“Jangan pergi!”ujar Raja di hadapan wanita itu. Mereka bertemu di sebuah jalan besar menuju ke luar Kerajaan Kalimantan. Para pengawal menunggu di jarak yang tidak terlalu jauh. “Maafkan saya jika tak pamit dengan benar. Saya hanya tidak ingin mengganggu jadwal yang ada.” “Tapi bukan berarti kau bisa pergi begitu saja.” “Argh,”keluh Realiva sambil melihat hijaunya padi dari atas sana. Dia merasa tidak sanggup mengatakan hal ini. Dia sengaja menuliskan sebuah surat dengan tujuan agar perasaannya tidak terbawa suasana. Dia bisa menangis oleh karena perasaan yang ditahan untuk waktu yang lama. Ya, dia takut. “Bukankah semua sudah kembali baik? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Jika iya, beritahu padaku.” “Tidak. Anda tidak pernah berbuat salah kepada saya.” “Lalu apa? Samudera berka

