Sepanjang pagi itu Daniel mengutuki keberadaan Abby. “Gadis sial”, pikir Daniel. “Bagiku saat ini gadis itu adalah gadis yang t***l, gadis yang menjijikkan, bahkan ketika ia telanjang sekalipun! Aku memang sempat merasa excitement saat melihat tubuhnya, saat ia membuka pakaiannya- namun yang kunikmati hanya bentuk tubuhnya, bukan wajahnya. Dan semakin lama kuperhatikan wajahnya, ia hanyalah gadis berwajah pesuruh. Sama seperti dugaanku saat pertama kali melihatnya. Dan sekarang ia tiba-tiba datang ingin mengusik uangku atas perintah ayahku. Sial!”
Daniel tak mau melihat sisi lain yang menarik dari diri Abby. Yang ia tau rasa bencinya muncul ketika mengingat wajah Abby, dan semakin memuncak dengan penolakan Abby untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. “Baru kali ini ada asisten si tua bangka itu yang melawan padaku. Ha! Dia pikir dirinya itu siapa? Dari semua asisten si tua bangka itu, baru kali ini ada yang segila dirinya."
"Berani-beraninya ia meminta tanda tanganku untuk mengakses seluruh kegiatan finansialku. Gila! Gadis sial itu benar-benar harus segera kusingkirkan. Aku harus semakin gencar mengintimidasinya, bahkan dengan cara terburuk sekalipun”. Namun mengintimidasi Abby bukanlah hal yang mudah saat ini, sebab gadis itu cukup memiliki keberanian untuk melawan Daniel.
Merencanakan satu hal yang buruk terutama yang terkait dengan ayahnya menjadi tantangan bagi Daniel. Kebencian Daniel kepada Greg bermula sejak 4 tahun yang lalu, saat ibu Daniel tekena kanker hati stadium IV, dimana kankernya telah menyebar ke kelenjar getah bening serta organ lain di dekatnya. Ibu Daniel tak bisa lagi menerima tindakan operasi dan hanya tinggal menunggu waktu menjemput ajalnya.
Dan suatu malam, Greg-ayahnya membawa seorang wanita muda pulang ke rumahnya. Di saat itulah Daniel memergoki Greg bercinta dengan wanitanya, di ruangan yang tepat bersebelahan dengan kamar ibunya. Malam itu Daniel yakin ibunya mendengar rintihan-rintihan laknat wanita itu, serta teriakan-teriakan menyebut nama Greg beberapa kali.
Hati Daniel hancur. Bagaimana mungkin ayahnya tega melakukan itu di dekat wanita yang paling dicintai Daniel? Sejak itu Daniel menjaga jarak dengan ayahnya. Sebab setelah peristiwa laknat itu terjadi, tak lama sang ibu betul-betul pergi meninggalkan keluarganya untuk selamanya. Sementara sang kakak-yaitu Dave memutuskan pergi dari rumah sebab jiwanya sangat terpukul dengan kematian ibunya. Dan Dave tak pernah tau ada sebuah rahasia yang disimpan Daniel di belakangnya.
Ketika Dave pergi, Daniel semakin merasa kesepian. Dave adalah orang terakhir yang ia cintai dalam keluarganya. Namun ia tetap harus berpikir jernih, ia harus tetap berada dalam bisnis ayahnya untuk merusaknya secara perlahan. Maka ia tak pernah pergi meninggalkan pekerjaannya demi mencuri sedikit demi sedikit, hingga tujuannnya membuat Greg kehilangan segalanya berhasil. Tak boleh ada yang menghalangiku, termasuk si Abby-The Ugly Duckling (itik buruk rupa) itu”, gumam Daniel.
***
Abby kembali ke ruangannya setelah hampir jam makan siang tiba. Rasa kesal pun terselip dalam hatinya, karena ia harus selalu melewati pintu luar ruangan Daniel untuk masuk ke ruang kerjanya. Sebuah aula besar memisahkan kedua ruangan mereka dengan ruangan-ruangan lainnya. Lantai 9 adalah lantai yang cukup sepi dan membuat Abby cukup bergidik, terutama ketika membayangkan tangan Daniel yang tadi pagi menyakitinya.
Dan kekesalan Abby bertambah karena di saat yang bersamaan Daniel keluar dari ruangannya. “HELL..O b***h! Kau belum pergi? Kau masih mau bertahan?” sapaan dan perkataan Daniel ditanggapi dengan muka masam oleh Abby.
Daniel mendekatkan wajahnya pada Abby dan bertanya, “Belum cukup keras kah tanganku tadi pagi?”. “Keras. Bahkan sangat keras. Tapi untuk menghadapi pria Corruptio (Korupsi/busuk-Red) sepertimu bukankah aku harus lebih tahan?” jawab Abby.
Bukannya takut, Abby malah lebih mendekatkan wajahnya lagi kepada Daniel dan berkata, “Bukankah sudah kukatakan padamu, aku takkan mundur dari pekerjaanku sekalipun kau membunuhku?”. Tangan Daniel mengepal, ingin menghajar wajah Abby saat itu juga.
Namun tiba-tiba senyum Daniel mengembang dan berkata, “Baiklah, jika itu yang kau inginkan”. Daniel tak bicara apapun lagi, ia segera pergi meninggalkan Abby.
Abby segera masuk ke ruangannya serta mengunci pintunya. Hatinya cemas dan kemudian ia menepuk-nepuk dahinya sambil bergumam, “Apa yang kukatakan padanya tadi?! Bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulutku? Dan bagaimana kalau ia benar ingin membunuhku? .. stupid! stupid Abby!”. Tapi rasanya tak mungkin lagi bila Abby harus mundur, sementara ia sendiri sudah mengibarkan bendera perang di depan wajah Daniel. Ia hanya bisa menunggu waktu untuk tau berapa lama ia bisa bertahan.
***
Pukul 7 malam Abby baru bisa beranjak dari meja kerjanya untuk pulang. Waktunya banyak terbuang ketika ia berbincang dengan Dave tadi pagi, sementara ia harus segera menyerahkan laporannya pada Greg. Gedung itu sudah mulai sepi, hanya terlihat beberapa pegawai yang sepertinya baru akan pulang seperti Abby. Seperti biasa, Abby berjalan ke area parkir untuk mengambil sepedanya.
“Arrrgghh..”, tiba-tiba rambut Abby ditarik dengan sangat kuat oleh seseorang.
Seorang pria bertubuh tegap mendekatkan kepala Abby ke wajahnya kemudian mendorong Abby ke arah sepedanya.
Tangannya mengepal, tak lama ia menghantam wajah Abby dengan satu pukulan hingga membuat Abby tersungkur dan mulutnya mengeluarkan darah.
“K-kau siapa? Kau mau apa?, tanya Abby.
Ia kembali mendekati Abby, menegakkan tubuh Abby untuk berdiri dengan mencengkram pipi Abby kuat- kuat dan kemudian menampar Abby. Lagi-lagi ia memberikan satu pukulan di mata Abby.
Abby sudah tak kuat untuk berdiri, pandangannya mulai kabur. Namun pria itu tak peduli. Beberapa kali ia menendangi perut Abby hingga Abby betul-betul tak sadarkan diri.
***
“Abby..Abby!!”, seseorang menepuk-nepuk wajah Abby perlahan. “Oh my God..Abby!”..
Sayup-sayup Abby mendengar suara seorang pria memanggilnya, perlahan ia mulai membuka matanya. “Abby..kau bisa mendengarku?”. Abby hampir memejamkan matanya kembali. “No..no..Abby, look at me!”. Ia kembali panik. “Air..air”, pinta Abby dengan suara lirih. Pria itu berlari ke mobilnya dan segera kembali membawa botol air. Ia mengangkat kepala Abby dan membantu Abby untuk minum.
Abby mulai bisa membuka matanya dan melihat sosok Dave di hadapannya. Dave memandanginya dengan rasa cemas. Butuh beberapa menit bagi Abby untuk mengembalikan sedikit tenaganya, dan Dave dengan sabar menunggunya. “Kita pergi ke rumah sakit”, ujar Dave sambil menggendong Abby ke mobilnya. Abby tak sanggup berbicara. Wajahnya penuh dengan lebam, perutnya merasakan rasa nyeri yg hebat.
***
Di rumah sakit Dave memperhatikan wajah Abby, ia tak habis pikir bagaimana seseorang bisa melakukan penyerangan di dalam gedung milik ayahnya. Dan orang yang diserang adalah Abby, gadis pendiam yang baru saja tadi pagi diajaknya bicara. Dave mengingat-ingat kembali saat ia menemukan Abby. Rasanya tak ada siapapun di sana kecuali tubuh Abby yang sudah terkapar dan sepeda Abby yang sepertinya dihancurkan oleh penyerangnya.
“Dave? Kau masih disini?” Abby mencoba untuk duduk. “Ssshh..Abby, istirahatlah”, Dave kembali merebahkan Abby untuk tetap tidur. “Aku membutuhkan ponselku, bisakah kau tolong ambilkan di tasku Dave?” pinta Abby. Dave segera mencari ponsel Abby di ranselnya.
Abby mengerutkan dahinya saat mencoba menghubungi seseorang. “Tak diangkat”, pikirnya. Ia kembali mencoba namun sepertinya tetap tak ada jawaban.
“Dave, aku harus segera pulang, my mom..”, Abby tiba-tiba berusaha untuk turun dari tempat tidur. “Apa kau gila? Kau tak lihat kondisimu saat ini? Kau butuh apa? Kau kan tinggal katakan kepadaku”, Dave memarahinya.
“Dave, kau tak mengerti, tapi aku harus segera pulang, ayo Dave, bantu aku”, Abby kembali berusaha untuk turun.
“Dokter takkan mengijinkanmu pulang malam ini. Aku pun tak mengijinkanmu. Katakan, apa yang bisa kulakukan untukmu?”, ujar Dave.
“My mom..Dave, ia tak mengangkat ponselnya. Aku takut terjadi apa-apa padanya.. apa aku boleh memintamu untuk melihatnya?” kata Abby. Dave segera menyanggupi dan meminta alamat rumah Abby.
***
Dave berkali-kali memastikan bahwa alamat yang dituju tak salah. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi ada banyak orang yang sedang berkumpul di sebuah rumah dengan alamat yang diberikan Abby. Ia pun memutuskan untuk berhenti dan memarkirkan mobilnya.
“Permisi, saya mencari rumah seseorang. Namanya Abby. Saya mau bertemu dengan ibunya. Apakah ini rumahnya?”, Dave menunjukkan sebuah kertas berisi alamat Abby kepada seorang pria paruh baya sambil menunjuk rumah itersebut.
“Dimana Abby sekarang?” ia balik bertanya. “Ibunya baru saja meninggal satu jam yang lalu di halaman rumah mereka. Sepertinya ia sedang menunggu Abby pulang, dan tiba-tiba ia terjatuh. Ketika kami mencoba untuk menolongnya, ia sudah tak bernyawa”, ujar pria itu.
Dave tak mampu berkata-kata. Wajahnya kebingungan, dalam 1 malam ia harus melihat 2 situasi yang sangat buruk. Ia tak tau harus bagaimana cara menyampaikan berita ini pada Abby dalam kondisinya saat ini. Dave meraih ponselnya, orang pertama yang harus ia hubungi adalah ayahnya, “Dad, it’s me. Bisakah kau menyuruh orang-orangmu menyiapkan sebuah pemakaman?”