“Apa-apaan kamu, Lena!” Andrean mendorong tubuh Alena, saat Alena mencoba untuk memeluk tubuhnya.
“Aku merindukan kamu, Mas. Aku sangat merindukanmu! Tidak bisakah kau memberikan sedikit cinta untuk ku?” Alena kembali mengejar Andrean, dan kembali memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai itu.
“Aku tidak akan pernah mau melakukannya, Lena. Aku telah memiliki seorang kekasih dan aku akan menikahinya dalam waktu dekat.” Andrean kembali mendorong tubuh Alena, hingga Alena terduduk di atas lantai.
“Bik … Bibik.” Andrean langsung berlari ke belakang untuk mencari asisten rumah tangga di rumah tersebut.
“Ia, Den.” Seorang wanita paruh baya berlari kecil untuk menemui Andrean.
“Bik … tolong siapkan barang-barang Tania dan bang Reno. Sesudah itu, minta mang Tejo untuk mengantarkan barang tersebut ke rumah sakit, tempat biasa Tania dirawat.”
“Baik, Den.”
“Ya sudah. Kalau begitu saya permisi dulu.” Andrean langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
“Mas aku mohon, Mas.” Alena memeluk kaki Andrean, membuat Andrean menghentikan langkahnya, dan melepaskan tangan Alena dari kakinya.
“Aku mohon, Alena. Bersikaplah layaknya seorang kakak ipar kepadaku. Sampai matipun aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, dan satu hal lagi Alena, anakmu sekarang berada di rumah sakit. Sebaiknya kamu temui dia. Anakmu membutuhkan kehadiran kamu, Lena.” Andrean langsung berlari keluar rumah. Ia segera membatalkan niat untuk mengambil barang-barang yang tertinggal, yang masih ada di dalam kamar miliknya.
Melihat Andrean keluar dari rumah, Alena ikut berlari untuk mengejar Andrean. Saat Andrean ingin membuka pintu mobil, Alena berhasil meraih Andrean dan kembali memeluk Andrean. Mata Azmi membesar melihat Alena menangis sambil memeluk Andrean dari belakang.
“Alena” Gumam Azmi. Tanpa berpikir panjang, Azmi keluar dari dalam mobil dan mendekati Andrean yang sedang mencoba melepaskan pelukan Andrean.
“Alena.” Lirih Azmi.
Andrean dan Alena sama-sama menatap kepada Azmi.
“Azmi? Kamu?” Alena segera melepaskan Andrean, dan beralih kepada Azmi. “Kenapa kamu berada disini?” Alena menyergah Azmi dan menatap Azmi dengan tatapan tajam.
“Alena. Aku ....”
“Kakak. Kenalkan, ini Azmi kekasihku. Sekaligus calon istriku.” Andrean merangkul bahu Azmi.
“Tidak. Ini tidak mungkin, Mas! Kamu tidak mungkin bisa melupakan Natasya.” Alena meremas rambutnya sendiri. "Dan …, dan … dia tidak pantas untukmu. A-aku, akulah yang seharusnya kamu cintai, bukan wanita ini."
“Tapi kenyataannya sekarang, aku sangat mencintainya. Dan kami akan segera menikah.” Jawab Andrean mantap, sambil mengusap bahu Azmi. "Iya, kan, sayang?" ucap Andrean lembut.
Azmi mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Andrean. Ia tersenyum, karena Azmi bisa melihat kesungguhan dan ketulusan dari manik hitam milik Andrean.
“Awww …, sakit Lena!” Azmi langsung memegang rambutnya, saat Alena tiba-tiba menarik rambut Azmi.
“Kau harus mati, Azmi! Tidak ada yang boleh memiliki Andrean selain aku. Cukup ayahmu saja yang menghancurkan hidupku. Kau jangan ikut-ikutan mengacaukan hidupku Azmi! Atau kau akan berakhir seperti Ayahmu dan Ibuku.” Alena menarik rambut Azmi dengan sangat kuat, seperti orang yang sedang kesetanan.
Tenaga Alena yang sangat kuat, membuat Andrean kesulitan untuk melepaskan cengkraman Alena dari rambut Azmi.
Pllakkkk
Satu tamparan di layangkan Andrean di pipi kiri Alena, karena ia sudah tidak memiliki pilihan yang lain untuk membela Azmi.
Alena meringis menahan sakit,, karena tamparan Andrean yang sangat keras. "Ka-kamu? Menampar aku, Mas?" Alena melepaskan rambut Azmi, dan menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan kuat dari Andrean. "Demi membela wanita kampungan ini, kamu tega menampar aku?" Alena menunjuk tepat di wajah Azmi.
Andrean langsung menepis tangan Alena, “Iya. Aku memilihnya. Karena aku mencintainya.” Ucap Andrean sebelum ia menarik lengan Azmi, dan menyembunyikan Azmi di balik tubuhnya.
“Kuburlah obsesi kamu, Lena! Sebelum kamu menyesalinya. Dari pada kamu menghabiskan waktumu untuk mengejarku, lebih baik kamu menerima suami mu yang jelas-jelas sangat mencintaimu. Dan belajarlah untuk mencintainya.” Andrean membawa Azmi untuk masuk kedalam mobil.
“Tunggu, Bang!” Azmi menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi, sayang? Kita harus pergi dari sini, sebelum wanita itu menyakiti kamu lagi!”
Azmi mengusap tangan Andrean yang sedang menggenggam tangannya. “Alena ... Ibu sudah tidak ada. I-ibu sudah meninggalkan kita untuk selamanya. Kamu adalah satu-satunya sahabatku, sekaligus saudariku. Kamu juga satu-satunya keluarga ibu. Aku mohon Lena, kamu temui makam Ibu, beliau pasti senang jika kamu datang kesana.” Lirih Azmi.
Alena menarik nafasnya dalam-dalam, “Aku sudah mengetahuinya, Azmi. Aku sudah tahu ibumu itu sudah mati. Dan dia pantas mendapatkannya! Karena dia, aku harus kehilangan ayah ku. Karena dia, aku kehilangan masa depan ku. Dan bodohnya kamu malah mencintai dan menyayanginya. asal kamu tau Azmi, Maryamlah penyebab Ibu kandung mu mati.” Alena tersenyum mengejek kepada Azmi. Setelah mengeluarkan separuh rahasia yang ia pendam. Dengan langkah yang angkuh, ia meninggalkan Andrean dan Azmi. Hatinya terasa sedikit lega, karena ia bisa mengeluarkan sedikit beban yang selama ini menghimpit dadanya.
“Lena … apa maksud kamu, Lena! Apa kamu mengetahui dimana Ayahku berada?” Azmi mencoba mengejar Alena, tetapi Andrean menghentikan langkah Azmi. Dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
“Lepaskan aku, bang! Banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Alena, bang. Hiks … hiks, lepas kan aku!" Azmi terus meronta di dalam pelukan Andrean. “Lepaskan aku,bang! Aku mohon.” Lirih Azmi, sambil memukul-mukul tangan Andrean yang sedang memeluknya.
“Tidak ada gunanya kamu menemuinya, Mi. Dia tidak akan menjawab pertanyaan kamu. Abang berjanji, Abang akan mencari tahu semua ini.” Andrean menangkup kedua pipi Azmi. “Percayalah. Abang akan mencari tahu ini semua untukmu. Sekarang kamu jangan menangis lagi, kita pulang sekarang ya …,” Andrean menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Azmi.
Azmi hanya mengangguk pelan, ia masih mencoba mencerna seluruh ucapan Alena, dan ia yakin banyak hal yang telah dialami oleh Alena selama ia menghilang.
Didalam perjalanan menuju ke rumah persinggahan milik Reno, Azmi hanya diam dan menatap lurus kedepan. Semua perkataan Alena masih berputar-putar di dalam otaknya.
“Mi …, sayang. Hei, kamu kenapa melamun? Kita sudah sampai ayo turun.” Andrean membukakan pintu mobil untuk Azmi, dan mengulurkan tangannya agar Azmi mau menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.
Azmi yang masih syok dengan perkataan Alena, hanya diam dan mengatupkan bibirnya dengan sangat rapat.
“Kamu langsung istirahat ya.” Andrean membukakan pintu kamar milik Azmi, “Kalau ada apa-apa, kamu panggil abang atau bik Lastri, ya. Sekarang kamu istirahat.” Andrean mengusap bahu Azmi dengan lembut.
“Abang tidak pulang ke apartemen?”
“Tidak. Abang akan menemani mu disini.” Andrean tersenyum lebar kepada Azmi.
“Mmmm. Baiklah. Aku istirahat dulu.”
Cup
Andrean memberikan ciuman singkat di dahi Azmi. “Langsung tidur.”
Azmi tersenyum, “Iya, bang.” Ucapnya singkat, sebelum membalikkan badan dan masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Azmi langsung menyentuh dadanya yang tiba-tiba bergemuruh. Ciuman singkat dari Andrean, mampu membuat Azmi melupakan masalah yang sedang ia hadapi. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dan menatap langit-langit kamar, sambil membayangkan wajah tampan Andrean yang selalu tersenyum hangat kepadanya.
Azmi juga membayangkan kebersamaannya dengan Andrean. Pria itu begitu sangat lembut, dan sangat perhatian terhadapnya, walaupun mereka baru beberapa hari bertemu. Azmi juga bisa merasakan cinta tulus yang diberikan oleh Andrean kepadanya. Ia berhenti tersenyum, saat ingatannya berhenti di pertemuannya dan Alena. Sahabatnya yang telah lama menghilang, dan Alena juga satu-satunya orang terdekat yang dimiliki oleh Azmi. Azmi tidak memiliki saudara, karena pernikahan Ayah dan Ibunya tersandung restu dari orang tua dari Ayahnya. Hingga membuat Azmi tidak mengenali siapa keluarga Ayahnya. Sedangkan Ibu Azmi, ia adalah anak tunggal. Beliau juga tidak memiliki sanak saudara. Untuk menghalau rasa gundah yang menyelimuti hati dan pikirannya, Azmi memilih mandi. Agar tubuhnya terasa agak ringan.
Setelah selesai mandi, Azmi mencoba untuk Tidur. Ia menarik selimut, dan menutupi tubuhnya hingga d**a. Semakin Azmi berusaha menutup mata, bayangan Alena dan Ayahnya berputar-putar di dalam benak Azmi. Membuat pikiran Azmi semakin tidak tenang. Lalu, Azmi memutuskan untuk turun kebawah untuk mencoba menenangkan hatinya dengan duduk di pinggir kolam renang. Cahaya bulan yang terang, terlihat jelas di dalam kolam renang tersebut. Membuat air yang berada di dalam kolam tersebut terlihat sangat cantik dan menenangkan.
“Ehem …, kamu belum tidur?" Andrean yang dari tadi hanya melihat Azmi dari kejauhan, langsung ikut duduk di samping gadis yang sedang duduk di tepi kolam renang.
“Belum, Bang. Aku tidak bisa tidur, semua ucapan Alena terngiang-ngiang di telinga ku, bang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku dan Alena. Sehingga, Alena begitu sangat membenciku. Padahal, dulu dia sangat menyayangi ku. Hingga kami berpisah, dia memilih bekerja, aku memilih untuk kuliah.” Azmi mengayunkan kakinya di dalam air kolam renang.
“Dari kapan kamu mengenalnya?”
“Aku mengenalnya saat aku di bawa oleh ibu Alena untuk tinggal di panti asuhan. Ibu Alena, adalah pemilik panti asuhan tersebut. Dari situlah aku mulai berteman dan aku sudah mengaggapmya sebagai saudari kandungku, sekaligus sahabatku. Karena almarhumah ibunya, juga memperlakukan aku dengan sangat baik. Beberapa tahun kemudian, Alena memutuskan untuk bekerja. Satu bulan bekerja, Alena memutuskan untuk mengontrak, karena kata Alena jarak kantor dan panti sangatlah jauh. Semenjak hari itu, Alena tidak pernah kembali lagi ke panti.”
“Jadi kamu tinggal di panti asuhan, Mi?” potong Andrean.
“Iya, bang. Semenjak ibuku tiada, aku tidak memiliki siapa-siapa. Ayahku telah lama menghilang. Hingga saat ini, aku tidak pernah berjumpa dengannya, bahkan sekarang aku tidak mampu mengingat seperti apa wajah Ayahku, dan aku sangat berharap Alena mau menceritakan tentang ayahku. Karena aku yakin, Alena tau dimana keberadaan ayah aku."
“Kemarilah!" Andrean melebarkan kedua tangannya dan membawa Azmi ke dalam pelukannya. “Mulai sekarang kamu tidak boleh bersedih lagi. Seperti yang pernah Abang katakan, abang akan menjaga dan melindungi kamu. Kamu jangan bersedih lagi ya, sayang. Ada abang di sini, Abang berjanji akan selalu ada untukmu, dan menjagamu. Demi kamu, Abang akan mencari tahu ini semua, karena Abang yakin, masalah kita saling berhubungan. Begitupun dengan masalah bang Reno."
“Terimakasih, bang.” Azmi tersenyum kepada Andrean. Walaupun ia belum lama bertemu dengan Andrean, namun Azmi bisa merasa nyaman saat berada di dekat Andrean. Azmi yakin, Andrean adalah pria yang dikirim Allah SWT untuk menjadi pelindung dirinya, sekaligus pria yang akan membahagiakannya.
Konflik semakin tajam, mari berpegangan tangan.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH AKU IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilanku?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Walaupun karyaku tidak sebagus milik penulis lain, setidaknya ini adalah hasil karyaku sendiri. Dari hasil kerja keras memeras otak dan tenaga.. Dan aku berharap, kalian semua menyayangiku seperti aku menyayangi kalian semua.
Salam
Desi Nurfitriani