7

1750 Kata
"Tiiiiinnnn...tiiin...” suara sebuah klakson berbunyi nyaring di depan rumah Abby keesokan paginya. Mata Abby begitu berat untuk terbuka, namun lagi-lagi klakson itu berbunyi dan mengusik telinganya. Abby beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu. Kepalanya begitu berat dan ia masih memicingkan matanya karena rasa kantuk dan lelah di tubuhnya. “Good morning”, Dave menyapa Abby dari dalam mobilnya ketika Abby sudah membuka pintu. Dave segera turun dan membawa sebuah kantung kertas. “Breakfast!” ucapnya sambil tertawa. “Thank you” jawab Abby  singkat dan tak bersemangat. Kemudian ia mengajak Dave masuk ke dalam rumah.  “Makanlah..”, Dave mengeluarkan 2 kopi hitam dan 2 sandwich dari kantung kertas yang dibawanya. Abby meneguk kopinya dan mengusap-usap wajahnya. Ia menutup mulutnya beberapa kali untuk menguap. “Kau darimana? Sepagi ini kau sudah tiba di sini.” tanya Abby dengan suara berat. “Pagi? Apa kau tak melihat ini sudah pukul berapa?”  Abby menatap jam dindingnya, dan ia baru menyadari bahwa ia sudah terlalu lama tidur. “Sudah pukul 9 pagi rupanya”. Ia sama sekali belum berselera menyentuh sandwich nya. “Abby, kau harus makan. Dari kemarin kau belum menyentuh sedikitpun makanan” paksa Dave. “Hari ini aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Kau harus segera mandi dan ikut denganku” lanjutnya. “Kemana?” “Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang kubeli 4 tahun lalu. Kita akan menghabiskan waktu beberapa hari disana, tapi kau harus menghabiskan dulu sarapanmu.” lanjutnya. Abby menatap wajah Dave dan merasa ragu, jangankan menginap, ia tak pernah menghabiskan waktu yang lama bersama seorang pria sebelumnya. “Hey..Aku ini pria baik-baik. Dan aku tak tertarik untuk menyentuhmu. Aku hanya membutuhkan teman untuk membersihkan tempat itu. Lagipula ayahku sudah memberimu cuti hingga akhir pekan ini bukan?” bujuk Dave.  Abby tertawa, “Jadi kau membutuhkan seorang petugas bersih-bersih? Aku tak bisa membayangkan betapa kotornya tempat itu setelah 4 tahun kau tinggalkan.” ”Jadi? Kau bersedia membantuku atau tidak?”. Akhirnya Abby mengangguk. Ia memang membutuhkan suasana dan kegiatan baru untuk melewatkan fase dukanya.   “Baiklah, kau tunggu sebentar. Aku akan mandi dan mengambil beberapa pakaian. Berapa hari kita akan tinggal disana?” tanya Abby kembali.  Dave hanya mengangkat bahunya dan membuat Abby kesal. “Jangan banyak tanya, makanlah dulu!”, jawab Dave. Abby melahap sandwichnya dan lagi-lagi bertanya, “Kapan kita kembali?”Kau janji tak akan berbuat hal-hal yang tidak baik padaku kan?" “Aku sudah katakan, aku ini pria baik-baik. Aku tak akan menyentuh gadis yang bukan kekasihku. Kita akan kembali lagi ke tempat ini hari minggu” jawab Dave. Abby akhirnya setuju dan bergegas mandi. Sambil menunggu Abby mandi, Dave berkeliling di dalam rumah Abby. Sebuah foto dipajang di atas sebuah meja kecil, foto Abby dan kedua orang tuanya. Mereka berfoto dengan latar belakang sebuah sungai dan jembatan.  Dave kembali memperhatikan foto dengan seksama, ada sebuah City Cat-yaitu sebuah angkutan sungai berwarna putih biru yang sedang melintas. Papa Abby ternyata orang Indonesia asli, sementara mamanya berwajah blasteran. Dave berpikir wajah Abby ternyata lebih mirip dengan sang mama dibanding papanya,  namun aksennya tidak seperti layaknya orang blasteran, lidah Indonesianya lebih kental. Abby terlihat lebih segar setelah selesai mandi, ia hanya menggunakan t-shirt dan celana pendek, sepatu kets dan topi baseball-seperti pakaiannya saat bersepeda. “Kau sudah siap?” tanya Dave. Abby hanya mengangguk dan meraih jaket dan ranselnya.  Lagu Coldplay mengalun pelan dalam mobil, dan Dave mengikuti Chris Martin bernyanyi... When the tears come streaming down your face... 'Cause you lose something you can't replace... When you love someone but it goes to waste... Could it be worse? Ia melirik pada Abby dan tangan Dave mengajaknya bernyanyi. Abby tertawa, awalnya ia bernyanyi dengan suara yang pelan, lambat laun ia mengikuti Dave bernyanyi dengan suara sekencang-kencangnya: Lights will guide you home... And ignite your bones.. And I will try to fix you... Dave dan Abby tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, tapi perasaannya lebih ringan. Abby mulai menikmati perjalanannya, Dave membawanya keluar dari kota selama 5 jam, hingga akhirnya mobil Dave memasuki sebuah pekarangan rumah. Sebuah tempat yang lucu menurut Abby, sebab pekarangannya lebih luas daripada rumahnya. Namun Abby sangat menyukainya, sementara rata-rata orang yang tinggal di kota lebih memilih ukuran rumahnya lebih besar daripada pekarangannya. Dave membuka kunci rumah dan mengajak Abby untuk masuk.  Saat masuk Abby terheran-heran, sebab bagian di dalam rumah itu tidak terlihat kecil seperti yang ia bayangkan dari luar. Langit-langitnya cukup tinggi, dengan furniture yang sederhana-namun terkesan minimalis modern.  Yang paling Abby sukai adalah sebuah ruang makan dimana meja makannya bersebelahan persis dengan dapurnya. Ruang itu memiliki konsep terbuka, jendela-jendela besar dan pintu yang terbuat dari kaca menjadi pengganti dindingnya. Kemudian kembali Abby berkeliling melihat ruangan-ruangan lainnya. Beberapa jenis sekat non-permanen pun digunakan untuk menjadi pemisah antar ruangan. “Dimana debu nya? tanya Abby. “Apa? Debu?” tanya Dave kembali. “Bukankah kau mengajakku kesini untuk membantu membersihkan tempatmu?” tanya Abby. Dave tertawa, ia mendorong Abby kembali ke arah dapur dan berkata, “Kau lebih memilih berurusan dengan debu atau kulkas?” Dahi Abby berkerut. Ia belum paham dengan perkataan Dave. “Debunya sudah dibersihkan. Aku bukan datang kesini dan menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang melelahkan. Seseorang sudah kuminta untuk membantuku mengurus beberapa hal yang belum selesai di sini, termasuk bagian luar rumah. Aku pun mengajakmu kesini bukan untuk menguras tenagamu Abby”. Abby terdiam, ia merasa bingung, ia merasa tak enak hati dengan Dave. Dave sudah membantunya dalam banyak hal, namun ia tak diijinkan melakukan sesuatu untuk membalasnya. “Kau bisa memasak?” Abby mengangguk. “Baiklah, mulai saat ini dapurnya milikmu. Kau bebas memasak apapun disana, dengan 1 syarat”. “Apa itu?” “Aku boleh makan masakanmu”. Abby tersenyum dan berkata, “Aku takut kau keracunan”. “Berusahalah membuatku tetap hidup. Kau masih membutuhkanku” jawab Dave sambil tertawa. Dave mengajak Abby berkeliling melihat bagian dari rumah itu.  Ternyata rumah itu terdiri dari 2 lantai dan semua kamar tidur terletak di lantai atas. Yang paling membuat hati Abby girang adalah ketika Dave memberikan Abby kesempatan untuk memilih sendiri kamar tidurnya.  Abby memasuki salah satu kamar dengan cat dinding berwarna putih serta furniture bernuansa coklat tua dan berbahan darkwood. Sebuah jendela besar yang dapat digeser dan menghadap langsung ke arah pekarangan. Kasurnya berukuran besar disertai dengan sprei dan bantal yang memiliki perpaduan warna putih dan krem.  Di kamar itu terdapat sebuah kamar mandi yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman. Sabun, peralatan mandi, serta beberapa handuk yang bersih dan lembut telah tertata dengan rapih. Bathtub nya berukuran sedang dan berwarna putih-yang disesuaikan dengan warna dindingnya. Sementara dindingnya dilapisi cat berwarna putih serta beberapa ornamen berwarna cerah, yang semakin membuat kamar mandi itu terlihat elegan. "Dave, bolehkah aku memilih kamar yang ini?" tanya Abby. Dave mengangguk. "Ia tak tau bahwa kedua kamar tersebut memang memiliki design yang sama persis" Dave tertawa geli dalam hati. *** “Beer?”, Dave membawa 2 botol bir dan menghampiri Abby yang duduk di sebuah kursi ayunan gantung di halaman samping-depan ruang makan. Abby mengambil bir tersebut dan Dave duduk di sebelah Abby. Dave mendorong kakinya ke lantai untuk membuat kursinya semakin berayun. “Aku melihat sebuah foto di rumahmu. Sepertinya aku mengenali tempatnya. Sepertinya kalian berfoto dengan latar Story Bridge dan sungai Brisbane. Apa kalian pernah tinggal disana?” tanya Dave. Abby menggeleng. “Kami hanya beberapa kali berkunjung ke sana, sebab kakekku memang berasal dari sana.” “Apakah masih ada keluargamu di sana?” “Ada. Namun aku tak begitu dekat dengan mereka kecuali kakekku. Sejak kakekku meninggal, kami tak pernah lagi kesana, Mom memiliki 2 saudara kandung, beberapa kali mereka berkunjung ke Indonesia, namun tak pernah mengunjungi mom”. Wajah Abby seperti tak ingin melanjutkan ceritanya, baru kali ini Abby bisa dekat dengan seorang pria. Namun Abby tetaplah Abby, seorang gadis yang sulit bercerita banyak tentang dirinya kepada siapapun. Seperti ada suatu batas yang menghalangi Abby untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi. Dan Dave bisa memaklumi itu dan mulai mengalihkan perhatian Abby. Ia kembali ke dalam rumah, mengambil sebuah gitar dan bernyanyi di dekat Abby. Sesekali Abby ikut bernyanyi bersama Dave. Terkadang Dave tak serius bernyanyi, dengan sengaja ia membuat lagunya menjadi lucu agar Abby tertawa.  Tiba-tiba bunyi sebuah kendaraan memasuki pekarangan. Lampunya sangat terang dan membuat mata Dave silau ketika menghampirinya. Tak lama turunlah seorang pria menyapa Dave dari kejauhan, pria itu datang bersama seorang gadis. “Dave!!! It’s me!” Pria itu berteriak dan lari menghampiri Dave serta memeluknya. Daniel datang bersama Jasmine. "Daniel? Bagaimana kau tau aku ada disini?" tanya Dave. "Itu tak penting, yang lebih penting adalah, bagaimana bisa kau datang ke Indonesia tanpa memberitahuku? Apa kau tak ingin bertemu denganku?' Daniel memukul pelan lengan kakak kesayangannya itu. Daniel tertawa. "No...no..bukan seperti yang kau kira, aku memang berniat untuk menghubungimu. Tapi ada beberapa yang membuatku menundanya". Belem selesai Dave menjelaskan kepada Daniel, tiba-tiba Jasmine mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menyalam tangan Dave. "Hai, aku Jasmine". Dave menatap Daniel seolah meminta penjelasan tentang gadis itu dan membuat Daniel menjadi kikuk. Lagi-lagi Jasmine membuka mulutnya dan berkata, "Aku kekasihnya". Tangannya mulai bergelayut ke lengan Daniel. "Well..Jasmine..it's really nice to meet you. Maaf, mungkin Daniel lupa untuk menceritakan tentangmu kepadaku. Kau tentu sudah lelah bukan? Daniel, c'mon...ajaklah Jasmine ke dalam", Dave berusaha tetap sopan pada tamunya. "Abbyyyy...kemarilah, meet my lil' brother.." Dave memanggil Abby untuk mengenalkannya pada Daniel. Abby tak mendengar jelas perkataan Dave, namun sepertinya Dave memanggilnya. Dan betapa terkejutnya  Abby karena saat ia menghampiri Dave, dilihatnya Daniel berada di belakang Dave bersama seorang gadis yang pernah dilihatnya.Tak hanya Abby, Daniel pun terkejut bukan kepalang melihat sosok Abby. “Kau!!!!.....Bagaimana gadis tengik ini bisa ada disini? Dave?!”  "Kau mengenalnya?" tanya Dave bingung mendengar ucapan Daniel Belum sempat Daniel melanjutkan perkataannya, Abby sudah berdiri dan memukul hidungnya. "Apa kau bilang? Tengik? Hei..pria pengecut! Pria tak berguna! Katakan padaku, kau yang menyuruhnya malam itu bukan?" Daniel yang tak terima kembali ingin membalas Abby dengan pukulan juga. "Stop! Kalian gila! Ada apa ini?" Dave melerai keduanya. Ia masih bingung dengan situasi saat itu.  Lagi-lagi Abby berteriak, "Jangan harap aku bisa memaafkanmu Corruptio!! Kau memintaku untuk pergi? Baik! Akan kulakukan! Tapi sebelum itu aku akan membalas semua perbuatanmu! Dave, aku pulang malam ini juga!". Abby berlari ke dalam rumah untuk mengambil tas nya dengan hati yang sangat marah. "Daniel, tunggu disini. Kau harus menjelaskan ini semua padaku!" Dave berkata keras pada Daniel dan segera berlari menyusul Abby. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN