Chapter 14 - Kekacauan

1890 Kata
Mereka berhenti di pusat kerajaan Bali. Tempat yang kini menawarkan kemewahan luar biasa. Atas kerjasama dengan Dimas Anggara, Embun dan Langit tiba disana sebagai pasangan kekasih. Mereka curiga akan ada sesuatu di tempat pertunangan Putri Ida Ayu. Untuk berjaga-jaga, mereka datang dengan alasan ingin mempelajari lebih lanjut tentang Kerajaan Bali. Jiwa mempengaruhi yang dimiliki Embun mampu membuat Dimas terhasut. Dan sampailah mereka disini, istana kerajaan yang penuh dengan gemerlapnya lampu berwarna-warni. “Kau menyukai ini kan?”ucap Langit sambil berjalan tetap disamping Embun. Perlakuan Embun kali ini berhasil membuat Langit salah tingkah dan kepedean. Tangan perempuan itu merangkulnya erat. Ditambah lagi, dia terlihat sangat cantik dengan rambut digerai.  “Ini namanya mendukung peran. Agar tidak ada kecurigaan.” “Wah, kau ternyata pintar acting.” “Di Indonesia, aku sering berpura-pura jadi orang lain. Dan tak kusangka, di tempat ini aku jadi diri sendiri. Serasa mimpi.” “Apa kau rindu ibumu?” “Tidak. Dibanding rindu, aku lebih penasaran. Kenapa dia membawaku ke tempat ini. Dia tega sekali pada anak perempuannya. Dan setahuku, dia cuma punya aku.” “Ayahmu?” “Tidak ada yang tahu. Ibu tak pernah cerita.” Mereka duduk di bangku yang tak terlalu jauh dari panggung. Terlihat jelas perbedaan kasta yang ada disana. Mulai dari pakaian hingga raut wajah. Warna-warna yang terlihat seakan menjadi pemisah antara kaum biasa dan kaum ningrat. Bahkan jika dibandingkan dengan keluarga Aires, mereka jauh lebih sempurna. Sejenak Embun terkesima. Begitu juga dengan Langit. Ini kali pertama mereka berdua datang ke acara resmi kerajaan. Apalagi ini termasuk acara paling spesial. Pertunangan Putri Ida Ayu yang ditunggu-tunggu semua masyarakat Bali. “Apa menurutmu kita akan dapat sesuatu dengan datang kesini?”seru Langit sambil menikmati steak Domba yang rasanya sangat enak. Perpaduan bumbu rahasia yang tak terkira. Makanan yang tak akan ia temui dimanapun. Ya, memang seunik itu. “Tidak tahu. Tapi setidaknya kita bikin Awan iri.”balas Embun sambil tertawa. Dia tetap menerapkan tata krama dalam menikmati makanan. Pelajaran yang diberikan Arafuru di masa lalu tak pernah menghilang dari pikirannya. Alunan lagu membuat suasana menjadi semakin meriah. Embun semakin sadar kalau kebaya itu memang secantik itu. Bahkan pakaian di Indonesia kalah jauh. Kebaya yang dibuat di Santara tampak seperti barang mewah yang memanjakan mata. Memperlihatkan bentuk tubuh yang sempurna. Sungguh sangat menarik bagi Embun. Walau jika disuruh menggunakannya, Embun akan berpikir dua kali. Minuman enak berwarna ungu berhasil membuat Embun tambah tiga kali. Minuman itu sangat enak. Perpaduan buah-buahan, madu dan s**u. Rasanya mirip seperti sesuatu yang pernah Embun minum di masa lalu.  “Kau tunggu disini. Aku mau ke toilet.” “Baiklah.” Dan kepergian itu membuat Embun menabrak seorang lelaki yang tampak seperti pengawal. Sayangnya, kertas-kertas yang ada di kantong kebaya Embun malah menampakkan diri. Dengan buru-buru, Embun mengambilnya. Tapi ada satu foto yang membuat pria itu bertanya terlalu banyak. Dengan sigap, Embun mencari alasan dan segera pergi. Dia berlari menuju ke toilet yang tampak seperti kamar tidur. Gila sekali.  “Argh, semoga pria tadi tidak mencurigaiku.”pikirnya dalam hati. Dia segera keluar setelah selesai dengan tujuannya. Tapi ternyata, pria yang tadi malah berdiri di depannya. Pria yang kini menatapnya tajam. Dia bahkan tidak malu sudah datang ke toilet wanita. “Untuk apa anda kesini?” “Saya perlu tahu, kamu siapa?” “Saya tamu.” “Kenapa kamu menyimpan data pembunuhan?” “Bukan urusanmu.” “Saya akan laporkan pada petugas.”ancamnya. “Lapor saja. Saya punya undangan.”balas Embun dengan percaya diri yang tinggi. Dia berkaca sebentar dan hendak pergi. Jika tak ingin dicurigai, maka bertingkahlah seolah-olah kau adalah orang benar. Itulah yang diyakini seorang Embun Deangkasa. Dia terlalu berpengalaman sehingga tak bisa diancam dengan mudah. “Kurasa kau akan beruntung jika jujur padaku. Aku punya petunjuk soal pembunuhan itu.”ucap pria itu dengan suara tegasnya. Perkataan yang membuat Embun berhenti melangkah. Apakah dia sedang ditipu? Rasanya Embun tidak peduli. Dia ingin kasus ini segera usai agar dia bisa melanjut ke level yang lebih tinggi. “Apa maksudmu?” “Kau penasaran kan? Sekarang, jujur padaku tentang apapun juga. Aku akan memberitahumu apa yang kuketahui.” “Jangan harap aku percaya!” “Pria dengan ukuran sepatu 43. Dan terdapat bekas luka di bagian kakinya. Tak cuma itu, ada luka di tangannya sebelah kiri.” “Dari mana kau tahu?”teriak Embun tidak percaya. “Aku bisa membaca kode rahasia di buku catatanmu.” “Tidak mungkin.” “Kutebak.”seru pria itu dengan tangan dibersihkan dari air yang mengenainya. “Kau seorang anggota militer?” “Kau juga?” “Ya. Tapi aku kesini sebagai misi, bukan sekedar mencari hiburan seperti kamu.” “Siapa bilang aku mencari hiburan? Aku memang terlalu miskin untuk bisa menikmati steak domba yang disajikan. Tapi aku punya tujuan sendiri.” “Pertama kali, aku Samudera dari Tim Gerhana.”ucapnya memperkenalkan diri. Perkenalan yang tidak ada dalam rencana Embun. Begitu juga dengan Samudera. Samudera yakin kalau tebakannya benar. Soal siapa dalang pembunuhan itu. Dia malah ingin menjebak seseorang agar hidupnya juga terjamin. Hidup ini memang penuh dengan kejutan. Siapa sangka, Samudera akan menemukan jalan keluar untuk masalahnya kali ini. *** Putri Ida Ayu merasa tidak nyaman berada disamping pria itu. Dia malah mendapat tatapan tajam dari ayahnya. Disaat yang sama, dia melihat kekasihnya yang tersenyum sedih di antara para tamu. Katanya cinta bisa melampaui segala hal, tapi kenapa cinta yang dia miliki malah harus dianggap tidak ada? Ketika cinta begitu tulus dan suci, tapi kau dipaksa mencintai yang lain. Argh, rasanya seperti menuju ke jalan kematian. Ida Ayu meneteskan air matanya saat melihat kekasihnya hendak pergi. Dia mencari sosok Samudera yang tak kunjung membuat sesuatu. Sejujurnya, Ida Ayu tidaklah ingin menghancurkan rencana Samudera. Dia hanya membuat ancaman sederhana. Ancaman yang dia harap bisa membuatnya lepas dari pertunangan ini. “Kau suka berdansa?”tanya pria itu dengan ramah. “Sedikit.” “Mau berdansa denganku?” Dengan terpaksa, perempuan itu mengiyakan. Ada empat pasang mata yang menatapnya dengan ketajaman yang luar biasa. Seperti pisau yang baru diasah. Uluran tangan pria itu ia terima. Dan mereka ada di antara para pedansa yang sedang mengikuti indahnya alunan lagu.  “Kau hebat juga berdansa.” “Semua kaum ningrat di Santara dipaksa untuk jadi hebat. Kau tahu itu kan?” “Aku tahu, tapi kau terlalu hebat.” “Kau punya tujuan lain kan menerima pertunangan ini?” “Hahaha, bercandanya kelewatan.” “Bagaimana bisa cinta datang begitu saja? Ini pertemuan pertama kita.” “Tak perlu cinta dalam pernikahan. Yang penting kita satu tujuan.” “Sayangnya, belum tentu kita satu tujuan.” Dia malah tertawa. Dia tidak peduli dengan seberapa parahnya sindiran Putri Ida Ayu. Perilaku itu membuat Putri Ida Ayu merasa sangat tidak nyaman. Dia bertahan dalam kesesakan. Tetap berdansa meskipun sebenarnya dia tidak sanggup.  Tak berapa lama, tiga orang datang dan mengambil alih perhatian. Dan di antara tiga orang itu ada Samudera. Dia mengenakan sesuatu di wajahnya. Mungkin agar tak ada yang mengenalinya. Terutama keluarga raja.  “Kami akan menangkap Pangeran Artian atas dugaan pembunuhan.”ucap Embun memberikan kartu identitasnya. Semua orang tampak kaget. Tak ada yang seperti ini sebelumnya. Ditambah lagi, segala sesuatu yang bersifat privat tak akan diumbar begitu saja di depan rakyatnya. Banyak hal yang disembunyikan oleh pihak kerajaan. Tapi ini sangat diluar dugaan. Seorang perempuan yang terlihat seperti tamu malah ingin menangkap seorang pangeran. Tidak masuk akal. “Penjaga!” “Yang Mulia Raja Bali, sebelum itu, izinkan kami melakukan ini.”seru Langit mencoba mempengaruhi raja. “Kamu siapa?” “Saya anggota militer yang sedang bertugas di tempat ini.” “Bagaimana bisa kau dipercayai? Orang seperti kalian perlu dipenggal kepalanya.” Raja terlihat sangat marah. Jika ditelusuri dari awal, semua ini memang tampak tidak masuk akal. Tidak mungkin calon suami putrinya malah jadi pelaku pembunuhan. Dia juga tahu kalau masalah ini sedang marah di Kerajaan Bali. Dan bahkan, masalah ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Seakan tidak ada solusi untuk menguak fakta di balik hal ini. “Saya akan mengorbankan semuanya untuk membuktikan pada raja.”ucap Langit tidak peduli. Embun menatapnya bingung. Tidakkah dia terlalu percaya diri? Belum tentu juga Pangeran Artian dalang dibalik semua ini. Ini masih asumsi. “Kau serius dengan ucapanmu?”tanya raja. “Ya. Saya serius.” Mendengar keseriusan itu, raja memberi mereka kesempatan. Pangeran Artian dibawa ke bagian penyelidikan. Dan disana, dia terlihat biasa saja. Dia malah tersenyum seperti tidak merasa bersalah. Embun tampak stress dengan tangan ditaruh di kepala. Dia tidak bisa tenang dengan ucapan Langit. Nadinya terasa berhenti. Oh Tuhan, bagaimana jika dia salah sangka?  “Awan, tolong kau buktikan. Bagaimanapun, dia harus benar-benar seorang pembunuh!”teriak Embun pada Awan yang sedari tadi menghela nafas memikirkan tentang penangkapan yang mendadak ini. “Kau ingin kebenaran diungkapkan? Bukan dengan menjadikan yang tidak bersalah jadi pembunuh.” “Argh, sial!!” Embun bergegas keluar dari ruangan itu. Dia keluar dari tempat itu dan duduk di depan tempat penyelidikan. Dia tidak bisa berpikir. Dan dalam waktu yang singkat itu, dia melihat tiga orang berjalan dengan tawa khas di wajahnya. Dan di antara mereka ada Samudera, anggota militer dari Tim Gerhana. Merasa kalau ia terjebak, dia menemui mereka. “Kau ikut aku!”ucapnya menarik batik yang melekat di badannya. “Ada apa lagi?” “Kau yang membuat Langit ada di posisi sekarang. Kau harus membantuku.” “Siapa dia?”tanya Nahasa. “Perempuan satu-satunya yang masuk anggota militer.” Wandi seketika terkesima. Dia mendekat ke arah Embun. “Kau beneran perempuan itu?”tanyanya dengan wajah sumringah. Embun mengangguk bingung. “Ternyata, selain hebat kau juga cantik. Aku salah satu penggemarmu.” “Oh, i-iya.” “Apa kau tidak bisa membuktikan hal itu?”seru Samudera sambil terkekeh. Terlihat sekali kalau dia sedang menyepelekan Embun. Dan ya, Embun membenci hal itu. Dia mengunci pergelangan tangan Samudera. Sikap yang membuat Nahasa dan Wandi melotot. “Aku benar-benar butuh dia. Tenang saja, aku bukan pembunuh.”ucapnya mengakhiri. Dia mendorong Samudra untuk mengikutinya. Pria itu tampak tersiksa, tapi kalau mau melawan juga sudah terlanjur. Dan entah kenapa, dia sedikit tertarik dengan Embun dan teman-temannya. Mereka adalah sebuah tim yang sering diceritakan oleh Mahesa. Tim yang membuat semua orang tertarik untuk mendengarnya. Terutama tentang perempuan yang mengukir sejarah Santara. Perempuan yang berhasil masuk level ini. Dia bukan sembarang perempuan. “Siapa dia?”tanya Awan heran. Awan masih saja berpikir keras ketika waktu terus berjalan. “Dia yang akan membuktikan tuduhan kita. Benarkan?” “Jika dipaksa, ya sudah. Tapi lepaskan dulu tanganku.” Dengan segera, Embun melepaskan tangan itu. Samudera langsung duduk dan menuliskan semua teori yang ada di dalam kepalanya. Sebuah fakta yang jarang diketahui oleh orang biasa seperti mereka. Seorang pangeran biasanya punya senjata yang selalu dibawa kemana saja. Senjata yang ditaruh dibagian pinggang. Senjata kecil yang digunakan sebagai pertahanan diri. Jika berhasil menemukan senjata itu, maka kemungkinan besar hasilnya akan diketahui. Awan membeberkan fakta lain yang bisa mereka buktikan. Untuk bisa menjadikan Pangeran Artian sebagai tersangka, mereka punya seseorang yang bisa dijadikan saksi. Tapi saksi tidak ingin jika latar belakangnya diketahui. Dia adalah saksi yang bermental tempe. Dan tetap saja, dia dibutuhkan kali ini.  “Aku rasa semua sudah jelas. Kalian tinggal mencari cara untuk masuk ke singgasananya. Kemungkinan besar, dia menaruhnya di suatu tempat yang tidak diketahui siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN