“Bagaimana menurutmu?”tanya Embun di tengah purnama yang menerangi malam. Setiap malam, dia selalu bermimpi buruk. Setelah mimpi buruk berakhir, dia tak bisa tidur. Butuh waktu baginya untuk bisa tidur kembali. Itu adalah hal yang menyebabkan dia telat bangun. Bersyukur komandan Dimas Anggara jarang berkunjung. Tapi malam ini, Langit melihat kepergiannya. Dia juga terbangun mengingat semua ucapan para ibu-ibu di sawah kemarin. Perbincangan yang membuka pikirannya tentang manusia-manusia di Santara. Mungkin, jika mereka tahu soal Indonesia, mereka akan memilih pergi dari tempat ini. Di tempat ini, keinginan masyarakat hanyalah butiran debu yang tiada artinya. Jika ingin menyuarakan pendapat, harus ada orang bangsawan di sampingnya. Jika tidak, akan lebih baik jika niat itu diurungkan saja.

