Altair duduk di kursi depan Jenny, Jenny menuangkan teh pada cangkir, lalu mengulurkannya pada Altair. Pria itu menatap teko kaca di mana Jenny membuat teh yang diberikannya padanya. Bunga berwarna biru terlihat pada saringan kaca di dalam teko, lalu Altair mengarahkan pandangannya pada bunga yang tadi ditunjukkan Jenny padanya. Rasa ngeri menjalar ke penjuru hati Altair. Entah mengapa hati kecilnya berkata, jika Jenny berusaha meracuninya. Melihat perubahan sikap Jenny membuat Altair merasa jika wanita itu mampu melakukan apa pun untuk menyingkirkan ataupun menyakitinya.
Jenny yang menyadari hal itu pun tertawa sumbang. “Kenapa nggak diminum tehnya?”
Pria itu tersenyum tipis dan menggeleng. “Masih panas.”
Jenny menyentuh teko tehnya dan tersenyum pada Altair. “Padahal, ini udah nggak panas sama sekali,” Jenny menyesap tehnya sembari menatap lurus ke arah Altair yang tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya, “Kamu takut kuracuni?” Jenny menatap pria itu dengan tatapan meneliti, sedang Si pria menggeleng dan tersenyum kikuk.
“Ini bunga Telang dan nggak beracun. Kamu bisa mencarinya di lama pencarian jika nggak mempercayaiku. Lagipula, aku akan ikut mati jika aku meracunimu dengan minuman yang juga kuminum. Apa kamu pikir, aku ingin mati bersamamu?” Jenny tersenyum miring, “Hidupku terlalu berharga untuk dibuang pada orang sepertimu. Lagipula, kita bukan Romeo dan Juliet yang berakhir mati bersama. Masih banyak yang ingin kulakukan, banyak tempat yang mau ku kunjungi dan perselingkuhganmu nggak akan menghentikan duniaku, Mas.”
“Sudah kubilang kalau kamu salah paham, Jenny. Semua ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku dijebak dan aku nggak pernah sekalipun mengkhianati cintamu. Aku menjaga dengan baik pernikahan kita. Aku mencintaimu. Kamu tahu itu, Sayang,” Altair menggenggam erat kedua tangan Jenny dan menatap ke dalam manik mata wanita di hadapannya.
“Jika cinta, kamu nggak akan pernah berkhianat,” Jenny menatap tajam pria yang kini memasak wajah sok tak berdosanya, “Kamu pikir, aku nggak mengetahui semua perbuatanmu?”
Altair tak mampu menyembunyikan keterkejutan pada wajahnya, mamun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya agar Jenny tak dapat membaca perasaannya. Ia yakin, jika Jenny hanya berusaha memancingnya. Wanita itu tak mungkin mengetahui semua perbuatannya. Altair sudah memastikan membersihkan jejak-jejak kejahatannya sebelum pulang ke rumah dan rasanya tak mungkin sikapnya yang was-was memiliki celah bagi Jenny untuk mengetahui kesalahannya.
“Aku nggak mengerti apa yang kamu maksudkan, Sayang. Aku mengaku khilaf, tapi aku nggak pernah sekalipun mengkhianati cinta kita. Aku dijebak. Kamu tahu sendiri, betapa mengerikannya dunia politik. Semua orang saling menyikut demi kepentingan sendiri,” ucap pria di hadapan Jenny dengan khawatir, sedang Jenny tampak tak lagi mempedulikan setiap kata yang pria itu ucapkan. Kepercayaan yang dihancurkan tak lagi mungkin bisa diperbaiki lagi.
Jenny terdiam sesaat, sedetik kemudian tawanya pecah. Sungguh konyol bagaimana cara Altair berusaha membuatnya kembali menjadi seorang wanita bodoh. Pria itu lupa, jika perselingkuhan akan selalu meninggalkan luka. Tak perlu alasan untuk membenarkan kesalahan yang pria itu lakukan karena Jenny telah mengetahui semuanya dan tak mungkin lagi pria itu bisa membodohinya dengan mengumbar cinta yang tak lagi memiliki makna.
“Sudahlah, Mas. Kamu berhadapan dengan mantan model dan juga aktris yang pernah memenangkan penghargaan sebagai aktris terbaik. Kamu tahu benar, jika aku lebih pintar berakting darimu,” Jenny berkata dengan sarkastis, “Kemampuan aktingmu sebagai seorang politikus nggak bisa dibandingkan denganku,” lanjut Jenny menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku yang berada di taman itu. Jenny menatap tajam pria di hadapannya.
“Mari kita bicarakan perceraian karena aku nggak akan bisa tertipu denganmu. Semua tuntutan itu harus segera menjadi milkku. Oh ya, kata pengacaraku, kamu belum menandatangani surat perceraian kita. Padahal, aku berharap proses yang rumit ini segera berakhir. Aku ingin pergi berlibur dan menikmati hidup,” Jenny tersenyum senang, “Sudah beberapa bulan ini, aku selalu menunggumu seperti orang bodoh. Anehnya, saat nggak ditunggu kamu malah pulang ke rumah ini. Kupikir, kamu lupa kalau kamu memiliki rumah.”
“Bagaimana caraku membuatmu kembali mempercayaiku, Jen?” pria itu menatap Jenny sendu, namun Jenny tahu kesedihan di mata pria itu hanyalah bagian dari aktingnya saja.
Dulu sekali, Jenny selalu menomersatukan pria itu. Pria itu tak perlu memohon seperti ini karena Jennya akan selalu memberikan pengampunan dan juga kepercayaan penuh pada pria itu. Pertama kali ia mengetahui perselingkuhan pria itu karena salah seorang rekan modelnya, Jenny pun tak mau mempercayai apa yang orang-orang katakan padanya. Hingga akhirnya, ia melihat ponsel yang tak pernah dilihatnya terletak di ruang kerja suaminya. Melihat hal tak biasa itu membuat hatinya berkata untuk mencari tahu rahasia yang disembunyikan suaminya.
Betapa terkejutnya Jenny saat melihat banyak pesan mesra pada aplikasi pesan pria itu. Pria itu kerap tak terjangkau di depan umum, menanamkan pemikiran jika hanya Jenny yang menjadi Si beruntung yang bisa menikmati semua hal yang ada di diri pria itu, namun di belakangnya, pria itu bermain api dengan banyak wanita. Sungguh tak bisa dimaafkan.
Berbulan-bulan Jenny hidup bagai seorang bodoh yang tak tahu apa yang harus dilakukannya. Menanyakan pada dirinya sendiri akan kekurangannya. Ia menjalani tahap di mana menyalahkan diri sendiri adalah hal yang terbaik, hingga ia tak lagi sanggup menahan segala sesak yang mencekik lehernya. Ia mulai meminta bantuan seseorang untuk mengumpulkan bukti dan membalaskan dendam pada suaminya. Pria itu harus tahu, jika Jenny tak mungkin bisa dijatuhkan dengan semua pengkhianatan itu.
“Kamu nggak perlu mengusahakan apa pun lagi untuk menggoyahkan hatiku. Tuntanku masih tetap sama dan nggak akan mengurangi apa yang kutuntut. Aku mau mengajakmu membicarakan bisnis karena nggak ada perasaan yang tersisa di dalam hatiku. Aku sudah mengemas semua barang-barangmu, kecuali jam mahalmu. Aku pikir, aku yang janda ini akan lebih memerlukannya dari padamu, Mas.”
Pria itu tertawa renyah. “Apa kamu benar-benar berusaha membuatku bangkrut, Jen? Kamu mau merampokku? Kamu membuang semua foto, pakaian, dan sepatuku, tapi menahan jam tanganku,” pria itu menatap Jenny dengan tatapan tak percaya, sedang Jenny tak terpengaruh apa pun dengan tatapan pria itu padanya.
“Pakaian dan sepatumu memang mahal juga, tapi aku nggak akan mudah menjual semua itu jika aku butuh uang, jadi lebih baik aku mengambil jam tanganmu saja. Kita nggak akan tahu bagaimana masa depan nanti. Aku harus mempunya jaminan.” Jenny tersenyum manis.
“Apa kamu benar-benar yakin mau melakukan semua ini padaku? Kamu mau semua ini berakhir? Apa dengan menguras hartaku seperti ini bisa benar-benar membuatmu bahagia?”
Jenny mengangguk. “Aku baru sadar, jika tanpamu aku akan lebih bahagia, Mas. Berada di sisimu membuatku sesak nafas,” Jenny meneliti sepasang netra di hadapannya, “Tampaknya, sejak awal, hanya aku yang mencintai.”
“Kamu tahu kalau aku nggak mungkin bisa memberimu sebanyak itu setiap bulannya.”
Jenny tersenyum, lalu mengeluarkan dokumen yang dikeluarkannya dari tas yang berada di dekat kaki kursi yang ditempatinya. “Kamu adalah seorang pengusaha kaya, Mas. Gajimu dengan bekerja sebagai anggota DPR juga bisa menambah pundi-pundi uangmu. Belum lagi, semua hal korup yang kamu lakukan. Kamu menerima suap yang membuatmu semakin kaya. Tuntutanku nggak berarti apa pun, Mas. Jangan bercanda dan membuatku mau tertawa mendengarnya. Kamu nggak akan mungkin medadak miskin karenaku.”
Altair membuka dokumen yang dilemparkan Jenny tadi dan tak percaya melihat beberapa dokumen yang menyatakan beberapa usaha dan property yang dimiliki oleh Altair. Ia tak menyangka wanita itu telah menyelidiki banyak hal tentangnya dan merencanakan semua ini.
“Cepat tandatangani surat cerai yang kukirimkan padamu, bawa semua barangmu dengan damai, dan jangan lagi berdebat, Mas,” Jenny menyondongkan dadanya ke depan, mempertipis jarak di antara wajah mereka dan tersenyum manis, “Perselingkuhanmu akan selalu meninggalkan luka, oleh karena itu aku nggak mau lagi bertahan di atas rasa sakitnya. Kamu tentunya masih ingat kalau aku memiliki senjata yang bisa menjatuhkanmu, jadi jangan lagi mencoba merayuku karena Jenny yang kamu kenal sudah lama mati,” lanjut Jenny kembali duduk di tempatnya sembari menatap Altair lekat, sedang yang ditatap mengeraskan rahangnya dan segera bangkit berdiri meninggalkan Jenny yang terlihat gila baginya.