Dengan penuh percaya diri, Ares kembali menodongkan pisaunya pada leher Alia. Membuat Alia - mau tak mau - menatap wajah masa lalu Ares, yang dipenuhi dengan kebaikan, yang begitu terpancar jelas di sana. Kedua mata pria itu memancarkan sebuah harapan, dan Alia bisa merasakannya dengan sangat jelas. Mereka dulu sangat dekat, hingga tentunya Alia tahu betul bagaimana seorang Ares yang tengah tersesat dengan pikirannya sendiri. "Dulu kamu suka sama, aku! Aku yang salah, karena menolak kehadiran kamu dan lebih memilih Anis! Aku yang salah karena menjadikanmu sahabat dan lebih memilih Anis! Kamu..., kamu satu-satunya yang bisa menahanku. Kemana rasa sukamu itu, Alia???" teriak Ares, frustrasi. HAHAHAHAHAHA!!! Alia pun tertawa keras-keras, karena merasa lucu dengan pernyataan sekaligus perta

