"J*nc*k raimu dhes! Provokator koen!... Iki pisan lapo kok nggae-nggae crito lek aku mekso-mekso..hadohh!", (Dasar kau! Tukang provokator!.. Nih cewek juga ngapain bikin cerita kalau aku maksain..Aduhh) Indra dan Hajar kompak terpingkal-pingkal melihat solah polah Khusna yang seperti sedang kebakaran jenggot.
Tuing tuing.. Tuing tuing..
Tiba-tiba handphone Hajar berbunyi. Muncul nama 'Mbakku' pada layar.
"Haloo.. Ndut, koen nang ndi? Langsung meluncur nang omah Bapak yo. Iki Bapak lorone kumat!", (Haloo.. Ndut, kamu dimana? Langsung ke rumah bapak ya. Penyakit bapak kambuh!) Najar menghubungi adiknya untuk mengabarkan bahwa bapak mereka sedang kambuh sakitnya.
Memang setahun ini kondisi kesehatan Bapak dari Hajar yang bernama lengkap Ali Syahdan sedang menurun drastis. Kalau sudah kambuh, Pak Ali hanya bisa terbaring lemas tanpa daya. Dadanya sebelah kiri begitu sakit saat sedang kambuh. Menurut dokter, Pak Ali mengalami penurunan kinerja jantung. Hal itu terjadi karena beban pikiran Pak Ali terlalu berat. Semua bermula sejak perceraian kala itu.
"Ehmm iyo iki lagi metu onok perlu.. Ok ok aku langsung rono!", (Ehmm iya ini lagi ada perlu diluar.. Ok ok aku langsung meluncur!) Terlukis jelas sekali kerisauan di wajah Hajar.
"Ati-ati ndut, ojok gedandapan.. Bahaya gawe koen malah!", (Hati-hati ndut, jangan panik.. Bahaya buat kamu!) Najar terbiasa memanggil adiknya dengan panggilan 'Ndut'. Bukan tanpa alasan, dulu Hajar saat masih TK adalah seorang gadis kecil yg gendut dan lucu.
"Mas, minta tolong antar aku ke daerah Manukan, kerumah bapak. Nanti kupandu arahnya saat sudah masuk daerah sana. Pliss ya, bapakku sakit keras", wajah Hajar menghiba. Kesedihan yang beberapa jam sebelumnya telah sirna, kini hadir kembali laksana mendung gelap yang siap memuntahkan airnya.
Demi melihat kondisi Hajar yang cukup panik, Khusna dan Indra hanya mampu menghela nafas. Khusna dengan khikmat dan tanpa banyak tanya langsung mengarahkan mobilnya untuk turun di pintu tol tandes.
"Rumah yang ada gerobak baksonya, sebelah gang itu berhenti mas!", Hajar memberi isyarat agar Khusna merapatkan mobilnya di sebelah kiri jalan.
Mereka bertiga turun dari mobil dan disambut mbak Najar di depan teras. Terotomatis pikiran Khusna dan Indra langsung terkoneksi dengan wanita cantik yang mereka intip di rumah Hajar. Sesaat mereka terlihat kikuk dan salah tingkah khawatir kalau Hajar telah menceritakan aksi nakal mereka. Namun kekhawatiran mereka tak terbukti. Mbak Najar biasa saja tanpa menunjukkan sikap marah ataupun tatapan benci.
Hajar memperkenalkan Khusna dan Indra pada kakaknya. Saat menyalami Khusna terlihat sang kakak tersenyum jahil sembari melirik ke arah adiknya. Hajar yang tahu sedang 'dicurigai' oleh kakaknya hanya mampu memasang wajah malu-malu kucing. Beralih kemudian mbak Najar bersalaman dengan Indra. Ada yang sedikit aneh saat mereka bersalaman. Seperti ada tatapan yang tak sepantasnya terjadi. Tatapan aneh seorang wanita yang telah bersuami terhadap pria lain. Ehm.. Semoga saja mereka tak melakukan tindakan buruk yang melanggar norma-norma yang ada.
Beriring mereka memasuki rumah dimana bapak dari Hajar tinggal. Rumah itu tidak terlalu besar. Bahkan bisa dibilang kecil. Sebuah ruang tamu ukuran 2x3 meter, disambung ruang tengah yang langsung menghubungkan dengan dua pintu kamar tidur yang saling berdampingan. Di ruangan paling belakang ada kamar mandi dan dapur. Overall mirip tipe 36 perumahan namun dengan kondisi yang mulai lapuk dan kusam.
Bapak Hajar hidup sendiri dirumah tersebut. Nenek yang dulunya sempat dirawat Bapak Hajar telah meninggal dunia sekitar 3 tahun yang lalu di usianya yang menginjak 75tahun. Satu-satunya saudara Pak Ali adalah kakak laki-laki yang tinggal bersama istrinya di Jakarta dan bekerja sebagai kepala sekuriti di salah satu perusahaan terkenal di ibukota.
"Bapak, pripun keadaane?" (bapak, gimana keadaannya?) Hajar mencium tangan ayah tercintanya.
"Dodoku sesek, Nduk. Rasane cekot-cekot tembus geger. Alhamdulillah kok pas mbakmu nginep kene.. Uhukk uhuk", (Dadaku sesak nduk. Rasanya senut-senut sakit tembus ke punggung. Alhamdulillah kebetulan kakakmu menginap disini.. Uhukk uhuk) dengan terbatuk-batuk Pak Ali mencoba berbicara dengan anak bungsunya yang baru datang.
"Iyo ndut, mas Dion onok tugas luarkota seminggu. Yo akhire aku nginep kene.. ", (Iya ndut, mas Dion ada tugas luarkota satu minggu. Ya akhirnya aku menginap disini aja..) imbuh Najar melengkapi penjelasan Pak Ali.
"Bapak sampun ngunjuk obat?, kulo beto teng griyosakit nggih!?", (Bapak sudah minum obat?, dibawa ke rumahsakit ya pak!?) lanjut Hajar merasa prihatin terhadap kondisi Bapaknya.
"Ga usah, Nduk. Iku mau wes ngombe obat. Mengko lak waras. Yoo.. Jenenge wong tuwek yo ngene ki nduk, loro-loroen..", (Tak perlu nduk, Itu tadi sudah minum obat. Nanti juga sembuh. Yaa.. Namanya orang tua renta ya begini ini, sakit-sakitan..) dengan kesusahan Pak Ali tetap berusaha berbicara.
"Lho.. wong parah ngeten kok mboten purun diobataken to?, Nggih sampun pak, istirahat mawon. Tenaganipun di hemat, mboten usah ngendikan kathah-kathah", (Lho.. Parah begini kok tidak mau diajak berobat?, ya sudah pak, istirahat saja dulu. Tenaganya dihemat, jangan banyak berbicara dulu) Najar menimpali ucapan Bapaknya yang sungguh terlihat sangat lemah.
"Nduk.. Iku sopo?, pacarmu ta?", (Nduk.. Itu siapa?, pacarmu ya?) Pak Ali menunjuk ke arah Khusna yang berdiri di samping ranjang.
"Oh.. Saya Khusna Pak, dan ini teman saya, Indra", sapa Khusna pada Pak Ali yang masih saja memperhatikan dengan seksama ke arahnya.
"Cobo rene nyedek kene.. Khus.. koen iku arek apik. Aku kroso iku.. Aku njaluk tulung, jagakno Hajar gae aku. Trus koen Ndra, sakjane aku tertarik karo koen. Koen alus areke. Tapi ga mungkin tak olehno Najar, wong Najar wes duwe bojo. Umpomo aku duwe anak wedok siji maneh, bakal tak olehno koen hehe.. Uhukkk uhuk uhukk", (Coba mendekat sini.. Khus..kamu anak baik. Aku bisa merasakan itu.. Aku minta tolong, jagakan Hajar untukku. Trus kamu Ndra, sebenarnya aku tertarik dengan sifatmu. Kamu anak yang halus dan tenang. Tapi tak mungkin jika kujodohkan dengan Najar, kan dia sudah bersuami. Andai saja aku punya anak perempuan satu lagi, pasti akan kujodohkan denganmu hehe.. Uhukkk uhuk uhukk) Pak Ali masih terlihat sangat lemah, tapi beliau memaksakan diri untuk bisa berbicara dengan teman-teman anaknya. Khusna maupun Indra hanya mampu manggut-manggut mengiyakan perkataan orang tua Hajar yang memuji mereka.
Dengan bantuan obat yang ada, akhirnya Pak Ali bisa terlelap tidur. Begitu juga rasa kantuk yang menggelayut di kelopak mata Najar, Hajar, Khusna, dan Indra semakin tak terbendung.
***
Maaf untuk pembaca semua. Kisah untuk pemeran utama yakni Nada dan Dana masih belum ditampilkan kembali. Sementara kehidupan orang-orang disekitar Nada dan Dana dihadirkan untuk menambah khasanah perbendaharaan kisah. Dan yang tak kalah penting adalah fungsi penceritaan bagi pemain pendukung akan turut melengkapi kesempurnaan alur untuk kisah Nada dan Dana itu sendiri.
So.. tetaplah menyimak episode demi episode. Nikmati perjalanannya, dan temukan jalinan kisah yang terangkai apik dalam setiap rangkaian kalimat pada novel ini.
***