Ketika mentari sudah tak terlihat, sebuah mobil datang untuk menjemput Embun. Dengan penuh hormat, Embun dibawa ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Dia kepikiran dengan ucapan Langit. Ada penyesalan yang muncul di dalam dirinya. “Silahkan nona, tuan sudah menunggu.” “Ah, baik. Terima kasih.” Embun berjalan menuju ke sebuah ruangan tanpa manusia. Hanya ada satu orang yang sedang duduk di dekat jendela. Dan dia adalah Hujan. Saat pria itu menyadari kedatangan Embun, dia berdiri dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Embun segera duduk di kursi kosong yang tepat di depannya. “Ada apa memanggil saya kemari?” “Kita makan lebih dulu.”ujar Hujan. Embun mengiyakan saja. Tak lama, disajikan berbagai makanan yang rasanya lezat. Makanan yang tak biasa dinikmati oleh orang biasa. Hanya me

