BAB 2

1485 Kata
"Mira.. Mira...!” panggil Dimas, aku pun menoleh kulihat Dimas memanggilku. Dimas adalah Ketua Kelasku. Orangnya sangat baik dan ramah. Sudah lama Dimas memang selalu mencari perhatian padaku. Aku bukannya merasa begitu percaya diri. Tetapi memang kenyataan seperti itu. Ia selalu saja berusaha membantuku, sehingga mau tak mau aku akrab dengannya. “Kenapa Dimas ?”sahutku seraya menghentikan langkahku. “Mir.., aku sudah memfotokopikan soal - soal ujian di tempat lesku aku pikir kamu pasti membutuhkannya,” balasnya, menunjukkan beberapa lembar kertas. "Wah, Dimas terima kasih kamu repot-repot melakukan ini untuk aku." Sungguh aku tak percaya dengan sikap baiknya padaku. "Tidak apa-apa Mira, aku tidak merasa repot untukmu. Kalau perlu kamu ikut saja les di tempatku. Tempatnya bagus dan banyak sekali pembimbing yang terlatih, nanti biar aku antar kamu jika ingin kesana.” “Aku rasa boleh juga bukan sebentar lagi kita akan naik kelas dua? Sepertinya aku butuh untuk belajar lebih giat," sahutku setuju "Baik Mir, Besok akan aku bawakan brosur tempat lesku. Bagaimana kalau kita bertemu sepulang sekolah?" "Emmh. Boleh Dimas." Aku mengangguk setuju "Sampai ketemu besok,yah.” ‘pergi les? rasanya tidak buruk juga.’ pikirku. Keesokan harinya. “Mira...Mir, aku disini!” teriak Dimas. aku berjalan ke arahnya. Ia memberikan aku beberapa lembar brosur dan satu tangkai bunga. Membuatku menyeritkan dahi kebingungan. “Dim... kenapa kamu berikan aku bunga juga ?“ “Mir, terimalah. Aku memang sengaja memberikan untukmu karena aku memang sudah lama menyukaimu". Seperti ada petir di siang bolong mendengar Dimas bilang suka padaku. aku sama sekali tak pernah berfikir tentang laki laki. yah, kecuali dengan Rendra yang membuat aku tertarik dari awal pertemuan kami. Aku yang kaget langsung saja berbailk meninggalkan Dimas. Entah apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku juga tidak tahu. Tiba tiba saja Dimas menarik lenganku. “Mir... kenapa kamu pergi ? apa kamu tidak suka dengan semua ini ? Jika iyah. Aku tak akan memaksamu untuk menerima cintaku. Aku hanya ingin mengungkapkannya padamu. Tolong jangan pergi seperti ini." Mohon Dimas padaku. “Lepaskan Dim, kita masih di dekat sekolah, aku tak ingin ada orang yang salah paham.” Aku berusaha melerai pegangannya namun tetap tak berhasil karena Dimas malah mengeratkan genggamannnya. "Gak, Aku gak akan melepaskan kamu “ Cupp.! tiba- tiba saja Dimas menarik tubuhku dan mencium pipiku. Aku yang sangat marah langsung saja menampar pipinya keras. "Apa-apaan kamu Dimas! Apa kamu fikir dengan sikapmu itu aku akan menyukaimu ? tidak. Aku justru membencimu, mulai sekarang jangan mencoba mendekati aku". Aku begitu marah dengan sikap lancang Dimas tadi. Aku pulang dengan berlari aku tidak pernah berfikir Dimas laki laki yang b******k! Entah kenapa hatiku sangat marah sehingga air mata ku terus saja jatuh. Aku yang seperti ini lebih baik untuk tidak pulang dulu karena pastinya akan membuat Ibu khawatir. Ku coba untuk jalan- jalan di taman dekat sekolahku. Mencoba menenangkan hatiku yang gelisah. Jam sudah menunjukan pukul empat sore kulihat Dimas beberapa kali mencoba menghubungiku. k*****a isi Pesannya. -Mir.. Maafkan kelancangan ku. Aku tahu, aku sudah bertindak bodoh. tapi kamu belum mengambil brosur yang kemarin aku janjikan, maka temui aku Mir, di gudang belakang sekolah jam 5 sore ini.- Sebenarnya aku merasa percuma untuk mengambil brosur tersebut bahkan aku sudah tak sudi untuk ikut les bersama Dimas. Tetapi jika aku menolak itu artinya aku mengecewakan Dimas. Akhirnya terpaksa aku menyetujuinya. *** "Awww!" aku mendengar samar-samar suara orang mengadu kesakitan, Ku susuri asal suara tersebut. Kulihat seorang anak laki-laki tengah kesakitan. Ku dekati ia berniat membantunya. "Rendra, Kamu kenapa ? kenapa bibirmu berdarah ? kamu habis bertengkar?” tanyaku begitu khawatir melihat kondisinya. Kucoba membangunkan tubuhnya yang terperosok. Dan seperti biasa ia hanya menatapku. Aku yang memang sedang kesal dari tadi karena ulah Dimas jadi membentaknya “Hei... Kamu gak punya mulut,yah?! Aku tanya kenapa bibirmu berdarah ?” tekanku. Ku usapkan jemariku di bibirnya. Untuk menghilangkan bekas darah. Tapi tiba-tiba saja Rendra mendekat menciumku dengan paksa ciuman yang seakan dipenuhi amarah. Aku sungguh tidak mengerti apa yang ia lakukan padaku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menguraikan pelukannya, tapi justru tidak berhasil ia malah membopongku membawa ke gedung belakang sekolah yang memang jaraknya tidak terlalu jauh. “Kamu mau apa?“ teriakku frustasi. Kenapa semua ini terjadi? tadi Dimas dan kenapa sekarang Rendra ? ia terus saja diam, tanpa mengucapkan satu katapun. Rendra mengunci pintu gerbang. Kulihat tatapannya yang dipenuhi amarah, tapi kenapa apa salahku ? “Apa yang mau kamu lakukan ? Kenapa kamu mengunci pintunya ?” Rasanya terlalu bodoh untuk aku meminta penjelasaan dari laki-laki itu sekarang, Tapi kali ini hanya itu yang kubutuhkan. Sebuah penjelasan akan sikapnya yang berbeda. Aku mencoba mundur kebelakang. Kenapa niat baikku menolongnya malah seperti ini?. Rendra perlahan mendekat ia menarikku kembali dalam pelukkannya diciumi lagi bibirku sekarang terasa seperti ciuman yang penuh hasrat. Perlahan ciumannya turun keleher dengan aku yang terus dipeluknya dengan erat dan dengan beringas tangannya merobek kemeja sekolahku dengan bibirnya yang masih menciumi leherku, aku mencoba melawannya namun tetap tidak berhasil, karena setelah itu ia mendorongku kepojokan dan berhasil mengikat tangan dan kaki ku, juga menutup mulutku dengan kain terlebih dulu. Kini kemeja sekolahku telah koyak. Aku sangat malu saat ia memperhatikannya. Kubuang wajahku ke samping. Sungguh aku tak sudi menatap kembali wajahnya. ia laki-laki yang sungguh hina. Aku bergidik kegeliaan merasakan sensasi yang menggetarkan seluruh tubuhku. Pengalaman pertama yang aku rasakan. Aku hanya bisa menangis dengan sikapnya aku sangat kecewa dengannya, aku yang tadi menolak Dimas karena sempat terfikir bagiku untuk lebih baik dengan Rendra. Tetapi ia justru lebih b******n dibandingkan Dimas. Ia menanggalakan bajuku, membuat tubuhku polos di depannya. Sedang aku hanya bisa menarik narik ikatan tanganku yang mungkin sudah berdarah.Kulihat ia juga membuka baju dan celananya. ‘Apakah ia berniat memperkosaku? tapi kenapa ?.’ Setelah kami sama-sama naked, Bibirnya langsung membungkam bibirku. Tanpa sadar ia telah memasukkan miliknya di daerah kewanitaanku. Sakit, perih.., tapi aku sama sekali tak mampu berbuat apapun hanya air mata yang terus mengalir deras. Aku begitu jijik dengan kelakuannya. Entah berapa kali ia melakukan hal itu padaku. Tubuhku sudah lelah dan hampir pingsan. Hatiku hancur. Cinta pertamaku berakhir begitu menyakitkan. Aku menatap padanya dengan tatapan memelas kulihat ia melepaskan kungkungannya kepadaku lalu berdiri di tengah. Ku dengar ia berteriak keras, entah apa yang ia fikirkan saat ini. Hanya satu kata yang mampu aku dengar “Maaf...” gumamnya lirih. Dan lelaki itu perlahan menjauh. Sosoknya perlahan lenyap seiring dengan ruangan kembali tertutup. Aku yang sudah hancur hanya bisa menangis. Aku bahkan merasa sangat kesulitan untuk bergerak. Fikiranku teringat akan ibu. ‘Apa yang harus aku katakan dengan Ibu, jika Ibu tahu aku sudah diperkosa?’ Tiba- tiba saja datang seorang ibu paruh baya datang. Ia membantuku memberikan aku baju dan memapahku yang memang sejak tadi merasa kesakitan. Ia juga memakaikan aku baju terlihat sesekali ia mengeleng-geleng tak percaya. Aku yang kalut lupa untuk bertanya siapa Ibu itu ? mengapa ia tahu jika ada orang di gudang belakang sekolah ?. Mira POV end. *** Flashback On. “Sial...! sungguh sial. !” Umpat seorang Dimas saat tahu dirinya ditolak mentah-mentah oleh Mira. “Lo kenapa sih, Dim ?” tanya Rafiq yang memang sedang bersama Dimas. "Lihat ajah tuh cewek. Gue bakal bikin pembalasan. Gue bakal bikin dia yang justru bertekuk lutut dihadapan gue," seringai Dimas penuh kebencian. Matanya memerah menunjukan dendam yang membara. Sedang tangannya menunjuk ke udara. “Haah! Emang lo mau apaiin? terus cewek siapa yang lo maksud ?” "Lo gak perlu tahu, Raf. Gue cuma minta tolong sama lo. Bisakan nanti jam 5 kita ada di deket belakang sekolah, gue mau bikin cewek itu menderita." Rafiq yang bingung pun akhirnya hanya menyetujui permintaan Dimas, tapi satu yang tidak Dimas tahu jika ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Sesampainya di gudang belakang sekolah mereka justru disambut dengan Rendra yang langsung memukul Dimas. Ia tahu jika Dimas memiliki niatan tak baik. Dimas berusaha membalas dibantu dengan Rafiq yang memegangi Rendra dari belakang. Satu pukulan sukses mendarat di pipi kanan Rendra. “Gak usah ikut campur lo sialan ! ini urusan gue sama itu cewek, hari ini gue bakal buat dia bertekuk lutut. Gue bakal perkosa dia dan ngrasain tubuhnya. Emm, Pasti nikmat, “ ucap Dimas berusaha mengejek Rendra dengan menjulurkan lidahnya. Sementara Rafiq tak percaya dengan niatan Dimas membuatnya sedikit mengendurkan pegangannya. Rendra yang begitu marah langsung menghajar mereka secara membabi-buta. Perkelahian antar 3 orang remaja tak bisa dielakkan. Namun dewi fortuna sepertinya memihak ke Rendra terbukti ia berhasil menang telak memukul lawannya. Dimas dan Rafiq yang babak belur segera pergi dari sana. “Awas lo! lihat gue bakal bikin pembalasan ke lo dan Mira, dan lo gak bakal bisa nyelamatin dia lagi. Lo bakal lihat kalau Mira juga akan jatuh hati ke gue, setelah dia cinta sama gue, gue bakal ninggalin dia. Hahhahaa.. “ Bahkan sebelum pergi Dimas masih berusaha membuat Rendra dipenuhi amarah. Sebenarnya Rendra ingin mengejar Dimas dan merobek mulutnya tetapi pukulan di perutnya membuat dia ambruk tak bergerak. Flashback off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN