Chapter 19 - Secret Book

1845 Kata
Kerajaan Sulawesi memiliki budaya yang cukup unik. Pasalnya, setiap malam minggu diberikan tempat untuk para anak muda menikmati malam di sebuah tempat yang disediakan khusus oleh Raja Sulawesi. Satu-satunya kerajaan di Santara yang disukai anak muda. Acara setiap malam minggu itu disebut Warta Muda Mudi alis WMM. “Mau minum tuak dulu tidak?” “Wah, tidak bisa. Aku ada janji dengan Embun.”ucap Anoda sambil melihat kegagahannya di depan sebuah cermin besar. Dia mengenakan setelan batik terbaik yang dia punya.  “Jangan ditanya. Ini rahasia.” Tiba-tiba, Embun masuk dengan rambut basahnya. Dia membalutnya dengan handuk. Kebiasaan yang jarang sekali terjadi pada perempuan di Santara. Bahkan Samudera sampai menutup mata melihat kedatangan Embun. Santara identik dengan menghormati wanita. Dan bahkan, ada batasan antara perempuan dan laki-laki. Biasanya perempuan yang baru selesai mandi tidak boleh berhadapan langsung dengan perempuan. Apalagi rambutnya masih basah.  “Santai saja, dia udah biasa begitu.”ucap salah satu diantara mereka. Samudera tidak menyangka, pertemanan di antara mereka seperti melewati batas. Tapi ternyata tidak saat Embun mendorong keras badan pria yang mengganggu jalannya. Dia pasti cukup hebat hingga tak ada yang berani macam-macam padanya. “Mau kemana sih?”tanya Langit penuh selidik.   “Akan lebih baik jika kamu beritahu setelah kembali.” Tak berapa lama. Embun muncul dengan penampilan yang luar biasa cantik. Kecantikan yang terpancar karena dia memang jarang berdandan. Seseorang yang mengalami perubahan signifikan biasanya bikin pangling. “Apa aku terlihat aneh?”tanyanya. Semua langsung berusaha menyadarkan diri. Mereka menggeleng.  Setelah itu, mereka pergi berdua. Menuju ke WMM untuk memenuhi keinginan Anoda. Dia ingin bertemu dengan seorang wanita. Wanita yang tak sengaja ia temui kemarin dalam perjalan ke tempat makan. Walau Anoda termasuk pria yang percaya diri tinggi, tapi di depan wanita kepercayaan diri itu tergerus. Dia tak pernah merasa hebat saat bertemu seorang wanita. Dan karena itu, dia meminta tolong pada Embun. Embun satu-satunya yang bisa diandalkan. Terutama karena dia seorang perempuan. Warta Muda Mudi atau WMM menampilkan sesuatu yang sangat menarik di mata Embun. Dia terlihat sumringah berada disana. Tempat yang sangat menyenangkan dengan lagu-lagu berlatar suara piano. Sungguh sangat menenangkan hati. Tempat itu sangat jauh berbeda dengan klub malam.  “Siapa namanya?”  “Biella.” “Nama yang bagus.” “Ya, dia keturunan campuran. Hanya, aku tidak tahu detailnya.” “Setidaknya dia bukan seorang penyintas. Kau tentu senang kan?” “Maafkan aku soal sikap di masa lalu.” “Tidak masalah. Lagian, setelah mengenalmu lebih dalam, aku jadi semakin yakin.” “Yakin apa?” “Yakin kalau kau memang selalu menyebalkan di pertemuan pertama.” Anoda tertawa keras. Itu adalah fakta yang tak bisa disanggah. Mereka berjalan menuju ke sisi paling ujung. Tempat dimana perempuan bernama Biella itu duduk. Perempuan itu berdiri dengan wajah sumringah. Dan jujur, dia sangat cantik. Pantas saja Anoda bersikeras untuk datang. “Aku temannya.”ucap Embun memperkenalkan diri. Seperti dugaan, terjadi kecanggungan yang luar biasa disana. Dan Embun jadi penengah diantara mereka. Tentu saja, suasana kembali mencair. Anoda dan Biella mulai akrab. Dan Embun memilih untuk memberikan kesempatan pada mereka berdua. Sedang Embun menunggu sambil menikmati minuman berwarna hitam itu. Minuman yang kelihatan aneh tapi jangan salah, rasanya enak sekali. Dia berjalan perlahan sampai tiba di sebuah tempat sejenis perkumpulan anak remaja.  Terjadi sebuah pembullyan yang membuat ingatan Embun kembali datang. Dia memegang kepalanya yang semakin sakit. Pukulan demi pukulan yang pernah ia terima seakan jadi memori yang sangat buruk. Tangannya gemetar saat datang seorang wanita menolongnya. Dan wanita itu adalah Andari Kwari, ibunya sendiri. Disitu dia sadar kalau ibunya tak pernah membencinya. Ingatan tentang ibunya datang silih berganti. Tentang ibu yang setiap hari hanya karena anak perempuannya tidak betah di sekolah. Ditambah lagi, Embun dengan sukarela menerima semua pukulan itu. Dia tidak berhenti sekolah meski ibunya sudah menyuruh. Seketika dia menangis.  Langkahnya berjalan menuju ke tempat itu. Menghajar setiap orang yang mulai bertingkah tidak normal. Remaja laki-laki itu menatap dengan wajah yang menunjukkan ketakutan luar biasa. “Jika tak ingin saya lapor, segera pergi! Sekarang juga.” “Kau siapa hah?” Embun mengambil kartu identitasnya. Dia menunjukkan pada mereka semua. Kartu identitas yang membuat mereka takut. Anggota militer adalah yang paling ditakuti. Dimanapun di wilayah Santara. Setidaknya Embun tidak harus menggunakan kekuatan penuh sebab mereka sudah pergi dengan segera. “Kau tidak apa-apa?” “Apa gunanya? Untuk apa kau menyelamatkanku?”teriak nya keras. “Mereka akan tetap melakukannya besok. Aku ingin mati saja.” Dia terlihat gusar dan bertingkah seperti manusia yang tidak waras. Embun menenangkannya segera. “Dengar, jangan biarkan mereka melakukan itu. Kau harus membalasnya.” “Kau kira mudah? Aku, aku tidak pantas berada disini.” “Jangan begitu. Semua orang pantas untuk hidup.” “Tidak bagi aku yang seorang penyintas!”akunya jujur. “Aku juga. Aku juga penyintas.”ucap Embun mengakui. Dia tampak tidak percaya. Dalam diamnya, dia memikirkan segala sesuatu. “Kau berbohong.” “Tidak. Ikut denganku, aku akan menceritakan semuanya.”ucapnya saat beberapa petugas keamanan datang. Bahaya jika mereka tetap disana. Apalagi Embun baru saja mengusir anak-anak hits itu dari tempatnya sendiri. Tempat yang sudah mereka booking dari jauh-jauh hari. Rooftop adalah tempat yang tepat untuk mereka. Anak laki-laki itu memiliki bekas luka di beberapa bagian tubuh. Rupanya sudah cukup lama dia mengalami penindasan di tempat itu.  “Aku baru 8 bulan disini. Aku berniat mencapai sesuatu yang terbaik untukku. Dan aku tahu, kau juga bisa.” “Kau tidak perlu mengalami seperti yang kualami kan? Aku harus dipermalukan setiap saat.” “Di Indonesia, aku mengalami yang lebih parah dari kamu. Bahkan aku hampir mati.”ucap Embun sambil menatap langit yang hanya menunjukkan warna hitam.  “Aku juga sedang berjuang disini. Aku ingin kembali ke Indonesia. Menemui ibuku yang masih mencintaiku.” Dia tampak iba mendengar cerita Embun.  “Kau harus bisa berjuang. Jangan biarkan mereka menghinamu. Kau harus membalas. Buat mereka merasa payah dan gagal.” Dia mengangguk mengiyakan. Embun tersenyum mendapat respon itu. Dia memesan makanan untuk dimakan bersama remaja laki-laki itu. Dan dia juga tampak senang bisa bertemu dengan Embun. Orang di Santara yang sedikit membuatnya percaya dan bangkit. Percaya kalau hidupnya tak boleh begini terus. Harus ada perubahan. Ketika hidup ini terasa buruk, maka hal buruk itu bisa berubah jadi baik. Makanya jangan mudah menyerah pada keadaan. “Bagaimana caramu ke Indonesia?” “Aku tidak tahu. Setidaknya aku mau berusaha.” “Argh, terima kasih untuk makanannya.” “Tidak masalah. Ku harap kau baik-baik saja.” “Ah, aku punya sesuatu untuk kuberikan padamu.”ucapnya sambil memberikan sebuah buku. “Aku cukup pintar saat berada di Indonesia. Aku bisa merasakannya hingga kini. Di buku itu aku menuliskan beberapa hal yang mungkin bisa membantumu untuk kembali ke Indonesia.” “Ini berisi ingatanmu?’ “Sebagian. Tapi sebagian lain, ingatan tentang bagaimana aku sampai disini.” “Ini kan sangat berharga. Kau yakin memberikannya kepadaku?” “Tentu saja. Aku tak pernah ingin kembali ke Indonesia. Sedangkan kau, kau masih berharap sekali. Jadi, buku itu untukmu saja.” Embun menerimanya. Keadaan ini seperti bertemu saudara di ibu kota. Senang? Tentu saja. Embun memposisikan dirinya sama dengan orang itu. Pasti berat untuk jadi dia. Tapi kenyataan bukan hal yang bisa dihindari. Sebaliknya, kenyataan itu harus dihadapi. Saat ia hendak masuk lagi, Anoda menghadangnya dengan senyuman luar biasa lebar. Bisa dipastikan kalau kali ini berhasil. “Ayo pulang.”ajaknya segera. Embun mengiyakan sambil berjalan disebelahnya. “Kelihatan sekali kalau kau berhasil mendapatkan hati Biella.” “Embun, semua ini karena engkau. Aku berhutang budi padamu. Aku tidak paham, tapi sepertinya dia juga menyukaiku.” Kabar yang sangat baik. Mereka kembali pulang. Bagi Embun, perubahan Anoda soal pandangannya tentang penyintas sudah lama berubah. Dia juga yakin kalau orang-orang yang tadi membully temannya itu bisa berubah suatu hari nanti. Walau itu bukan hal yang mudah, tapi apapun bisa terjadi. Sampai di tempat tinggal, Anoda langsung tidur. Hatinya berbunga-bunga dan bisa dengan semangat tidur nyenyak. Tapi tidak dengan Embun. Dia tertarik dengan buku yang diberikan oleh remaja laki-laki itu. Dia mulai membuka halaman pertama. Sebelum fajar datang, seseorang membuatku membuka mata. Kehadiran pria yang ditangannya terdapat sejumlah uang. Ditangannya bertumpuk uang yang jumlahnya tak bisa ku hitung. Dan kudengar ayah berkata. “Bawalah dia ke Santara. Aku tak butuh dia lagi. Dia selalu mengganggu keluarga baruku.” Pria yang memegang tumpukan uang itu membalas, “Kau harus membayar mahal jika ingin dia masuk keluarga bangsawan.” “Tidak masalah. Dan satu lagi, jangan hilangkan ingatannya. Dia perlu tahu kenapa aku membawanya kesana. Aku tidak ingin dia mati saat ingin kembali ke tempat ini.” Pria itu memberikan penuturan yang aneh. “Itu bisa saja terjadi pak. Tapi selalu ada tumbal untuk seseorang yang sudah pergi dan berharap kembali.” Jantung Embun berdetak kencang. Dia lumayan terusik dengan tulisan itu. Selalu ada tumbal untuk hal itu? Jadi, jika Embun ingin kembali, harus ada yang dikorbankan. Dan yang pasti, bukan cuma uang semata. Saat hati Embun sedang porak-poranda, seseorang datang seperti hantu. Suara kecil yang melintas di telinganya. Dia menoleh dengan tubuh hampir melonjak kaget.  “Jangan teriak kalau tidak, mereka akan bangun.” “Ada apa?” “Aku yang seharusnya bertanya. Niat hatiku ingin ke toilet. Tapi aku melihatmu begitu serius dengan buku itu.” Seketika Embun menutup buku itu. Dia menutupnya tanpa basa basi. “Gak ada apa-apa kok.” “Mau minum kopi? Aku gak bisa tidur.” Embun mengangguk setuju. Mereka berjalan keluar dari tempat itu. Duduk di sebuah kursi di bawah pohon. Pemandangan yang kosong karena memang masih pukul 3 pagi. Udara dingin mulai menusuk kulit menembus baju tebal yang mereka kenakan. “Apa kau tak bisa tidur?” “Iya. Aku memikirkan hari esok. Saat misi kita dimulai.” “Gak usah terlalu takut.” “Aku tak pernah takut jika harus gagal menyelesaikan misi. Aku takut jika tak bisa mencapai keinginanku. Keinginan yang sudah bertahun-tahun ada di dalam hatiku. Tapi sampai sekarang, tak kunjung terwujud.” “Kita sama, Samudera. Aku juga begitu. Rasanya seperti berjalan pada arah yang tak jelas kemana.”curhat Embun sedih. “Terima kasih buatmu.” “Untuk apa?” “Kau membuatku bersemangat lagi. Setelah kehilangan Nahasa dan Wandi, aku hampir tak bisa bernafas. Tapi aku ingat kamu, Embun. Kau juga punya mimpi. Dan kau tidak setengah-tengah untuk menggapainya.” “Sejujurnya, aku begini juga karenamu. Seorang pria yang berwibawa membuatku lebih semangat menjalani hidup.”balas Embun sambil tersenyum. “Aku akan berjanji satu hal. Jika kita bisa sampai di Kerajaan Kalimantan, aku akan mengenalkanku pada orang yang begitu berarti untukku?” “Orang tuamu? Atau kakakmu?” “Bukan keduanya. Tapi dia orang yang selalu membuatku semangat menjalani hidup. Sama sepertimu.” “Kau terlalu memuji, Samudera.” “Aku serius. Kau pasti akan menyukainya juga.” “Baiklah.”ucap Embun merespon. Mereka menghabiskan setengah jam disana. Dan setelahnya, kembali masuk untuk tidur. Rasa kantuk mulai menyerang terutama Embun yang belum tidur sama sekali. Besok mereka harus latihan ekstra karena misi berikutnya sudah ada di depan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN