Chapter 10 - Bali Kingdom 1

1740 Kata
Hidup di dunia adalah satu dari sekian hadiah yang diterima manusia. Tapi akan lebih indah lagi jika Dewa memberikan kuasa. Semua akan terasa mudah meski hanya dengan ucapan kata. Kuasa mampu melampaui segalanya, termasuk uang sekalipun.  Kendaraan itu membawa mereka menuju ke kerajaan kecil dengan taburan pulau di sekitarnya. Tempat yang penuh dengan pesona luar biasa. Kerajaan itu akan memberikan para anggota militer sebuah jalan untuk melewati satu tahap lagi.  “Kemarin kalian kemana? Kami jadinya menikmati secangkir kopi di ujung kota.” “Hanya mencari udara segar.”balas Langit. “Ah,, jangan bohong. Bagaimana bisa Embun ikut bersamamu?” “Apa urusannya denganmu?” “Kau membuatku iri Langit. Walau dia galak, tapi dia cukup cantik.” Perkataan itu sangat menyebalkan untuk didengar. Langit memilih untuk diam daripada meladeni dia. Disaat yang sama, Embun sedang tertidur pulas di samping Awan. Dia satu-satunya pria yang dapat Embun percayai. Sebab dia adalah kakak kandung Arafuru. Dan tentu saja, Embun merasakan hal yang sama. Awan adalah sosok kakak yang bisa dipercaya. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Mereka harus melewati pos penjagaan yang ketat. Penjagaan yang dipimpin oleh anggota militer senior yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Jika di Indonesia jabatan adalah hal yang diincar manusia, di Santara tidak. Mereka mengabdi bukan demi uang atau jabatan. Mereka mengabdi demi nama yang harum di dunia ini. Dan itu dipercaya akan mendamaikan keturunan mereka di masa depan. Dewa akan menyelamatkan mereka, menaungi mereka dengan kasih dan tentu saja hidup dengan bahagia dan sejahtera. Setelah puluhan jam mereka tempuh, akhirnya sampailah mereka di tempat yang penuh dengan keindahan. Wanita dengan rambut dililit terikat. Dan tentu saja, terlihat jelas keanggunan di wajah dan penampilan mereka. Ada sentuhan bunga mekar yang dijepit di rambut mereka. Seketika, Embun merasakan takjub yang luar biasa. Tak cuma dia, semua teman-temannya juga. Kecuali Langit. Ya, Langit memang bukan pria yang normal. Seharusnya dia terkesima dengan kecantikan dan keanggunan wanita di tempat itu.  Saat mobil yang mereka tumpangi melewati bebatuan, Embun jadi ingat dengan kemarin. Fakta baru tentang Indonesia. Langit dan Awan menemukan sesuatu yang baru. Buku tentang kematian seorang penyintas di Kerajaan Papua. Ada seorang manusia yang menuliskan kisah hidupnya dalam buku. Pria dengan nama pena SA. Pria yang katanya sudah menghilang. Begitu kata penjaga toko di tempat itu. “Dia berbadan tegap dan terlihat seperti seorang bangsawan. Begitu pandangan pertamaku saat melihatnya. Tapi di hari berikutnya, dia tampak lebih kacau. Aku rasa, sesuatu menimpanya. Mungkin sudah minggat dari dunia ini.”ucap pria itu. Fakta yang membuat Langit, Awan dan Embun menghela nafas panjang. Hanya dengan buku ini, tak ada yang bisa diketahui. Jika pria bernama SA itu sungguh telah menjadi tanah, maka perjalanan ke Kerajaan Papua tampak seperti sia-sia belaka. “Apakah kau sama dengan Langit? Tidak tertarik dengan perempuan Bali?”tanya Embun sambil menikmati makanan berbahan dasar kacang yang disimpan sejak kemarin. Dia punya kantong ajaib untuk menghindari pengecekan. Terlebih ia seorang perempuan. Biasanya, para pria itu enggan menyentuhnya. Walau Komandan Dimas sudah memberi perintah, mereka terkesan segan menyentuh tubuh perempuan muda seperti Embun. “Aku sudah punya kekasih, Mbun.” “Kau serius?” “Iya. Apa terlihat aneh?” “Bukan begitu. Arafuru tidak pernah mengatakannya padaku.” “Tidak ada yang tahu. Sebab aku mencintai seseorang yang kastanya berada di atas keluarga Aires.” “Aku paham.” “Dan menurutku, kekasihku jauh lebih cantik dibanding mereka.” “Ya, begitulah cinta bekerja.” “Kau sendiri bagaimana? Tidakkah kau tertarik pada salah satu di antara mereka?”balas Awan sambil menunjuk pria-pria yang sedang tertawa itu. Pria yang tak membuat Embun berselera.  “Aku tidak tertarik pada pria.” “Apa kau….” Belum sempat Awan melanjutkan bicaranya, Embun langsung membantah. Dia tahu akan seperti apa reaksi pria itu. Dia pasti berpikir kalau Embun adalah wanita yang masuk dalam Kaum Haram. Tidak!  “Aku masih menyukai pria. Tapi, aku tak terlalu bergantung.” “Hmm, ku tebak.”seru Awan berusaha memikirkan sesuatu. “Kau tipikal orang yang sama sepertiku.” “Maksudnya?” “Kau lebih percaya cinta yang jatuh pada pandangan pertama?” “Ya, tidak salah sih. Tapi dibanding itu, aku memang berusaha untuk tidak jatuh cinta.” “Karena tujuanmu itu?” “Ya, itu salah satunya. Tapi yang lebih utama adalah aku tidak ingin selamanya di tempat ini. Aku ingin kembali ke Indonesia.” Hasrat dan keinginannya tidak luntur meski sudah melihat seseorang kehilangan nafas. Dia memang perempuan yang bernyali besar. Pertahanannya untuk sampai di tempat ini cukup mengagumkan. Bahkan, sedikit demi sedikit, Anoda mulai mengurangi sifatnya yang menghina para penyintas. Semua itu terlihat jelas. *** Tim Gerhana adalah mereka yang direkrut dari Kerajaan Jawa. Tim Gerhana hanya menyisakan tiga orang kandidat. Perjuangan besar mereka di Kerajaan Papua sungguh menyayat hati. Pertarungan dengan warga yang menimbulkan kekacauan. Mereka dihadapkan pada masalah perang sipil yang tak kunjung selesai. Walau menumpahkan darah, permasalahan itu mulai menemukan titik terang. Pasalnya, warga pihak A dan B sudah mulai bisa diajak bicara dengan asas musyawarah. Bukan karena Tim Gerhana yang cekatan, semua karena kematian warga yang hampir menghabisi separuh warganya masing-masing. Demi kehidupan yang lebih baik, akhirnya mereka luluh. Dan itu semua karena Komandan Tim Gerhana yang kini mengalami luka parah di bagian kakinya. “Aku ingin pulang saja.”ucap pria berkulit putih itu dengan lumuran darah di tangannya. Sepeninggal sahabatnya, dia merasa bahwa sudah tak ada gunanya melanjutkan semua ini.  “Tidak bisa. Jika kau berhenti, kita semua juga akan berhenti.”ucap Mahesa, komandan Tim Gerhana yang kini bertumpu pada tongkat itu. Kepalanya diperban karena luka sayatan pedang. “Hugo, jangan bodoh! Kita harus berjuang sampai akhir!”teriak pria tinggi itu dengan suara keras. “Kau cuma memikirkan dirimu sendiri. Aku lihat dengan jelas, kau meninggalkan Wadi terkapar mati. Kau tidak menolongnya.” “Lebih baik mati lima atau mati satu? Kau gunakan otakmu sesekali.” “Diam Sam!”teriak seru Nahasa. “Jika kau tak bisa bersimpati. Keluar sekarang!” “Argh,”keluh Samudera sambil pergi dengan wajah bengis. Dia kesal dengan dua orang itu. Mereka terlalu bodoh untuk berhenti sekarang. Jelas sekali, mereka masih punya kesempatan untuk bisa sampai di titik paling atas. Mahesa juga sudah tak bisa melakukan apa-apa. Luka di kakinya membuat pergerakannya susah. Samudera mengambil cerutu dari dalam kantong celananya. Dia menatap langit yang semakin biru dan indah. Kebencian di dalam hatinya tak membuat dunia ini terlihat indah. Jika Hugo berkata Samudera tidak melakukan apa-apa, itu salah besar. Samudera sudah berusaha menyelamatkan Wadi. Bahkan tangannya sampai kebas dan masih terasa sakit sampai sekarang. Tak lama, Nahasa datang dan duduk disampingnya. “Kau akan dihukum karena merokok di waktu yang tidak tepat.” “Terserahlah. Toh, kita tidak akan bisa lanjut kan? Partner mu itu terlalu egois dan hanya mementingkan diri sendiri.” “Siapa bilang? Dia sudah mau.” Samudera membelalakkan matanya. Dalam waktu sesingkat itu, Nahasa berhasil meluluhkan hati Hugo. Sangat tidak masuk akal. “Bagaimana bisa?” “Dalam meluluhkan hati yang sedang terluka, kau harus menggunakan kelembutan.” “Jelaskan padaku, kau bilang apa pada Hugo?”tanya Samudera dengan bersemangat.  “Dia perlu berjuang demi mereka yang mati. Kematian Wadi akan sia-sia jika Hugo berhenti sekarang.” Samudera melonjak gembira. Wajah masamnya berubah seketika. Ini adalah keajaiban untuknya. Jalannya memang berliku dan berbatu, tapi bukan berarti tak bisa dilewati. Apalagi, dia melakukan ini demi masa depan Santara. Jika berhenti, Santara benar-benar akan kacau. “Sudahlah, ayo bergegas. Menikmati makan siang bersama.”ajak Nahasa sambil bangkit berdiri. Samudera mengangguk setuju.  Mobil membawa mereka ke tempat makanan khas Kerajaan Papua. Ini semua ide Komandan Mahesa. Meskipun hanya tersisa berempat, mereka masih tetap punya harapan. Dan sesuai arahan dari tingkat atas, jika kinerja mereka bagus di level 2, mereka akan bergabung dengan kelompok lain. Dan itu akan sangat membantu mereka bertahan hidup. “Silahkan dinikmati.”seru perempuan itu ramah. Perempuan dengan kulit gelap dan rambut keriting. Tapi kecantikannya terpancar begitu nyata. Dia menaruh beragam makanan unik di atas meja. Membuat mata Samudera terbelalak. Samudera memang pria yang ekspresif dan ramah. “Ibu, ini namanya apa ya?”tanyanya antusias. Wanita itu tersenyum dan mendekat ke arahnya. “Ikan Bakar Manokwari, papeda, sagu lempeng dan sambal colo-colo. Rasanya dijamin enak.” “Oh, iya.” “Silakan dinikmati.”ucapnya mengakhiri. Samudera adalah yang paling bersemangat untuk makan. Setelah itu, mereka makan sambil berusaha menghilangkan pikiran dari hal-hal buruk yang sudah terjadi. Tangisan dan emosi yang mendominasi perasaan mereka di masa lalu. Begitulah resiko yang harus mereka terima. Kematian dan ketiadaan seakan hal biasa bagi anggota militer. Demi keutuhan tiap kerajaan, mereka mengorbankan hidupnya. “Komandan, apa benar ada perempuan yang lanjut ke level 2?”tanya Nahasa sambil menyendok Papeda ke dalam mulutnya. Dia cukup suka dengan makanan itu.  “Ya, dipimpin oleh Dimas Anggara. Dan asal kalian tahu, level 1 berhasil dilewati karena dia.” “Wah, aku jadi penasaran ingin bertemu dia.” “Dibanding penasaran bertemu, aku lebih penasaran tujuan dia apa.”balas Samudera dengan sedikit lamunan di wajahnya. “Apa maksudmu?” “Bukan gitu, semua orang kan punya tujuan.” “Berarti kau juga punya tujuan untuk segitu antusiasnya?”tanya Hugo tegas. “Ya, aku punya tujuan.” “Apa kau mau cerita padaku?” “Untuk apa?” “Hmm, mungkin begitulah perasaan perempuan itu saat kau terlalu ikut campur pada urusannya.” “Hey, kenapa kau jadi begitu sensitif? Kau masih berharap Wadi hidup kembali? Jangan bodoh, Hugo!” “Semua itu karena kau.” “Bodoh! Jangan menyalahkan manusia untuk takdir seseorang.” “Sudah! Diam!”teriak Mahesa tegas. “Kita kesini untuk makan. Bukan untuk berdebat.”lanjutnya menenangkan bawahannya itu. Pembahasan ini seperti tiada habisnya. Pembahasan yang tidak ada gunanya. “Mulai sekarang, kalian berdua dilarang saling bicara terlalu banyak. Dan ingat, tak boleh ada yang berhenti ketika kalian sudah membuat keputusan. Konsistensi adalah hal yang penting.”ucap Mahesa tegas. Akhirnya mereka kembali diam. Samudera berusaha mengalihkan pandangannya dari Hugo. Dia tahu kalau perlu waktu bagi pria itu untuk menerima kenyataan. Samudera hanya ingin mempercepat hal itu. Tujuannya cuma satu, setidaknya sampai misi kedua selesai. Jika perkataan Mahesa benar, tidak masalah jika Samudera bergabung dengan tim lain. Malahan dia akan beruntung jika bergabung dengan tim yang kuat. Doanya cuma satu, semoga dia tidak bergabung dengan tim bodoh yang akan merugikannya. “Ya, aku harus sampai ke Kerajaan Kalimantan.”gumamnya dalam hati dengan penuh keyakinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN