Chapter 7

1314 Kata
" Mereka adalah Dark Eyes, dengan tiga pria yang memimpin. Aries, Juan, dan Groot, ketiganya memiliki kesenangan yang sama pada wanita. Jika Aries menyukai dirimu, maka mereka juga pasti sama. Mereka akan terus menyerangmu dengan membuat tubuhmu terus merasakan kejantanan mereka yang berada di dalam sana." Setelah menjelaskan tentang siapa ketiga pria yang menyetubuhinya, Gabby hanya bisa menghela napasanya. Betapa sialnya dirinya yang harus masuk ke dalam kandang ular. Gabby menyelesaikan makannya dengan segera, lalu ia ingin bangkit untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi. "Tuan, sudah berapa hari aku berada di atas ranjang?" tanya Gabby. "Tiga hari , Nona. Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari, dan hal itu sangat wajar," jelas Hector. Gabby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi ,dan melepaskan pakaian. Awalnya Gabby tidak begitu peduli dengan ingatannya yang hilang, tetapi ia menjadi terkejut saat melihat seluruh tubuhnya penuh dengan tanda merah. "Astaga!" Gabby kembali pada kegiatannya untuk membersihkan tubuh yang sudah terasa sangat lengket itu. *** Sementara itu, di ruang kerja Aries. Pria itu sedang menerima tamu di sana, tamu dengan pengawal yang terbuat dari cyborg dan juga seorang mutan. Pria itu terlihat sedang memainkan shotgun kesayangannya, dengan sesekali mengarahkan ujung shotgun pada wajah Aries. "Tuan, kau bisa memeriksanya sendiri. Kami melakukan kekacauan di sana karena sedang mencari seseorang," jelas Aries. "Apa orang itu dapat kau temukan?" tanya Pria itu. "Tentu saja." "Kau terlihat sangat percaya diri saat mengatakan hal itu," celetuk pria itu. Aries sedikit ketakutan saat mengetahui jika pria di hadapannya ,adalah pria yang sedang ramai dibicarakan oleh beberapa orang dengan kedudukan yang lebih tinggi. Aries menelan ludahnya kasar melihat ujung lubang shotgun itu mengarah tepat di kepalanya. "Tu-tuan ... mari kita bicara dengan baik-baik. Apa yang sedang anda cari ,dan anda inginkan?" tanya Aries. "Wanita, kau menyembunyikannya di sini."  "Wanita yang mana ,Tuan? Di sini ada banyak wanita," ujar Aries. "Kalau begitu bawa mereka ke hadapanku sekarang juga, maka aku akan memilih salah satu di antara mereka," ujar pria itu. "Ba-baiklah." Aries menekan sebuah tombol pada pinggiran meja kerjanya, lalu tidak lama kemudian, Hector datang. Pria itu masuk dan menyapa Aries dengan tamunya.  "Bawa para b***k itu kemari," ujar Aries pada Hector. "Baik, Tuan," jawab Hector. Hector berjalan menuju semua kamar tempat para b***k Aries berada, hanya saja Aries sudah berpesan pada Hector untuk menyisakan satu untuknya. Setelah mengumpulkan para b***k itu, Hector kembali ke ruang kerja Aries.  Ia membawa semua budaknya ke hadapan Aries, kecuali satu wanita yang Hector sisakan untuk Aries. "Silakan ,Tuan. Mereka adalah b***k di sini," ujar Aries. "Masih ada yang belum kau bawa kemari," celetuk pria itu. Aries dan Hector saling menatap, mereka tidak mengerti bagaimana bisa pria itu mengetahui siapa yang belum dibawa Hector. Tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan barettanya dan menembak lengan kanan Aries. DOR "Argh!" teriak Aries. "Aku tidak akan mengulang perkataanku!" "Ba-baiklah! Bawa wanita itu kemari!" ujar Aries. Hector kembali ke dalam kamar istimewa yang ditempati oleh Gabby. Hector membawa Gabby ke hadapan Aries dan pria itu. Lalu tiba-tiba saja pria itu menarik tangan Gabby ,dan membawanya pergi dari sana. "Cloud, kita pulang ke Sala!" ujar pria itu. Gabby hanya terdiam melihat pria itu membawanya pergi dari sana. Kali ini ia hanya bisa pasrah dengan hidupnya, entah apalagi yang akan para pria itu lakukan pada tubuhnya.  "Tuan, akan kalian bawa kemana aku?" tanya Gabby. "Ke Sala, rumahku." "Apa pria itu menjualku pada kalian?" tanya Gabby. "Tidak. Apa kau lupa dengan wajahku?" tanya pria itu. "Maaf ,Tuan. Pria itu memberikan sebuah obat padaku, sehingga aku melupakan beberapa kejadian di masa lalu," jelas Gabby. "Siapa namamu?" tanya Pria itu. "Entahlah ... Gabby, mungkin ...," jawab Gabby ragu. "Cloud cari tahu siapa nama wanita ini," titahnya pada seorang cyborg bernama Cloud. "Namanya Tiffany Demi Solomon, anak dari Tuan Demi, ibunya menikah lagi dengan Maynard," jelas Cloud. "Kau dengar?" Tiffany mengangguk, ia seperti terkejut dengan cyborg itu. Tentu saja, tidak ada yang bisa menyembunyikan data diri asli dari Cloud, karena ia di program untuk mengetahui segala jenis data setiap orang yang ada di dunia, melalui teknologi The Eyes yang sudah di tanam pada chip milik Cloud. "Kau pernah bertanya padaku tentang sebuah pekerjaan bukan?" tanya pria itu. "Siapa namamu ,Tuan?" tanya Tiffany. "Darren Bradford," ucapnya. "Apa pekerjaan yang akan kau berikan itu?" "Pelayan pribadiku." "Apa saja yang akan kulakukan di sana?" tanya Tiffany. "Apa kau tidak tahu bagaimana seorang pelayan bekerja?" "Maaf ,Tuan. Aku biasa bekerja sebagai bartender dan juga pelayan toko," terang Tiffany. "Lakukan sebisamu, dan ingat jika kau adalah pelayan pribadiku! Jangan pernah melayani orang lain di rumahku," tegas Darren. Tiffany mengangguk mengerti, ia memilih diam setelah itu. *** Tiffany tertidur selama perjalanan menuju Sala Silvermine, Darren menggendong tubuh wanita itu dan membawanya ke dalam sebuah kamar. Pria itu merebahkan tubuh Tiffany di atas ranjang berukuran king size. "Cloud, suruh Helen merawatnya hingga kondisinya membaik, jangan lupa untuk memberikan YoungLin," ujar Darren. "Baik, Tuan." Darren keluar dari kamar itu dan menuju ruang kerjanya. Sementara Cloud menemui Helen untuk memberitahu tugasnya. "Ada seorang wanita di dalam kamar utama nomor lima, namanya Tiffany. Kondisinya sedikit mengalami gangguan dan juga trauma, berikan YoungLin sesuai dosis biasa agar keadaannya lebih baik lagi," jelas Cloud. "Baiklah, kau akan merawatnya," jawab Helen. Selesai menyampaikan pesan dari Darren, Cloud menghampiri Darren di ruang kerjanya. Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. "Tuan, jika Nona Bianca melihat wanita itu di dalam kamar utama, ia bisa saja mengamuk," ujar Cloud pada Darren. "Kalau begitu beritahu Bianca untuk bersikap manis, jika tidak, wanita itu akan aku usir dari Sala!" tegas Darren. "Baik ,Tuan." Baru saja mereka membicarakan mengenai Bianca, wanita itu terlihat masuk ke dalam ruang kerja Darren ,lalu menghampiri pria itu. "Sayang, kenapa kau tidak memberitahu aku jika sudah datang?" tanya Bianca. "Apa kau tidak melihat jika aku sedang berbicara pada Cloud?" Bianca mengerucutkan bibirnya, lalu beranjak dari sana menuju sofa yang ada di sudut lain ruangan itu. Sembari menunggu Darren , Bianca memainkan ponsel miliknya. "Tuan, aku sudah memberitahu Helen untuk merawat Nona Tiffany," jelas Cloud. Bianca yang mendengar nama seorang wanita disebut langsung berdiri dan memastikannya. "Siapa dia?" tanya Bianca. "Pelayan baruku," jawab Darren dengan santai. "Owh, seorang pelayan. Kenapa sepertinya pelayan itu memiliki kedudukan yang istimewa?" "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" "Tentu saja karena Tante Helen. Ia ikut turun secara langsung untuk merawat pelayan?" "Jaga ucapanmu!" "Atau apa? Kau harus ingat jika pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari! aku tidak ingin hanya karena seorang pelayan, pernikahan kita berakhir menyedihkan!" ujar Bianca kesal. "Yang perlu kau ingat, aku tidak akan menikahi wanita yang tidak menurut padaku, dan selamat! Kau baru saja membatalkan pernikahan denganku!" ujar Darren dengan tegas. Bianca terduduk lemas, bagaimana bisa pria itu membatalkan pernikahan yang akan mereka laksanakan dalam beberapa hari lagi. Bianca mencoba untuk menenangkan dirinya sejenak, lalu ia akan mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini. "Kau tidak bisa membatalkan pernikahan itu, aku tidak ingin pernikahanku batal!" ujar Bianca. "Apa kau ingin menikah dengan orang lain? Aku bisa saja menyuruh beberapa pria menikahimu," celetuk Darren. "Kau gila! Aku tidak akan pergi dari sini!" seru Bianca. "Kau bisa tinggal di sini sesukamu, tetapi jika kau mengganggu salah satu kesenanganku, aku bisa saja menembak kepalamu!" "Ka-kau tidak bisa membunuhku begitu saja, Darren!" bantah Bianca. Bianca keluar dari ruang kerja Darren ,lalu berlari menuju kamar pribadinya yang ada di Sala. Darren hanya mengangkat bahunya sekilas, lalu kembali melihat berkas yang ada di atas meja kerjanya. "Tuan, Nyonya besar ingin anda pulang ke mansion besok," ujar Cloud. "Apa ada Alexa di sana?" tanya Darren memastikan. "Tidak ada ,Tuan. Nona Alexa sedang berada di Paris," terang Cloud. "Apa sekarang ia sedang bersama keluarga ular itu?" tanya Darren lagi. "Iya, Tuan." Darren berdecak kesal mendengar adik kesayangannya akan menikah dengan keluarga Golden Snake. Ia masih belum bisa berpindah ke lain hati, karena Alexa adalah wanita pertama yang ia cinta. Meski kenyataan pahit harus ia terima ,karena Alexa adalah adik kandungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN