7. Catering serba bisa

1359 Kata
Setelah kejadian show Dana di Cafe yang menggemparkan dunia persilatan, Nada urung memesankan gorengan untuk Hajar. Entah karena Nada malu atau bisa jadi mangkel (mangan tekel, hehe). Alhasil Hajar terpaksa potong kompas meminta nomer Hp Dana pada Nada untuk kemudian menghubungi sendiri. Buah dari tehnik tingkat tinggi Dana dalam bertransaksi, ia berhasil melakukan penawaran handal sehingga akhirnya keluarga Hajar tidak hanya memesan gorengan, namun juga segala menu santap malam untuk suguhan acara reunian ayah Hajar. "Eh Crut, jaremu wingi Nada kate pesen gorengan yo (katamu kemarin Nada ingin pesan gorengan ya)?, sido ta gak (jadikah)?" Khusna melontarkan pertanyaan saat ia sedang singgah di lapak Dana. Selain Khusna juga terlihat Indra sedang duduk diatas motornya seperti biasa, sembari menyulut sebatang rokok. "Oh iku ta?, yang mau pesen itu teman dia yang kemarin diajak ke cafe. Ini aku wes WA an karo temannya Nada" jawab Dana kepada Khusna. "Arek sing putih mingit-mingit koyok putri barbie iku yo (anak yang putih mulus seperti putri barbie itu ya)?" tanya Khusna lagi dengan nada penasaran. "Hahaha Gathel..koen mesti naksir nang de'e ketoke yo Thel (Hahaha dasar..kamu pasti naksir sama dia ya)?" terdengar Indra menimpali dengan pandangan penuh selidik. "Cuk!! Menengo ae koen hehe (Diamlah hehe)" balas Khusna menuding Indra yang sedang nyengir meledek. "Ngene lho rek, ternyata teman Nada yang bernama Hajar itu pesan banyak makanan, tidak sekedar gorengan. Katanya sih sekalian buat suguhan makan malam tamunya!" serobot Dana ditengah aksi saling semprot antara kedua sohibnya. "Pesan banyak jaremu, Ndes (pesan banyak katamu, Ndes)?, wooo aku ga percoyo!. Aku yakin sing bener iku koen telah merayu calon pembeli dengan segudang tehnik marketing. Lak iyo to?, hancuk raimu des.. Koyok ga ngerti kebiasaanmu ae aku iki," Indra sang penyelidik selalu saja tahu intrik sohib-sohibnya hanya dengan melihat mimik muka saat berbicara. "Cu*k ngerti ae telek siji iki hehe!", Dana tertawa renyah menerima tuduhan telak nan akurat dari Indra. "Gae kapan iku No?, aku ikut nganterin ya!?, sekalian bawa mobilku biar bisa buat ngangkut makanannya!" lagi-lagi Khusna penasaran dan bertanya ini-itu membuat Dana Indra tersenyum geli. "Rebo. Terserah deh kalau mau ikut. Ojo telat. Jam 2 siang seluruh menu harus sudah siap meluncur!" jawab Dana seriously. "Modus.. Moduss. Ati-ati No. Koen dipakai sebagai kendaraan pemulus rencana haha!, tapi aku melok pisan yo (tapi aku ikut lho ya) hahaha" seloroh Indra dengan jahil. "He koen ojok melok-melok pedekate cak (Hei kamu jangan ikutan PDKT) bagianku iki!" sergah Khusna menghalangi sepak terjang Indra dalam memburu mangsa. "Sori.. Aku bukan tipe begitu lah yauw. Tenang.. Tak dukung 1000 persen Su, Indra menepuk pundak Khusna sahabatnya itu untuk memberikan efek penenangan. Terlihat Dana juga mengacungkan jempolnya mendukung perkataan Indra. "Suwun dulur, koen kabeh ancen konco kenthel koyok umbel (terimakasih saudaraku, kalian semua emang teman kental seperti ingus..." ucap Khusna yang langsung disambut respon mimik ingin muntah dari kedua sahabatnya. "J*ncuk, kosakatamu nggilani (parah) cuk.. Huekk" Indra memotong kalimat Khusna yang belum selesai sambil berjongkok ke arah selokan di belakang lapak. Sepertinya ia terlihat bersiap muntah. Mungkin dia hamil hehe. "Iyo sori paklek. Sebenarnya aku iki rodok terkesiap waktu melihat sosok gadis di samping Nada yang menerima pot bunga itu. Areke kayaknya juga ngelirik-ngelirik ke arahku. Yooo.. Dongakno mugo-mugo jodo ngunu lho rekk (doakan semoga jodoh gitu)!" lanjut Khusna lagi. Nun jauh di tepi selokan masih terlihat Indra yang memerah wajahnya. "Eh Sebentar, aku lupa belum tanya ke Dono Sugentho sesuatu. Eh No, koen wingi kok tiba-tiba bisa nyanyi uenak gitu?, kapan belajarnya? kok koen ga pernah crito?" Khusna mengintrogasi Dana gara-gara suara emasnya yang luar binasa. "Hehe, oh itu ta?. Aku dulu vokalis grup band jaman SMA, the best grup band level SMA se-Surabaya versi Jawapos," ungkap Dana membuat kaget kedua sahabatnya yang tak menyangka bahwa si tukang gorengan ternyata memiliki sederet talenta. "Wahh.. Manteb cuk. Kita bisa bikin grup band sendiri nih bertiga haha.." sambung Indra memberikan ide. "Hehe.. Usul yang bagus. Sayangnya aku ra minat!" komentar Dana dengan muka not interested. ***** Rabu telah tiba.. Matahari cukup terik menyinari persada. Semilir angin menyusup diantara kehangatan sinar matahari, menambahkan nuansa rasa sejuk sepoi. Lalu lalang kendaraan masih saja tidak berkurang meski suhu udara bisa dibilang cukup tinggi. Terlebih volume kendaraan di jalan-jalan protokol Surabaya. Begitu pula dengan kondisi jalan raya di wilayah kediaman Dana. Jalan yang terbagi dua oleh perempatan Dharmawangsa - Pucang itu terlihat cukup padat. Khusna yang berhenti di sebuah gang bergambar reog terlihat agak kesusahan memarkirkan kendaraannya. Jam masih menunjukkan pukul 13 lewat 2 menit, tapi si cakep Khusna sudah duduk manis dalam mobilnya di depan gapura gang rumah Dana. "Loha paijo, wes siap ta menu nya?. Iki aku di depan gang reog. Tak jemput kesitu atau koen sing kesini?" Khusna menghubungi Dana melalui Hpnya. "Jam berapa iki ndul !?, cepet banget datangnya. Yo koen sing kesini to. Mosok aku jalan mbetotong bawa barang segini banyaknya??" terdengar suara Dana dari seberang telepon. *** Singkat kata singkat cerita, mobil Khusna baru saja berhenti di alamat yang tertulis pada WA Dana. "Permisi pak, mau nganter pesanan buat mbak Hajar. " Ucap Dana kepada seorang sekuriti di gerbang rumah besar bergaya romawi. "Mas Danu ya?, silahkan mas langsung saja ke arah pintu utama. Saya telponkan ke dalam. Kayaknya mbak Hajar lagi tidur, " jawab pak sekuriti sopan. "Dana pak.. Bukan Danu.. Hehe. Iya Pak saya tunggu saja dimobil sambil ngadem, Matur nuwun pak" imbuh Dana. Sekian menit menunggu.. "Mas Deni, ditunggu aja di kursi taman.. Ini mbak Hajarnya lagi mandi kata Nyonya. Santai dan sabar ya mas, mandinya luama biasanya. Ga tau deh apa aja yang digosok kok lama gitu" pak sekuriti mengetok kaca mobil berikut menjelaskan dengan bibir yang agak mengulumkan senyum. Dengan melihat penjelasannya, bisa jadi pak sekuritipun tak luput dari yang namanya kemecer pada sosok Hajar si aduhai. Bisa jadi Hajar juga menjadi bidadari dalam lamunan sekuriti tersebut. "Dana pakkk, bukan Deni... Baiklah pak, kami tunggu ditaman" Dana mulai puyeng dengan daya ingat pak sekuriti. Anggukan Indra dan Khusna mengisyaratkan untuk mengiyakan tawaran sekuriti. Taman milik keluarga Hajar Maya Saridewi cukup luas. Mungkin kisaran 7x15 meter memanjang ke belakang berjajar dengan posisi rumah. Di bagian paling depan dihiasi pohon-pohon kecil sebangsa palem yang berbaris rapi. Diantara pohon palem ada jalan setapak selebar setengah meter yang berkelok-kelok seperti ular di atas rerumputan hias yang terpangkas sama tinggi. Agak ketengah terdapat kolam air mancur dikelilingi berbagai bunga warna-warni nan elok. Di bagian sisi sebelah kanan berjejer dua gazebo yang terletak tepat di sisi kanan dari bangunan rumah Hajar. Salah satu gazebo berhadapan dengan sebuah jendela nako, namun posisinya sedikit lebih tinggi dari tubuh orang dewasa. "Hanjrit, suwe iki sawangane, Jo (lama ini kayaknya, Jo). Ah.. Ngapain juga tadi aku ikut" Indra terlihat gundah dan gusar. Ia paling tidak suka dengan yang namanya menunggu. "Dikandani (dibilangin) ga usah ikut.. Ngeyel koen, Ndes!", jawab Khusna sembari mencibir ke Indra. "Bukan gitu Jehh. Iki Jam 3 aku onok latihan karate. Ngerti dhewe kan koen lek sebentar lagi ada kompetisi karate tingkat Jawatimur" ungkap Indra sedikit lemas tak b*******h. Apakah dia cacingan? "Gampang lah Ndro, engkok lek jam 3 durung beres yo nyegat o bemo nang ngarep (nanti kalau jam 3 belum kelar ya kamu naik angkutan umum aja di depan). Lyn O lewat sini kok. Turun di GOR kan bisa" Dana mencoba menengahi serta memberikan solusi kepada Indra. "Iya sih. Tapi seragamku ga dibawa," sergah Indra. "Telp adikmu, suruh nganter ke GOR bajunya" lanjut Khusna dan langsung disambut senyuman lebar oleh Indra. Saat mereka baru saja duduk di gazebo, terdengar suara aneh dan ganjil sekaligus janggal. Bertiga mereka celingukan mencari sumber suara itu. Bahkan Indra dengan konyolnya melongok kebawah gazebo (model rumah panggung yang ada kaki-kaki dan kolongnya) berharap menemukan sesuatu di bawah sana. Masih saja belum menemukan sumber suara yang muncul membuat trio DKI menjadi semakin penasaran. Hingga tanpa sengaja Indra menengadahkan wajahnya dan menemukan jendela nako dengan posisi terbuka tepat disamping gazebo dimana mereka duduk sesuai instruksi bapak komandan peleton sekuriti. Berbekal rasa penasaran, Indra mencoba naik ke sandaran tempat duduk gazebo yang memanjang seperti layaknya poskamling. Dilongoknya nako yang terbuka itu dan sekonyong-konyong ia mendelik seketika. Tanpa bersuara ia colek kedua rekannya seperjuangan untuk ikut naik. Saat semua sudah dalam posisinya, ketiganyapun terpana dengan mulut menganga lebar. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN