Jenny melebarkan langkahnya begitu melihat orang suruhannya sudah berdiri di samping mobilnya. Wanita itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tak ada seorangpun yang melihat mereka. Ia tak ingin menimbulkan skandal baru yang akan membuat banyak media menyoroti kehidupannya. Jenny memang bukan seorang aktris terkenal, ia hanya seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan uang suami seperti kebanyakan kaum sosialita yang belakangan menjadi teman-teman penuh kepalsuannya. Percaya atau tidak, Jenny muak hidup seperti itu. Tak ingin lagi mengimbangi suaminya yang tak pernah memikirkan hatinya.
“Pindahkan dia ke mobilku,” ucap Jenny begitu sudah berdiri berhadapan dengan pria yang dipekerjakannya untuk membantunya menguak semua kebusukan suaminya selama ini.
Pria yang memikili loyalitas dan kesetiaan yang tak perlu diragukan lagi. Itulah yang membuatnya suka berbisnis dengan pria itu. Tak hanya memikirkan uang, namun menjaga nama baik. Ia tak ‘kan memberitahukan sumbernya, walau apa pun yang terjadi. Tak seperti suaminya yang tak bisa menjaga kesetian yang terkesan susah-susah gampang.
Jenny membuka pintu mobilnya, sementara pria itu segera memindahkan tubuh selingkuhan suaminya pada jok belakang mobil Jenny. “Pekerjaan saya sudah selesai. Saya harus segera kembali,” ucap pria itu berpamitan.
Jenny mengulurkan tangannya. “Terima kasih banyak atas bantuanmu. Aku akan segera mentransfer sisa bayarannya dan aku minta semua bukti yang sudah kamu kumpulkan. Kirimkan ke alamat emailku. Aku harus segera mengakhiri semua penyiksaan ini.”
Pria itu menerima uluran tangan Jenny dan mengucapkan terima kasih. Jenny segera masuk ke dalam mobilnya, lalu ia melirik ke jok belakang mobilnya. Memperhatikan wajah wanita yang mampu membuat suaminya berpaling. Diamatinya wajahnya itu dalam-dalam. Bukan narsis atau besar kepala, akan tetapi Jenny tak menemukan keunggulan wanita itu. Wajah dan tubuh Jenny jauh lebih unggul dari wanita itu, membuatnya heran mengapa Altair berselingkuh dengan seorang yang jauh di bawahnya. Jenny tak mengerti pemikiran pria itu.
Apa yang tak dimilikinya yang ada pada wanita itu? Bukankah Jenny memiliki segalanya? Begitu juga cinta tulus yang hanya diberikannya untuk pria itu, lalu mengapa Altair pergi meninggalkannya, hanya untuk wanita dengan riasan tebal? Sungguh Jenny tak habis pikir alasan semua pengkhianatan ini. Mungkin memang manusia tak pernah merasa cukup.
Tak ingin menyiksa bathinnya lebih parah lagi, Jenny segera melajukan mobil meninggalkan parkiran hotel tempat di mana ia menghancurkan segala yang dimilikinya bersama dengan pria yang telah menjadi dunianya. Kini, tak ada lagi yang ia inginkan selain kehancuran.
Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itu membawanya ke daerah Cipanas, tempat di mana villa yang menjadi saksi akan cinta yang dijanjikan kekal selamanya terjadi. Tempat di mana Jenny merasa mabuk walau dirinya tengah dalam keadaan sadar. Cinta yang kini tak seperti yang pria itu janjikan padanya dulu.
Dengan bantuan penjaga villa yang dipekerjakannya, Jenny berhasil memindahkan wanita itu ke dalam kamar kosong yang berada di villa. Jenny mengikat wanita itu ke kursi, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
“Jangan adukan hal ini pada Tuan,” ucap Jenny saat menyesap teh di teras ditemani oleh Jaka, penjaga villa mereka.
“Baik, Nyonya,” pria muda itu menatap Jenny ngeri. Wajah Jenny sangat berbeda dari biasanya. Tak seramah dan selembut ketika mereka sering bertemu, seakan bukan lagi orang yang sama. Padahal, baru tiga bulan lamanya Jaka tidak bertemu dengan pemilik villa itu.
“Duduklah, Ka. Temani aku sebentar,” ucap Jenny tanpa melihat ke arah pria itu.
Jaka tampak ragu, ada rasa takut yang memaksa hatinya untuk menolak. Apalagi wanita itu membawa seorang wanita dalam keadaan tak sadar. Bagaimana jika Jenny melakukan hal yang melanggar hukum, lalu membuatnya ikut terlibat dalam permainan itu? Entah apa yang terjadi pada wanita yang selama ini terlihat bak malaikat, tampaknya memang semua orang memiliki sisi gelap yang tersembunyi baik di dalam hati setiap orang.
Jenny menoleh saat tak merasa pria itu duduk di sisinya, “Kamu takut padaku?”
Pria itu tersenyum kikuk. Jenny dapat melihat ketakutan pada wajah pria itu, membuat Jenny tersenyum miris. Tanpa sadar, dirinya memang telah berubah menjadi iblis yang mengerikan. Hatinya yang disiksa telah membunuh semua kebaikan dalam dirinya.
“Duduklah … aku nggak akan membunuhmu, jika itu yang kamu takutkan.”
Pria itu mengangguk pelan, lalu duduk di kursi kosong yang berada di sisi Jenny. Pria itu menunduk, tak berani menatap Jenny, sedang wanita itu kembali mengarahkan pandangan ke depan. Jenny menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan, hendak meredakan pedih yang terus-terusan menyiksa sanubarinya.
“Menurutmu, Jaka. Apa yang kurang dariku?”
Jaka mengadahkan wajah dan menatap wanita di sampingnya meneliti. Sejak awal bertemu, Jaka tak menemukan kekurangan apa pun pada wanita itu. Wajahnya cantik bukan main, tubuh wanita itu ideal layaknya seorang model, kepribadiannya pun bak malaikat. Walau Jenny memiliki banyak uang, ia tak pernah membeda-bedakan orang yang jauh di bawahnya. Wanita itu memperlakukan semua orang setara.
“Saya nggak menemukan satupun kekurangan pada Nyonya.”
Jenny tersenyum lirih. Jika orang lain merasa seperti itu, mengapa suaminya tak bisa memikirkan hal yang sama? Mungkin memang pernikahan membuat orang mulai jengah dengan kebersamaan satu sama lain. Membuat kita melihat kekurangan dari orang yang menemani kita, akan tetapi kekurangan bukan alasan untuk mencari yang baru, bukan?
“Istri yang bagaimana disukai oleh seorang lelaki?”
Jaka dapat melihat kesedihan yang begitu besar dalam manik mata Nyonya besarnya. Ia menebak, jika perubahan Jenny terjadi karena masalah dalam pernikahannya. “Kalau Nyonya bertanya pada orang seperti saya, maka saya hanya menginginkan seseorang yang mau berjalan bersama saya, terus bersama dalam suka dan duka, hingga saya tua nanti, hingga aja menjemput. Pria sebenarnya nggak terlalu menyukai hal yang rumit, Nya. Cukup orang yang bisa menerima apa adanya dan menemani perjalanan hidup yang terhitung singkat di dunia ini.”
“Andai semua pria di dunia ini berpikiran sepertimu. Mungkin saja, nggak akan ada wanita yang hatinya patah dan mendadak berubah menjadi orang gila,” ucap Jenny lirih.
Jaka memberanikan diri untuk bertanya hal yang mengulik rasa penasarannya. “Wanita yang di kamar. Apa dia … maaf saya nggak bermaksud lancang, tapi …” Jaka tak bisa melanjutkan perkataannya, takut kata-kata yang terucap akan menyingung majikannya.
Jenny tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Ya, dia selingkuhan Tuan. Jika itu yang ingin kamu tanyakan,” Jenny menoleh pada Jaka.
Kini, Jaka mulai mengerti perubahan yang membuatnya merasa ngeri. “Maafkan saya, Nyonya.” Jaka menunduk, merasa kasihan pada wanita itu.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan dan nggak ada yang perlu dikasihani, Jaka. Semuanya sudah baik-baik saja. Hatiku sudah perlahan sembuh dan aku bisa kembali menata hidupku.”
“Apa yang bisa saya bantu?”
“Aku akan berada di sini selama beberapa hari. Jika Tuan bertanya, katakan kita nggak pernah bertemu dan jika dia datang, usahakan dia nggak tahu keberadaanku di sini.”
Jaka mengangguk. “Tapi … Nyonya nggak akan menyakiti wanita itu, bukan?”
Jenny tertawa. “Kamu pikir, aku seorang pembunuh? Tentu saja tidak. Aku hanya ingin membuatnya mengerti, jika wanita tak selemah pemikirannya. Wanita tak memerlukan lelaki untuk bergantung hidup seperti yang dilakukannya, hingga nekad menghancurkan pernikahan orang lain. Aku hanya ingin dia mengerti jika aku bukan wanita yang bisa ditindas begitu saja.”
Jaka merasa lega dan mengangguk. “Saya akan membantu sebisa saya.”
Jenny tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih. Jenny merasa begitu beruntung. Walau pernikahan dan dunianya hancur, masih banyak orang yang mau mengulurkan tangan untuk membantunya. Banyak orang tulus yang tak segan-segan menjaga kesetiaan mereka padanya. Jenny akan menunjukkan pada lelaki itu, jika dirinya tak bisa dihancurkan.