Tiffany kembali membuka mata, ia menatap pada ruangan yang tidak diketahuinya. Matanya menyusuri setiap sudut di sana. Ruangan itu terlihat seperti sebuah kamar yang lembab, cahaya di ruangan itu juga sangat minim. Wanita itu tidak dapat mengingat apapun atas kejadian sebelum ini. Entah apa yang terjadi sehingga membuat dirinya berada di sana. Tiffany ingin bergerak bebas dan berteriak. Sayangnya, tangan wanita itu terikat kebelakang, dengan mulut yang tertutup kain hitam. Rasa nyeri juga ia rasakan pada bagian bawahnya, hingga membuat dirinya berfikir telah diperkosa untuk kesekian kalinya. Entah sudah berapa lama dirinya berada di ruangan itu, tidak ada seorang pun yang masuk ke sana. Bahkan tidak ada suara lain selain dencitan dari tikus dan serangga yang tiba-tiba saja melintasi tubu

