Love At The First Sight

1173 Kata
“Duduk aja!” Kio kini sudah tak lagi tertawa. Dia tidak mau gadis itu merasa bahwa dia menghinanya dengan suara tawanya yang tiba-tiba datang tanpa sebab yang jelas, tanpa ada yang lucu. Hafa akhirnya memberanikan diri untuk duduk di sana. Dia hanya duduk di ujung sofa, Hafa menyapu ke seluruh ruangan dengan pandangannya. Sungguh semua hal yang ada di dalam ruangan itu sangat menganggumkan. Indah dan pasti semua itu adalah barang-barang yang harganya selangit. Hafa menelan ludahnya, mulutnya terasa kering karena lebih dari satu jam dia menangis di dalam mobil tadi. Bahkan dia berlari. Dan kini meski dia sudah bisa bernafas normal, dia merasa sangat haus. Dahaganya tidak akan hilang meski ruangan ini sangat sejuk hampir mendekati dingin. Kio memperhatian Hafa yang duduk tidak nyaman di atas sofa. Cowok berhidung bangir itu seperti sedang mencermati Hafa. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hafa yang merasa sedang diperhatikan jadi salah tingkah, dia sekali lagi mengecek tampilannya saat itu, baju lusuh dengan celana olahraga panjang, gadis itu menatap bagian bawah, dia menyatukan kedua kakinya hingga saling bertumpuk, jari-jari kakinya saling bergesek karena pemiliknya tengah dalam kondisi tidak nyaman. Entah apa yang akan dilakukan dua pria itu pada Hafa, apakah Hafa tadi akan dipertemukan dengan p****************g yang berani membayar harga tinggi untuk seorang gadis yang belum terjamah seperti Hafa. Tapi, mustahil sekali mereka akan membawa Hafa pada seorang pelanggan sedangkan kondisi dan penampakan Hafa sungguh tidak layak. Bahkan pelanggan warung remang-remang saja tak akan sudi membayar sejumlah uang untuk gadis yang penampilanya compang camping macam gembel jalanan itu. Hafa termenung selagi otaknya terus berpikir tentang kemungkinan siapa gerangan yang ada di dalam kamar apartemen tadi. Kio masih memperhatikan Hafa dengan penuh minat, entah karena tiba-tiba ada rasa suka pada pandangan pertama, atau entah karena dia belum pernah melihat gadis dengan tampilan seperrti itu sebelumnya. “ Lucu banget ini cewek! Norak enggak ketulungan ” Kio kini bergegas ke dapur, membuka lemari pendingin dan meraih dua botol minuman berperisa dari dalam sana. Dia kembali ke ruang utama dan berdiri canggung di depan Hafa. “Ini, minum!” ujarnya dingin. Entah kenapa dia enggan jika gadis itu tau bahwa dia amat menyukai gerak-geriknya. Dia akan tetap terlihat cuek dan dingin di depannya. Hafa tersentak dari lamunan panjangnya yang berat. Hafa menerima botol itu dan mengangguk seraya mengucapkan terimakasih. “Apa-apaan sih, makasih mulu wkwk! Dasar nih cewek!” Dalam hati Kio tertawa geli. Padahal sama sekali Tak Ada yang Lucu di Sana. Ketidakwarasan barangkali tiba-tiba muncul saat berada di sisi orang asing yang menarik perhatian. Kio masih saja bertingkah dingin, dia kini duduk di sofa, di samping Hafa. Hanya ada sebuah spfa di ruangan itu, posisinya tepat di depan sebuah televisi berukuran besar, dipisahkan oleh meja yang terlihat seperti marmer, atau mungkin itu memang terbuat dari batu marmer yang bernilai fantastis. “Ehem.” Kio berdeham. Hafa menoleh, tapi saat itu ada cairan bening meleleh dari lubang hidungnya. Pasti itu karena dia dari tadi menangis, seakan tangisan itu memproduksi lebih banyak lendir dan benda kental itu meleleh ke bawa karena ulah gravotasi bumi. Kiofaye yang sedang minum sontak menyemburkan isi dalam mulutnya ke udara di depannya, dia terbatuk-batuk sekaligus berusaha keras menahan ledakan tawanya. Hafa cepat-cepat menyeka itu dengan lengan kaos panjangnya yang berwarna orange pudar, bukan sengaja berwarna pudar, tapi itu karena kaosnya terlalu lama dipakai dan sering di cuci akhirnya warnanya memudar dengan sendirinya, seperti takdir alami. Kio memalingkan wajahnya, dia tergelak tanpa suara sambil tetap menyembunyikan wajahnya dari Hafa. “Astagah, gadis ini dari hutan apa gimana sih. Polos banget! Apa dia tarzan betina ya! Ha-ha-ha.” Kiofaye ingin memecahkan suara tawanya, tapi dia harus menjaga image nya. “Maaf.” Lirih Hafa menyesal karena dia merasa cowok di sampingnya itu pasti semakin jijik melihatnya. Kio menoleh. “Oh, enggk masalah. Kamu butuh tisu?” kio hendak meraih tisu di meja. “Enggak, sudah!” tolak Hafa karena merasa tidak enak. Mereka terdiam. “Ehem!” kio berdeham memecah sunyi yang bertemankan suara dengung dari lemari pendingin di dapur. Hafa merasa kondisi sudah aman dia baru saja akan pamit pergi saat Kio mulai bertanya. “Jadi, mereka itu siapa?” tanya Kio peduli namun dia sampaikan dengan nada cueknya. Hafa tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan yang tak dia sangka itu. Hafa berpikir barangkali cowok itu hanya basa basi, benar! Pasti basa basi semata. Mana mungkin cowok dingin itu mau tahu masalah orang lain, apalagi Hafa yang sama sekali tidak dia kenal. “Entahlah, ceritanya panjang, complicated.” Jawab Hafa. Kio menganga. Dia pikir dia pasti salah dengar, tidak mungkin kan tarzan betina itu mengucapkan complicated. “Ap-pa? Complicated?” tanya Kio memastikan. Hafa mengangguk, dia menghela nafas dan tersenyum tipis untuk menghibur dirinya sendiri. “Iya, kalau ditanya mereka siapa, butuh waktu lama buat nyeritainnya, aku yakin kamu enggak akan punya banyak waktu, jadi sebaiknya aku segera pamit.” Hafa baru saja hendak berdiri, tapi Kio tiba-tiba meraih tangan Hafa. “Oh, aku banyak waktu kok, banyak! Cerita aja!” dia benar-benar tidak ingin Hafa pergi secepat itu, baginya rasanya pasti sangat senang memiliki teman ngobrol di dalam ruangan sepi itu. Hafa menatap Kio. “Kenapa?” tanya Kio kikuk. “In-ni, tangan aku sakit.” Hafa menggerakkan lengan yang masih di cekal oleh Kio. “Ah, sorry! Ma-af.” Kio masih salah tingkah. Hafa kembali duduk walau enggan. “Sorry, aku hanya ehm, aku hanya berpikir siapa tahu aku bisa bantuin kamu. Keliatannya kamu juga enggak akan bisa pulang dengan kondisi seperti itu, apa kamu bawa ongkos buat pulang? Enggak kan?” Hafa menggeleng, kata-kata cowok itu seratus persen benar. Hafa juga tidak tahu bagaimana caranya pulang, dia bahkan tak tahu dimana dia beradam dia tak membawa ponsel ataupun uang. “Nah, kalau gitu ceritalah. Aku jenuh, siapa tahu aku bisa mengusir jenuh dengan mendengar cerita kamu,” ucap Kio mencari alasan. "Haruskah aku cerita tentang ini pada orang asing yang baru saja aku temui ini?" batin Hafa bertarung dengan rasa ngeri kalau-kalau cowok di depannya ini juga bisa jadi bukan orang baik. Tapi melihat bagaimana dia menolong Hafa, juga memberikan minum. Hafa pikir dia bukan orang yang bisa berbuat jahat. Hafa menggigit bibirnya. Kio sudah menunggu dan siap mendengar apa yang akan keluar dari bibir Hafa. "Cerita saja! Siapa tahu aku bisa tolong kamu!" pinta Kio. "Menolong aku? tapi kamu kan enggak kenal aku?" tanya Hafa polos. "Oke, kita kenalan dulu saja. Aku Kio." dia mengulurkan tangan ke arah Hafa. Hafa melihat telapak tanganya, dia ragu apakah tanganya cukup higienis untuk bersalaman dengan Kio. Melihat Hafa demikian ragu, Kio akhirnya menyambar tangan Hafa. "Jadi, nama kamu siapa?" tanyanya seraya menatap Hafa. Hafa menatap Kio, pandangan mereka bertemu. "Kenapa dia liatin aku gitu banget ya!" pikir Hafa bingung. Dia bukan cenayang yang bisa tahu bahwa Kio telah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. "Nama kamu?" ulang Kio. Hafa menundukan pandangan. "Hafa." ucap Hafa dengan suara rendah dan sikap malu-malu. "Hah?" Kio tak mendengar suara Hafa dengan jelas. "Hafa." ulang gadis itu dengan suara agak kencang. "Oh, iya iya. Hafa kan?" Kio menganggukkan kepala. Hafa menatap Kio. "Apa?" tanya Kio. "Tangan aku!" lirih Hafa takut-takut. "Astagah, sorry!" Kio malu sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN