Bagas bersyukur karena saat ia masuk ke dalam rumahnya, Bi Inem sudah tidur terlebih dahulu jadi Bi Inem tidak khawatir dengan wajahnya yang penuh luka ini. Bagas langsung masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas kasurnya. Ia memegang pipinya yang baru saja di obati tadi. “Argh” Bagas mengaduh setelah memegang pipinya. Bagas mulai mengingat kejadian tadi saat luka diobati oleh Kinan, ia bisa melihat betapa cantiknya wajah Kinan saat ia menatapnya dari dekat. “Cantik sih tapi galak” celetuk Bagas. Bagas senyum-senyum sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya, setelah itu ia beranjak dari kasurnya untuk mandi dan makan malam sebelum ia tidur. *** Pagi-pagi buta seperti ini Kinan sudah terbangun dari tidurnya, entah mengapa ia berinisiatif untuk membuat nasi goreng dan akan dibawanya

