namun ada nada provokasi yang sengaja ia selipkan. "Dan asal kau tahu, Alana tidak menolak. Tubuhnya mengenali sentuhanku lebih baik daripada dia mengenali suara teriakanmu." Brak! Pintu kamar Alana bergetar hebat saat Kenzie menghantamkan tinjunya ke dinding di samping kusen. "Buka pintunya, Nathan! Keluar kau! Kita selesaikan ini sekarang juga!" "Kenzie, hentikan!" teriak Alana dari dalam kamar. Ia memeluk dirinya sendiri, meremas sweter wol birunya dengan buku jari yang memutih. "Jangan bersikap seperti binatang! Kalian berdua, pergi dari depan pintuku!" "Aku tidak akan pergi, Al!" balas Kenzie, suaranya kini terdengar tepat di depan lubang kunci. "Aku tidak akan membiarkan pria ini berdiri sedetik pun lebih lama di depan kamarmu. Aku tahu apa yang ada di kepalanya. Dia ingin masuk ke sana dan membuatmu merasa berhutang budi lagi dengan kata-kata manisnya." "Dan kau, Kenzie?" Nathan menyela dengan nada dingin. "Apa yang ingin kau lakukan? Mendobrak masuk dan memaksanya ikut balapan liar lagi? Alana butuh ketenangan, bukan kegilaanmu." Alana menyandarkan dahinya di pintu. Air mata frustrasi mulai mengalir. Ia merasa seperti boneka yang diperebutkan oleh dua anak kecil yang egois, namun anak kecil ini memiliki kekuatan untuk menghancurkan hidupnya. Ia harus mengambil kendali, atau ia akan selamanya menjadi korban dari cinta segitiga yang sakit ini. "Aku akan membuka pintunya," ucap Alana tiba-tiba. Suaranya tidak lagi bergetar. Ada ketegasan yang mendadak muncul dari rasa muaknya. Keheningan seketika menyelimuti lorong. "Tapi hanya untuk satu orang," lanjut Alana. "Dan siapa pun yang masuk, yang lainnya harus pergi ke kamarnya sendiri dan tidak boleh mengganggu sampai pagi. Apakah kalian setuju?" "Alana, itu tidak adil," protes Kenzie. "Dia akan memanipulasimu!" "Setuju," sahut Nathan cepat. Ia tahu cara memikat Alana lebih baik daripada Kenzie. Ia yakin, dengan ketenangannya, Alana akan memilihnya. "Kenzie? Bagaimana denganmu?" tanya Alana. Kenzie terdiam cukup lama. Alana bisa mendengar deru napasnya yang tidak stabil. "Fine. Aku setuju. Tapi jika aku mendengar kau menangis atau dia mencoba melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, aku akan merobohkan pintu ini tanpa peduli apa pun." Alana menarik napas panjang. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu. Di kepalanya, ia menimbang-nimbang risiko. Jika ia memilih Nathan, ia akan mendapatkan penjelasan yang tenang namun penuh jebakan emosional. Jika ia memilih Kenzie, ia akan mendapatkan kejujuran yang meledak-ledak namun mungkin lebih nyata. Klik. Kunci pintu terbuka. Alana menarik pintu jati itu sedikit saja, cukup untuk memperlihatkan wajahnya yang sembap namun matanya yang berkilat tegas. Di depannya, Nathan berdiri dengan kemeja hitam yang sedikit berantakan di bagian kerah, namun wajahnya tetap tampak sangat tampan dan terkendali. Di sampingnya, Kenzie berdiri dengan luka lecet di wajah dan mata yang merah padam penuh luka. Alana menatap Nathan, lalu beralih ke Kenzie. Ia melihat tangan Nathan yang memegang nampan berisi s**u hangat—sebuah simbol perhatian yang mencekik. Lalu ia melihat tangan Kenzie yang terkepal, namun gemetar—sebuah simbol gairah yang tidak terarah. "Kak Nathan... berikan susunya padaku," ucap Alana. Nathan tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang baru saja hendak mengembang di bibirnya. Ia menyodorkan nampan itu, namun Alana tidak membiarkannya masuk. Ia mengambil nampan itu di ambang pintu. "Dan sekarang, Kakak silakan kembali ke kamar. Aku tidak ingin bicara dengan orang yang menyentuhku tanpa izin saat aku tidak sadar," lanjut Alana dengan suara dingin. Senyum Nathan hilang seketika. Wajahnya menegang, menampakkan keterkejutan yang jarang ia perlihatkan. "Alana, aku hanya—" "Pergi, Kak," potong Alana. "Kakak sudah melanggar batas yang paling dasar. Aku butuh waktu untuk tidak melihat wajah 'penyelamat' yang ternyata adalah seorang pengintip." Kenzie hampir saja tertawa penuh kemenangan, namun Alana segera menatapnya dengan tajam. "Dan kau, Kenzie... masuklah." Kenzie tertegun. Ia tidak menyangka Alana akan memilihnya setelah semua keributan yang ia buat. Nathan menatap Kenzie dengan tatapan yang bisa membunuh, namun ia terikat oleh janjinya sendiri. Dengan rahang yang mengeras, Nathan berbalik dan berjalan pergi menyusuri lorong tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan aroma kayu cendana yang kini terasa seperti peringatan. Kenzie melangkah masuk ke dalam kamar Alana dengan ragu. Ia menutup pintu dan menguncinya kembali. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu tidur yang temaram, menciptakan suasana yang sangat intim dan menyesakkan. Alana meletakkan nampan s**u di meja, lalu berbalik menghadapi Kenzie. "Jangan berpikir aku memilihmu karena aku memaafkanmu, Ken," ucap Alana sambil menyilangkan tangan di d**a. Kenzie mendekat, langkahnya sangat pelan. Ia berhenti tepat di depan Alana, membuat Alana harus mendongak untuk menatap matanya. "Aku tahu. Aku tahu aku b******k. Tapi setidaknya aku tidak pernah menyentuhmu saat kau tidak bisa melihatku, Al." Kenzie meraih tangan Alana. Kali ini, ia tidak mencengkeramnya. Ia hanya memegang jemari Alana dengan sangat lembut, seolah Alana benar-benar terbuat dari kaca. Ia membawa tangan Alana ke wajahnya, menempelkan telapak tangan Alana pada pipinya yang terasa panas dan kasar karena luka lecet. "Aku gila karena aku mencintaimu, Alana. Cara Nathan mencintaimu itu seperti mengoleksi barang antik. Tapi caraku... caraku mencintaimu itu seperti orang yang kehabisan napas dan hanya kau oksigennya," bisik Kenzie. Suaranya serak dan penuh gairah yang tertahan. Alana merasakan dadanya bergejolak. Sentuhan Kenzie terasa begitu jujur, begitu berdenyut. Kebencian yang tadi ia rasakan mulai tercampur dengan rasa kasihan dan ia benci mengakuinya, sebuah ketertarikan yang primitif. Kenzie selalu tahu cara membakar emosinya. Kenzie menarik Alana lebih dekat, hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Ia menundukkan kepalanya, menyapukan hidungnya ke pipi Alana, menghirup aroma sabun mandi dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. "Biarkan aku tinggal di sini malam ini, Al. Tidak akan ada paksaan. Aku hanya ingin memastikan pria itu tidak masuk lewat jendela atau pintu rahasia mana pun," gumam Kenzie. Ia mulai mencium garis rahang Alana dengan sangat pelan, memberikan sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh tubuh Alana. Alana memejamkan mata, membiarkan bibir Kenzie menyentuh kulit lehernya. Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu ia sedang bermain api. Namun di tengah kesepian dan manipulasi Nathan, gairah kasar Kenzie terasa seperti satu-satunya hal yang nyata. "Ken... hentikan..." desah Alana, namun tangannya justru mencengkeram jaket kulit Kenzie, menariknya lebih dekat. Kenzie mengangkat wajahnya, menatap Alana dengan tatapan yang sangat intens. Ia memegang tengkuk Alana, menatap bibir gadis itu seolah ia ingin menelannya utuh. "Kau membenciku, Alana? Katakan padaku kau membenciku saat kau merasakan jantungku berdetak sekeras ini untukmu," tantang Kenzie. Ia baru saja hendak menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang mendalam saat sebuah suara ketukan lain terdengar. Bukan dari pintu utama, melainkan dari arah balkoni kamar yang seharusnya tidak bisa dijangkau oleh siapa pun dari luar. Alana dan Kenzie tersentak. Mereka menoleh ke arah jendela balkoni yang tertutup tirai tipis. Di sana, sebuah bayangan siluet berdiri diam. "Alana, kau lupa kalau aku yang merancang vila ini," suara Nathan terdengar sangat tenang namun dingin dari balik kaca balkoni. "Dan aku tidak suka melihat milikku disentuh oleh tangan kotor yang tidak tahu cara menjaga kebersihan." Kenzie melepaskan Alana dan berjalan menuju jendela dengan amarah yang memuncak, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sesuatu di tangan Nathan yang terpantul oleh cahaya bulan. "Apa itu yang kau pegang, Kak?" tanya Kenzie dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi waspada. Nathan tersenyum tipis dari balik kaca, mengangkat sebuah amplop cokelat besar yang tersegel rapi. "Ini adalah dokumen adopsi Alana yang asli, Kenzie. Dan jika kau menyentuhnya sekali lagi, aku akan memastikan bahwa besok pagi, Alana bukan lagi adik angkat kita, melainkan orang asing yang sama sekali tidak punya hak atas nama Arkananta—dan kau tahu apa yang akan dilakukan Ayah padanya jika itu terjadi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN