#14 Pria Mana Yang Tak Tergoda?

1029 Kata
Keesokan hari, setelah mengantar Andreas ke kantor, Indra diperintahkan untuk kembali ke apartement. Hari ini dia ditugaskan untuk mengantar Tasya belanja kebutuhan di apartment seperti bahan makanan dan toiletries. Karena Tasya kurang paham daerah apartemen Andreas akhirnya hanya meminta Pak Indra untuk mengantarnya ke supermarket terdekat saja yang cukup lengkap. Setelah selesai belanja dan membereskan barang belanjaan yang cukup banyak di lemari dan kulkas, Tasya ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan kegiatan lainnya. Dering ponselnya mengagetkan Tasya, jantungnya mulai berdetak cepat. Di layar ponsel tertera "Tedy" ! Tasya tidak berani menyentuh ponselnya, dibiarkan berdering sementara dia sendiri duduk memeluk lututnya di balik pintu masuk sampai akhirnya dering ponsel berhenti. Namun tak lama kemudian berdering kembali, begitu seterusnya sampai battery ponselnya habis. Tasya tak berani menggerakkan kakinya, ketakutan menyelimuti perasaannya dan akhirnya tertidur dalam posisi yang sama. Bunyi anak kunci dan pintu yang terbuka membangunkan Tasya. Dia bergeming, diam. "Tedy kah? Dari mana dia tahu keberadaanku?" batin Tasya. "Sya..Tasya...?" "An...kamukah itu?" tanya Tasya memastikan pendengarannya. Andrean menyalakan lampu ruang utama yang tombolnya paling dekat dengan pintu masuk, seketika ruangan terang benderang dan betapa terkejutnya melihat Tasya yang duduk di lantai dengan mata sembab. Dia berjongkok dan membantu Tasya untuk berdiri. "Kenapa kamu duduk disini dalam gelap?" lalu memapahnya ke sofa. "Aku khawatir sekali, ponsel mu tidak dapat dihubungi." mendengar kata ponsel, Tasya baru teringat "Baterainya habis, tadi....tadi Tedy menelepon terus menerus. Aku ....Aku tidak berani menjawabnya." cicit Tasya. Setelah Tasya tenang, Andreas memintanya untuk bersih bersih mengingat waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Sementara itu dia menelepon restoran yang terletak di basement apartment untuk mengantar dua porsi nasi goreng special. Nasi goreng sudah tersedia di meja makan, namun Tasya tak kunjung keluar dari kamarnya. Tok Tok Tok....Andreas mengetuk pintu kamar Tasya dan menunggu. Kembali dia mengulanginya lagi namun tetap tidak ada sahutan dari balik pintu. Rasa khawatir kembali dirasakan Andreas, dicoba untuk menekan gagang pintu dan terbuka. Ternyata Tasya tidak mengunci pintu kamarnya. "Sya.."panggil Andreas, tetap tak ada sahutan. "Aku masuk yah..." ijin Andreas. Kamar tamu yang ditempati Tasya tidak terlalu besar dan bernuansa minimalis, hanya ada ranjang berukuran queen dan sofa kecil serta meja yang sekalligus berfungsi sebagai nakas.Sementara itu di sudut dekat jendela terdapat lemari pakaian dan ada sebuah pintu yang menghubungkan dengan kamar mandi. Terlihat Tasya sudah membongkar sebagian barang barangnya. Tidak menemukan Tasya di dalam kamar, Andreas kini mengetuk pintu kamar mandi. Baru ingin mengetuk tiba tiba pintu terbuka dan "AAAAhhhhh...." Tasya menjerit. Bukan karena ada serangga namun karena ada Andreas yang berdiri dibalik pintu dan ....dia tidak mengenakan apa pun alias telanjang.... Menyadari hal itu Andreas langsung menutup matanya dengan kedua belah tangannya. "Sorry....sorry...." "Awas ya ! jangan buka matanya. Aku harus mengambil handuk dulu di lemari." ucap Tasya dan dengan tergesa gesa berlari menuju lemari pakaian. Lalu setelah menemukan handuk segera kembali ke dalam kamar mandi dan menutup serta mengunci pintunya. Mendengar suara pintu dikunci Andreas memicingkan sebelah matanya "Aman Sya?" "Ya, aman." sahutnya "Sorry....aku panggil panggil dari tadi gak nyahut, aku pikir kamu pingsan di dalam kamar mandi" jelas Andrean agar Tasya tidak salah paham. "Dasar! lelaki dimana saja mah sama aja. Seperti kucing, disodorin ikan pasti dilahap padahal sudah kenyang." oceh Tasya masih kesal. "Aku belum makan Sya, nasi gorengnya masih utuh di meja makan. Dan....sumpah tadi aku tidak sempat melihat apa apa loh!" Sahut Andrean sedikit berbohong lalu tersenyum. Pikirnya kebohongan itu perlu dilakukan agar Tasya merasa nyaman tinggal bersamanya. Padahal tadi Andreas sempat melihat gundukan p******a Tasya yang aduhai....dan tentu saja membangkitkan gairahnya. Segera dibuang jauh jauh otak mesumnya, khawatir 'adiknya' mulai bangun. "Aku tunggu di ruang makan yah..." teriak Andreas sebelum keluar dari kamar Tasya sambil mengelus elus 'adiknya' supaya tidur kembali. Andreas sedang menikmati nasi gorengnya ketika melihat Tasya keluar kamar dan berjalan kearahnya. Tasya mengenakan short pants dan kaos longgar yang cukup tipis, cukup menggoda. Namun buru buru Andreas mengalihkan pikirannya dengan hal lain. "Sya...sorry aku makan dulu . Lapar banget!" seru Andreas "Parah kamu An....gak nungguin aku. Hm...keliatannya menggoda sekali nasi gorengnya yah..." sahut Tasya kemudian duduk dan langsung menyuap nasi goreng. "Kamu yang menggoda sekali Sya..." batin Andreas. Sengaja Andreas tidak membahas mengenai masalah telepon dari Tedy, dibiarkan Tasya menikmati makan malamnya yang kemungkinan juga menjadi makan siangnya. Mereka menikmati secangkir coklat panas di balkon, angin semilir mulai dingin berhembus memainkan anak rambut Tasya. "Hari ini semua yang bertemu aku pasti menanyakan mengenai luka lebam di pipi ini dan kamu, sampai capek jawabnya." ucap Andreas memecahkan keheningan. "Trus jawaban kamu apa?" "Senyum saja, dan kalau kamu aku jawab kamu sakit." "Bisa lama luka aku sembuh An, masa aku cuti sakit sampai seminggu?" "Biar saja, kan akhir minggu ini kita ke Malang bukan?" ingat Andreas "Ohh ya...aku belum book hotel dan pesawat loh." ujar Tasya sambil menepuk jidatnya. "Besok kukerjakan. Kamu maunya berangkat pagi kan? dan hotelnya seperti yang kamu pergi terakhir?" Andreas menganggukan kepalanya. "Sya...nomor telepon kamu ganti saja ya? Dari pada diteror terus sama Tedy?" Andreas mulai pembicaraan yang lebih serius. "Aku juga berpikiran gitu, tapi dia sudah tahu tempat kerja aku dan tidak mungkin aku bersembunyi selamanya dari aia bukan? Mungkin...jika aku sudah siap, aku akan menemuinya." "Aku enggak setuju dengan ide kamu. Itu namanya nyerahin diri untuk masuk ke kandang macan." "Kalau sekarang aku masuk ke kandang apa?" delik Tasya "Sekarang? Maksudmu disini? Memang Apartmen ku seperti kandang?" Andreas tersinggung rupanya. "Just kidding....gak asik nih si bos buat becanda ah.." "Bas Bos Bas Bos....." gerutu Andreas "Hahahaha...kurang selera humor nih...." ejek Tasya lalu mencubit pipi Andreas dengan lembut. "Jangan cuma di cubit doang, dikiss ah..." tantang Andreas Tiba tiba 'CUP' sebagai tanda terima kasih Tasya kepada Andreas dihadiahi sebuah ciuman di pipinya. "Thank you...." bisik Tasya tepat di depan telinga Andreas kemudian beranjak masuk ke dalam apartmen. "Wah...udah cium kabur...!!!! Oiii...tanggung jawab!" susul Andreas "Tanggung jawab apa? Memangnya aku berbuat salah apa ya??" Tasya membalikkan tubuhnya mendadak dan 'BUK' Andreas tak sengaja menubruknya dan mereka berdua terjatuh ke sofa ruang tamu. Dan tentu saja posisinya sangat menguntungkan Andreas. Wajah mereka sangat dekat sekali, Tasya dapat merasakan hembusan napas Andreas. "Ehem...bos...berat nih!" tegur Tasya dan mendorong d**a Andreas agar menjauhinya. "Upss. sorry...sorry...." buru buru Andreas berdiri. "Hampir saja kebablasan gue" batinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN