BAB 7

1234 Kata
"Emm.. soal Ibuku. Aku sendiri sama sekali tak pernah mengenalnya, beliau meninggal saat aku di lahirkan. Selama ini aku dirawat nenekku dan setelah nenek meninggal aku memang tinggal sendiri" jelas Rendra mengaburkan lamunanku. 'Tunggu dia bilang tinggal sendiri, berarti memang cuma akan ada kita berdua disini sampai larut malam. Apa yang kau lakukan Mira?. Kau malah berduaan sama laki-laki ini?'. Belum usai kebingunganku, Kulihat Rendra yang berjalan keluar kamar. "Tunggu lo mau kemana?" 'kenapa ia malah pergi?' "Kamu pasti lapar... aku akan memasakkan sesuatu untukmu" jawabnya disela senyumnya yang begitu lembut. Aku sudah mengikuti langkah Rendra menuju dapur, sepanjang mata memandang memang rumahnya begitu rapi dan bersih. Sangat kontras dengan pengakuaanya yang tinggal sendiri. "Lo bilang tadi tinggal sendiri tapi rumah lo rapi banget" ucapku, sambil menatap kesekelilingku. Rendrapun menengok menghadapku yang tengah duduk. Karena sebelumnya ia sedang asik dengan bahan masakan. "Aku tak suka rumahku berantakan. nenek selalu mengajarkan aku buat menjaga kerapian. Jadi aku selalu merapikan dan membersihkan sendiri" "Haa... lo gak menggunakan jasa home cleaningkah ?" "Tidak .. aku tak suka rumahku ada orang lain yang masuk" 'Haa... apa dia bilang, bukannya aku juga orang lain yang sudah masuk kerumahnya?. Setelah menunggu 10 menit masakan Rendra pun matang. Aneh memang orang yang tadi terluka parah malah memasak untukku. Di depanku ada telur omelet dan sayur bayam yang sangat mengiurkan. Aku memang sudah sangat lapar setelah tadi pagi berjalan jauh. Setelah ditawari makan, tanpa menolak aku memakan dengan lahap. Entah karena masakannya yang memang enak, atau karena perutku yang lapar. Yang jelas aku sudah menghabiskan piringku yang kedua. "Kamu suka?" tanyanya dengan senyum manisnya. Membuatku salah tingkah. "Emm.. masakanmu enak.!" jawabku jujur. "Terima kasih. Aku memang terbiasa memasak sendiri" Terulas rona kemerahan di wajah tampannya saat aku tanpa sengaja memuji masakannya. Setelah itu hanya keheningan yang ada diantara kami. Membuat aku sangat tak nyaman. "Aku antar kamu pulang." kata Rendra sambil berlalu dari meja makan. Ahk... aku baru ingat kembali kejadian tadi pagi, kenapa hanya melihatnya aku seperti melupakan penderitaanku dan kemana aku pulang malam ini ? bahkan uangpun aku sudah tak punya. Rendra kembali mendekatiku. "Ayok... Mira. Aku antarkan kamu pulang!" perkataannya yang ini lebih lembut dari sebelumnya. dengan canggung aku menggaruk tengkukku untuk sedikit mengalihkan degud jantungku yang mungkin sudah mau merosot ke bawah. "Kamu... tak perlu antar aku, aku bisa sendiri.!" "Tidak Mira, ini sudah malam aku tak akan membiarkan kamu jalan sendiri." Ahk.. aku harus bagaimana ? Aku gak mau Rendra tahu kalau aku sekarang tak punya tujuan. "Mir... Mira! Kamu melamun ?" selidiknya iris matanya tepat melihat mataku dengan intens. "Aku tak bisa pulang... karena.. karna aku sudah diusir dari rumah." jawabku sambil menunduk. Aku malu harus mengakui kenyataan yang bahkan ingin aku tolak. "Apa ?! Kenapa kamu di usir?" tanya Rendra sambil mengguncangkan bahuku pelan. tiba-tiba emosiku tersulut. Bukan kan ini juga karena dia, pikirku. Dan tanpa sengaja aku melontarkan semua isi hatiku. "Ini semua karena kau! karena kau aku di usir dari rumah! abangku Maher tahu kalau aku sedang hamil dan dia sangat marah sehingga mengusirku. Aku bahkan sekarang tak punya tujuan dan uang!" Emosi membuat aku meluapkan hal apa saja yang tadi ku tahan. Kulihat Rendra sangat shock. Bahkan setetes peluh keluar dan membasahi dahinya, akupun jadi menangis meratapi nasibku. "Kau tahu Rendra... aku... aku hamil dan ini karena ulahmu. !" ucapku lirih. Seharusnya moment seperti ini diwarnai dengan kebahagian, tetapi justru sekarang sebaliknya. Rendra hanya terduduk di kursi makan. Cukup lama ia diam dengan raut wajah yang sulitku tebak. Aku berfikir pasti ia merencanakan untuk memintaku mengugurkan kandunganku dan mengusirku jauh. "Aku mohon pertahankan anak ini! .. aku... aku memang belum bisa sepenuhnya bertanggung jawab, tapi aku sangat menginginkan anak ini. Tolong kamu jangan berbuat suatu hal yang akan merugikanmu juga kandunganmu. Aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian" Perkataannya sukses membuat hatiku semakin terombang-ambing, sikapnya yang di luar perkiraanku membuat aku tak tahu haruskah senang atau sedih?. "Mira... jawab aku! maukah kamu tinggal di sini untuk sementara ? Aku janji gak akan berbuat macam-macam dan segera mencarikan tempat untukmu". Sekali lagi Rendra meyakinkan aku dengan menggengam tanganku erat. Aku tak punya pilihan selain setuju. Aku kemudian berlalu darinya, menuju kamar Rendra. Sungguh aku tak tentu arah. Tak mengerti apa yang mesti aku lakukan. Jika istilah w*nita mur*han disematkan olehku mungkin memang pantas. Bagaimana tidak, aku tinggal serumah dengan lelaki yang bukan suamiku. Perkataan Maher tadi pagi kembali teriang-iang di benakku. Aku duduk ditepi ranjang. Setelah menutup setengah pintu dan kembali menangisi takdirku. Sementara Rendra duduk di ambang pintu lelaki itu ku dengar ia juga menangis, mendengar tangisanku. Rendra POV Apa yang aku lakukan ? aku bahkan tak bisa membuat Mira menghentikan tangisannya sejak tadi. Akupun terlalu sedih mendengarnya. Kulihat jam sudah pukul 2 dini hari dan keadaan sedikit tenang artinya Mira menangis kurang lebih 4 jam. Dan sekarang ia mungkin tertidur karena kelelahan. Mira hamil dan itu anakku!. aku sangat senang sekali, meski aku masih muda namun hatiku sungguh bahagia mendengar wanita yang aku sukai sedang mengandung buah hatiku. Menyesal? tentu tidak! aku bahkan berjanji pada diriku untuk melakukan yang terbaik. Aku tak akan seperti ayah yang menyia-iyakan anak kandungnya sendiri. Tetapi tak aku pungkiri jika kecemasan juga meliputi hatiku. Aku takut tak bisa menjadi ayah yang baik. apalagi Mira membenciku. Rendra POV end. Pagi tiba, dan Rendra terbangun saat bunyi piring jatuh. "Mira.. kamu sedang apa? tanyanya. "Maaf Ren.. ini sudah jam 8 pagi dan aku lapar. Aku hanya mau memasak mie untuk kita, tapi gak sengaja piringnya pecah". Buru-buru Rendra ke dapur. "Apa.. kamu mau sarapan ? Baik aku akan memasak untukmu lagi. dan ingat jangan makan mie itu tak sehat untuk mu dan kandunganmu. Kamu duduk saja, pecahan piring ini biar aku yang bereskan." "Tapi.. Ren!" "Kamu tak boleh membantah. Sekarang duduk" perintah Rendra kembali. 15 menit kemudian masakan Rendra selesai. ia memang terlihat lihai memasak. Sebentar saja sudah tersaji sayur capcay dan ayam goreng. "Makanlah.. aku mau membereskan pecahan piring dulu." "Ren... kamu makan juga dulu. Nanti baru kita bersihkan bersama." aku merasa tak enak karena ia berusaha merapikan apa yang tadi aku buat kacau. "Kamu tenang saja Mira, aku akan makan setelah selesai" "Baik... kalo gitu aku juga tak akan makan!" Ambekku sambil melipat kedua tanganku didada. "Tidak... kamu harus makan! Kamu harus sehat Mir." Rendra mendekat dan langsung mengambilkanku nasi. Lelaki itu tak sedikitpun lengah menatapku. Memastikan jika aku menghabiskan sarapan yang ia buat. Semua telah selesai. Ia merapikannya sendiri, bahkan Rendra telah selesai cuci piring. Ia sama sekali tak mengizinkanku untuk kerja. "Kamu? Mira hanya perlu duduk" katanya. "Ren... kamu gak pergi ke sekolah? Ini sudah jam 9" "Enggak... kalaupun aku masuk sepertinya sudah telat. Aku akan disini menemanimu" 'Apa... menemani yang seperti apa yang Ia maksud? Apa ia tak tahu dari tadi jantungku tak tenang menerima semua perlakukannya.' "Emm... bagaimana kalau kita belanja. Kamu akan tinggal di sinikan? Jadi aku harus beli beberapa sayuran dan lainnya." "Apa kamu selalu makan sayur, Ren ?" "Iyah... aku tak suka makan makanan tak sehat. Dan apalagi sekarang kamu sedang hamil. Aku ingin anak ini tumbuh sehat." Sekali lagi perkataan sederhana yang keluar dari mulutnya membuatku terharu. Ia selalu bisa membuatku merasa special bahkan saat sore yang panas itu, meski ia melakukannya dengan paksa tetapi tak bisa aku pungkiri jika semua sentuhannya waktu itu begitu lembut membuat dadaku berdebar kencang antara rasa kecewa, marah, tetapi ada sedikit perasaan bahagia. Mungkin karena perasaan itu juga yang membuat aku tak mampu membencinya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN