Karena tidak tahan dan terus terus dibayangi oleh kekhawatiran karena ditelepon oleh pria misterius itu. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya langsung kepada Bendi setelah pagi hari. "Mas, aku mau tanya," ucapku setelah dia bergabung di meja makan dan menikmati sarapannya. "Apa?" "Apa kau menikahiku untuk membalas dendam pada orang tuaku?" "Apa maksudmu?" Dia tertawa begitu saja. "Apa benar ayahku sudah menghalangi bisnis real estate kalian? Apa benar kau menikahiku hanya untuk menyakitiku?" "Apa kau pernah merasa disakiti?" "Tidak, belum ..." "Dan tidak akan pernah itu terjadi, buat apa aku harus menyakiti istri yang sudah susah payah kukejar?" tanyanya mengernyitkan alis. "Aku terus-menerus mendapatkan telepon misterius yang mengingatkan bahwa aku harus segera kabur darimu," bisik

