“Umi.” Suara bariton milik seorang laki-laki langsung menyambut ketika Umi Maira baru saja menutup pintu ruang perawatan. Umi Maira mengulum senyum tipis seraya menatap lekat laki-laki itu. Laki-laki yang sudah banyak membantu keluarganya. Bahkan, laki-laki itu menawarkan diri untuk menemani Umi Maira ke Yogyakarta karena tak tega membiarkan wanita setengah baya itu pergi sendirian. Sebab, tak mungkin bagi Pelita untuk ikut pergi karena harus menjaga Aruna dan sesekali membesuk Kirana di pusat rehabilitasi. “Gimana keadaan Binar, Mi?” tanya laki-laki jangkung itu dengan nada yang sarat kekhawatiran. “Dia sudah tidur. Dari tadi ngeluh sakit terus karena kontraksinya sering muncul. Alhamdulillah, dia bisa tidur sekarang,” sahutnya. “Umi harus pergi ke kosnya untuk mengambil baju dan perl

