Abby terbangun saat melihat pintu terbuka dan Daniel masuk ke dalam rumah, ia tertidur cukup lama di sofa menunggu Daniel kembali pulang. Ia langsung berdiri menghampiri Daniel dan menyentuh lengannya. “Kau pasti sudah lelah. Ganti dulu pakaianmu Dan. Aku sudah menyiapkannya di atas tempat tidur.” Kalimat dan ekspresi wajah Abby yang tidak menunjukkan rasa kesalnya semakin membuat d**a Daniel terasa sesak. Ada sisa air mata yang sudah mengering di wajah Abby dan matanya terlihat bengkak. Sepertinya sepanjang malam Abby menangis hingga tertidur. Namun Daniel terlalu malu untuk mengakui kesalahannya secara jantan. Egonya sebagai laki-laki membuatnya tak sanggup mengatakan maaf pada Abby atas perbuatannya. “Apa kau sudah makan?” Daniel berusaha membuka pembicaraan dengan Abby. “Belum. A

