Malik dan Luna sama-sama dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Malik dan Luna saling menatap satu sama lain. Tapi, Malik sama sekali tak memperdulikan suara ketukan pintu itu dan justru kembali menggerakkan jari jemari tangannya untuk menghapus air mata di kedua pipi Luna. Hingga kedua telinga mereka mendengar suara dari luar. “Sayang, apa kamu masih lama mandinya? Kasihan Arga sudah menunggu kamu dari tadi.” Ya, itu adalah suara Melani—Mama tirinya Luna. Luna sontak langsung mendorong tubuh Malik dan langsung beranjak berdiri. “I—ya, Ma. Sebentar lagi Luna turun kok!” Malik yang terjengkang karena dorongan Luna, mencoba untuk berdiri. “Tolong temani Arga bentar ya, Ma. Sampai Luna selesai bersiap-siap.” “Baiklah, Sayang. Tapi kamu baik-baik saja ‘kan?” Tentu saja Melani cemas.

