Setelah mengantar kantung darah ke bagian perawat aku segera menuju kamar Mas Yadi untuk menjenguk dan memastikan keadaannya. Kubuka pintu kamarnya dan mendapati pria itu sedang terbaring lemah dengan wajah kuyu, kelihatannya setelah meringkuk lama di tahanan, dia sedikit kehilangan berat badan. "Apa kabar, Mas?" Ia menoleh lemah, memandangku tanpa menjawab "Aku membawa dua kantung darah untuk menambahkan stok darah yang sudah habis untukmu," ujarku. "Terima kasih." Agaknya kekakuan wajahnya sudah membaik. "Apakah kamu susah bisa bergerak?Kelihatannya, moodmu juga sedang buruk, Mas, jadi aku akan pergi saja. Jangan lupa makan dan obatmu," ujarku sambil berlalu. "Tidak bisakah gugatanmu diakhiri saja? Aku hanya ingin bertahan hidup dengan apa yang tersisa dariku, dan aku tak akan

