Episode 2

556 Kata
Ranti mengikuti langkah Alia saat jam makan siang tiba. Mereka berjalan menuju sebuah jalan sempit, tempat di mana Alia pernah bertemu Eza, saat pergi bersama Anis - dulu. Entah bagaimana, nalurinya mengatakan bahwa ia memang harus ke sana, meski belum tahu apa tujuannya. "Ini, ada tujuan yang akan kita, tuju?" tanya Ranti. "Ya, ada. Mengintai orang yang diduga adalah salah satu tersangka, dari kasus yang sedang kita pelajari," jawab Alia. Ranti mengangguk-anggukan kepalanya, lalu mulai berjalan di sisi Alia dengan santai seperti biasanya. Ia sepenuhnya percaya pada Alia, dan memilih untuk tidak bertanya lebih banyak. Alia melangkah dengan sangat pelan, seakan-akan sedang menikmati perjalanan itu. Sekumpulan anak nakal yang dulu ia hadapi benar-benar ada di sana, sesuai dengan naluri yang menuntunya. Pandangan mata Alia menangkap sosok Eza dari kejauhan. Ia bisa mengenalinya dengan cepat, meski waktu telah berlalu begitu lama sejak pertemuan mereka waktu itu. Eza menoleh tepat ke arah datangnya Alia dan Ranti, yang kini sudah tak lagi menatap pria itu. Ia mengenali sosok Alia dengan mudah, karena sejujurnya ia tak pernah melupakan gadis kecil pemberani itu sejak kejadian pertemuan tiga belas tahun yang lalu. Pria itu segera melompat ke tengah jalan, dan kembali menghadang langkah Alia seperti dulu. Kelakuannya yang begitu mengagetkan membuat Alia dan Ranti berhenti tiba-tiba. "Wah..., si Eneng udah gede. Masih ingat nggak sama, Kakak?" tanya Eza, seakan-akan sedang menggoda. Alia tetap memasang wajah datarnya, sementara Ranti kini melirik ke arah Alia sekilas, lalu kembali fokus pada Eza yang masih berdiri di hadapan mereka. "Belum berubah ya, masih sama seperti dulu," ujar Alia, datar. Senyum di wajah Eza pun menghilang, ia kini hanya menatap datar ke arah Alia yang tak juga berekspresi sejak tadi. "Udah lama ya, nggak nyangka kita bakal ketemu lagi di sini," ujar Eza. "Kamu nggak pernah lagi mengganggu cewek yang dulu lewat sama aku, 'kan?" tanya Alia, menyelidik. Eza pun terlihat mengerenyitkan keningnya, penuh rasa heran ke arah Alia. Menunjukkan kalau ada sesuatu yang seharusnya Alia lebih tahu, ketimbang pria itu sendiri. "Kamu nggak pernah ketemu dia, lagi? Udah berapa lama?" Eza bertanya balik. "Udah tiga belas tahun," jawab Alia, jujur. Ranti menatap kedua orang itu bergantian, berusaha menduga-duga tentang hubungan apa yang mereka punya sehingga bisa begitu terlihat akrab. "Kamu nggak tahu? Dia yang tinggal di Cijanur, 'kan? Di rumah warna biru muda?" "Iya. Dia tinggal di Cijanur, rumah warna biru muda. Sekarang aku yang tinggal di situ, karena rumahnya dijual." Eza pun mendelik, kaget. "Kamu gila??? Masa rumah bekas orang mati dibeli???" pernyataan yang begitu sangat mengagetkan dari mulut Eza, setelah mendengar pengakuan Alia. "Hah? Maksudnya?" Alia terlihat benar-benar tak mengerti. "Ya Allah! Cewek yang jalan sama kamu waktu itu, udah meninggal sepuluh tahun yang lalu! Lima hari sebelumnya dia mau nikahan, tapi ada kejadian naas dimalam sebelum acara pernikahannya. Dia diperkosa sama perampok yang merampok rumahnya, rumah biru muda itu! Dia nggak meninggal, tapi entah apa sebabnya, menurutku sih mungkin karena dia merasa malu..., dan lima hari kemudian dia bunuh diri. Katanya sih, gantung diri di kamarnya," jelas Eza. DEG!!! Runtuhlah dunia kenangan Alia yang selama ini tersimpan rapi dalam ingatannya tentang Anis. Ia meraba-raba dinding di pinggir jalan sempit itu, untuk mencegah tubuhnya yang limbung agar tak terjatuh. Entah kenapa, ia merasa mual pada saat itu juga setelah mendengar apa yang Eza katakan. Ranti dan Eza memegangi Alia yang sedang terpukul saat itu. "Lia, kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Ranti, khawatir. "Eh, jangan pingsan di sini ya, puskesmas jauh," cegah Eza. Ranti mengeluarkan ponselnya, dan mencari berkas laporan yang ada di dalam file digital kepolisian. "Namanya siapa?" tanya Ranti pada Alia. Alia sendiri masih berusaha menguasai dirinya, mengatur nafasnya, dan bahkan menguatkan batinnya yang kini terasa lebih kosong dari sebelumnya. "Alia! Namanya siapa?" paksa Ranti, sekali lagi. "Anis..., Anissa Riana," jawab Alia, pada akhirnya. Eza menangkap raut wajah penuh rasa bersalah pada ekspresi di wajah Alia. Ranti menjauh, Eza mendekat agar Alia tak terjatuh dengan tubuhnya yang limbung saat itu. Alia pun kini bisa menatap pria itu dari jarak yang begitu dekat. "Kamu mungkin seharusnya nggak pergi meninggalkan dia. Dia lemah tanpa kamu," ujar Eza. Alia terpaku di tempatnya. "Kamu yang paling bisa melindungi dia, kamu yang lebih kuat daripada dia. Dia nggak bisa apa-apa tanpa kamu," tambah Eza. "Aku masih remaja saat itu. Keputusan Orangtua adalah keputusan yang akan selalu aku ikuti. Orangtuaku pindah tugas, dan aku juga jelas harus ikut," jelas Alia. Eza tidak menemukan kebohongan di mata Alia. Mata yang masih saja sama, dengan mata yang ia lihat pertama kali empat belas tahun yang lalu. Mata yang polos, namun dipenuhi dengan keberanian yang luar biasa. Ranti mendekat dan memperlihatkan sesuatu pada Alia. "Kasusnya buntu. Para perampok yang memperkosa Anis tidak pernah tertangkap. Anis memang bunuh diri lima hari setelah peristiwa itu, Lia. Ini hasil autopsinya," ujar Ranti. Alia meraih ponsel milik Ranti, dan membaca semuanya dengan seksama. Ranti menatap ke arah Eza. "Kamu tahu semua soal itu, dari mana?" tanya Ranti. "Semua orang di sekitar Malangbong sini, tahu tentang kejadian itu. Beritanya menyebar luas, beberapa kali masuk koran, dan juga televisi," jawab Eza. Alia kembali memberikan ponsel pada Ranti, setelah membaca berkas digital mengenai kasus Anis. "Sebaiknya kita kembali ke kantor, jam makan siang udah hampir selesai," saran Ranti. Alia mengangguk setuju. Ia memberi kode pada Ranti untuk jalan duluan, lalu kembali menatap Eza. "Kamu jauh-jauh dari masalah. Kamu udah lama dicurigai oleh pihak kepolisian dalam sebuah kasus," ujar Alia. "Polisi curiga sama aku? Kenapa? Karena aku anak jalanan yang nggak punya hidup tetap?" ejek Eza. "Apapun alasan Polisi lain mencurigai kamu, aku nggak peduli. Mau hidupmu nggak jelas, mau hidupmu nggak tetap, aku nggak peduli. Yang aku peduli adalah, kamu harus menjauh dari masalah! Mengerti?" tegas Alia, lebih seperti meminta pada Eza. "Iya, aku akan berusaha jauh-jauh dari masalah," balas Eza. Alia pun berlalu meninggalkan Eza, untuk menyusul langkah Ranti. "Alia!" panggil Eza. Alia pun berbalik. "Nama kamu Alia, 'kan?" tanyanya. "Namaku Alexa Kasalia. Alia cuma nama panggilan," jawab Alia, jujur. Eza tersenyum usai mendengar jawaban Alia. "Namaku Eza, tolong diingat," pintanya. Alia pun mengangguk lalu kembali berbalik menuju ke arah Ranti yang sejak tadi sengaja berjalan pelan-pelan. "Selanjutnya, gimana?" tanya Ranti. "Aku masih mikir, Ran," jawab Alia. "Aku udah telepon tukang las. Semua jendela, pintu, dan bahkan lubang angin di rumah kamu bakalan aku tambal habis-habisan besok pagi!" putus Ranti. Alia mendelik. "Lubang angin juga?" "Iya! Kalau perlu lubang kunci di rumahmu juga ikutan di las, biar aman!" balas Ranti. "Sekalian aja, kamu bentengi rumahku pakai besi baja! Tanggung kalau cuma sampai lubang angin doang!" sindir Alia. Ranti terkikik geli mendengarnya. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN