Tugas Sekretaris

1265 Kata
Datang lebih awal dari Pak Bos. Pastikan seluruh ruangan dan meja bersih dari debu. Teh tawar hangat sudah tersedia di meja. Cepat saat Pak Bos perlu sesuatu. Mila membaca pesan yang dikirimkan oleh Priska pagi ini. "Buset! Ini sekretaris apa asisten rumah tangga sih?" Mila membaca pesan itu berulang kali, tapi tetap saja sama. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi. Seharusnya jam segini ia masih sempat untuk membuat sarapan pagi, tapi sekarang sudah tak bisa lagi kecuali ia memajukan lagi alarm bangun paginya. Mengenakan atasan blouse biru dan rok span berwarna nude, Mila terlihat manis ditambah dengan lipstik berwarna coral yang menghiasi bibirnya. Meraih tasnya, Mila mengambil dua lembar roti gandum dan memasukkan ke dalam kotak makannya. Dalam perjalanan menuju kantor, ia tak henti menguap karena Ica, sahabatnya kemarin malam mampir ke rumah dan pulang cukup larut malam. Netranya menyapu parkiran yang masih sunyi dari kendaraan milik karyawan. Berjalan ke arah lobi, satpam jaga pagi menyapanya yang tak biasa datang begitu awal. Lift membawanya ke lantai dua belas, lantai tempat ruangannya dulu berada, sekaligus tempat ruangan barunya. Ruangannya dan ruangan Nico berada di lantai yang sama. "Pagi, Mbak Mila," sapa Ani, office girl kantor yang masih membersihkan ruangan Priska yang kini menjadi ruangannya. Mila merespons dengan senyuman tipis. "Jadi yang gantiin Mbak Priska selama cuti melahirkan Mbak Mila ya?" "Iya, Ni. Bete banget." Mila cemberut sembari meletakkan tasnya, kemudian mengambil selembar roti gandum lagi dari dalam kotak bekalnya. Mila semakin dibuat heran dengan perintah Nico yang mengharuskannya mengawasi Ani saat membersihkan ruangan "Dulu sama Mbak Priska juga gitu, sesuai sama permintaan Pak Nico yang gak mau sembarangan orang masuk ke ruangannya," ucap Ani membuatnya tertegun. Ia tak habis pikir, ternyata ada orang ribet seperti itu di dunia ini. Bermain dengan ponselnya, ia menemani Ani yang dengan cekatan membersihkan setiap sudut ruangan Nico. Lagi-lagi ia dibuat heran saat Ani mengatakan kalau tugas mengantarkan teh untuk Nico juga adalah tugasnya. "Mbak Mila, ini teh tawar hangat punya Pak Nico," ucap Ani mengagetkan. Kali ini ia meminta Ani untuk mencoba mengantarkan teh itu langsung pada Nico. Setibanya di ruangan, bukannya menerima teh yang sudah dibawakan oleh Ani, Nico malah meminta agar Mila yang mengantarkannya sendiri. Dengan sangat terpaksa ia membawa lagi teh itu ke ruangan Nico. "Salah satu tugas kamu ya itu, mengantarkan teh untuk saya," ucap Nico menunjuk secangkir teh yang ada di mejanya. Mila menganggukan kepala dengan wajah tanpa ekspresi. "Hari ini jadwal saya apa saja?" tanya Nico sedikit ketus. Mila menggelengkan kepala santai karena memang tak tahu jadwal bosnya itu. "Kamu itu sekarang sekretaris saya, jadi kamu harus tahu jadwal saya apa saja! Kamu harus inisiatif tanya sama Priska. Apa harus saya juga yang tanya? Kamu gak cek di tablet?" Nico berdiri sambil menyilangkan tangan di d**a, menatap Mila yang tak bersuara sedikit pun. Beberapa detik kemudian gadis itu berbalik dan keluar dari ruangan Nico, ia tidak menghiraukan bosnya yang terus memanggil dirinya. Mila langsung mendaratkan diri di atas kursi kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencang, tapi itu tak bisa ia lakukan. "Kesal banget ya ampun," jeritnya dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara Nico yang berdiri di depan pintu ruangannya. Ia kemudian meminta Mila untuk ikut ke pertemuan dengan klien di salah satu hotel dan menyiapkan mobil. Mila menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan emosi yang ada dalam dirinya. Kebetulan sekali, Priska menelponnya. Tanpa sungkan ia mengeluh apa yang terjadi pagi ini pada Priska. Mendengar keluhan yang Mila sampaikan padanya, Priska tak hentinya meminta maaf karena Mila harus berada di posisinya. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan Priska atas keadaan ini. Sebagai gantinya, Priska akan ada dua puluh empat jam untuk melayani keluhan Mila. Setelah mengakhiri panggilannya, ia segera menuju lantai bawah untuk meminta supir kantor menyiapkan mobil. Aneh rasanya berada di sebelah Nico saat mereka pergi ke lokasi meeting hari ini. *** Begitu tiba di tempat meeting Mila mengambil posisi duduk di samping Nico dan mulai mencatat hal penting yang ia dengar saat rapat. Beruntung meeting hari ini berjalan lancar dan cepat. "Sekretaris Nico yang baru ya?" tanya rekan bisnis Nico ramah sambil mengulurkan tangan. Mila menyambut uluran tangan tekan bisnis Nico itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Rangga. Sambil menunggu Nico selesai dari toilet, mereka terlibat obrolan kecil menceritakan sedikit profil diri masing-masing. Dengan pedenya Rangga menyebutkan kalau ia adalah pria single yang sedang mencari pasangan. Rangga yang terlihat gagah dan juga mapan, sedikit banyak membuat Mila tertarik. Senyum tak hentinya terlukis dari wajah cantik gadis itu selama mereka mengobrol. Tak lupa mereka berdua juga bertukar nomor w******p. Nico yang baru keluar dari toilet melihat pemandangan itu, segera mengambil langkah seribu menghampiri mereka. Namun, Rangga telah lebih dulu berjalan meninggalkan Mila sebelum Nico sampai. "Kamu ngapain sama Rangga tadi?" tanya Nico di perjalanan pulang mereka menuju kantor. Wajahnya terlihat tidak suka. "Ngobrol biasa aja, Pak," sahut Mila sambil menatap layar ponselnya membalas Rangga yang lebih dulu mengirimkan pesan. "Ngobrol biasa apa ganjen dengan rekan bisnis saya?" tuduh Nico. Mila menatap tajam ke arah pria yang ada di sampingnya, tak berminat untuk menjawab pertanyaannya tadi. Mobil yang Nico kemudikan berhenti karena lampu lalu lintas berubah menjadi merah. "Halo," ucap Nico menerima panggilan. "Jadwal sidangnya diundur lagi karena Bu Winda opname di rumah sakit, Pak," kata orang di seberang sana. "Astaga ini cuma akal-akalan dia aja, Pak. Bapak gak bisa apa usaha lebih supaya ini gak berlarut-larut? Saya capek harus berurusan sama wanita itu lagi, Pak!" Nada suara Nico meninggi disertai raut wajah yang berubah marah. Sedari tadi Mila memang tak menoleh ke arah Nico, tapi percakapan dengan seseorang di seberang sana terdengar sangat jelas. "Saya sudah berusaha, tapi–" "Tolong lah, Pak. Ini sudah jalan enam bulan dan gak ada hasil apa-apa! Saya sudah bayar mahal sama Bapak, bukti juga ada, jadi apalagi yang kurang, Pak? Saya gak mau tahu, pokoknya paling lambat bulan depan proses cerai saya sudah selesai!" Nico mengakhiri panggilan itu dan meletakkan ponselnya sedikit kasar. Mila sangat kaget mendengar kalimat terakhir yang Nico ucapkan barusan. Ternyata rumah tangga CEO barunya itu sedang tidak baik-baik. Duduk di samping Nico, Mila mencuri pandang sinis ke arah bosnya yang masih terlihat marah itu. Baginya sangat wajar kalau istri bosnya itu meminta cerai, melihat sikapnya yang menyebalkan. Wanita mana yang tahan. *** Sepulang kerja gadis berambut coklat itu mampir terlebih dahulu ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan untuk mengisi kulkasnya yang kosong. Setelah mendapatkan semua yang ia perlukan, Mila memilih untuk langsung pulang karena badannya masih lelah selepas cuti kemarin. Masuk dari blok yang berbeda, Mila mendapati sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah dan menutupi jalan masuknya. "Siapa sih yang parkir sembarangan kayak gini?" sungut Mila kesal. Dari dalam mobil ia memperhatikan ke arah luar, barangkali ada orang pemilik mobil itu. Namun, sejauh yang ia lihat tidak ada siapa-siapa di sekitar itu. Malas mencari tahu pemilik mobil itu siapa, ia memutuskan untuk membunyikan klakson agar si pemilik mobil mendengar dan segera memindahkan mobilnya. Berkali-kali ia membunyikan klakson, tapi tak ada siapa pun yang datang. Mulai merasa sedikit kesal, kali ini Mila membunyikan klakson mobilnya lebih lama. Hingga akhirnya seorang pria berlari kecil, keluar dari rumah yang berada tepat di samping rumah gadis itu. Dari dalam mobil ia melihat jelas wajah tetangga barunya. "Lain kali kalau parkir itu jangan sembarangan! Jangan nutupin jalan masuk rumah orang!" seru Mila membuka kaca jendela mobilnya. Namun, bukan main kagetnya Mila saat melihat pria yang merupakan pemilik mobil itu. Siapa lagi kalau bukan Nico Ravindra yang tak lain adalah CEO perusahaannya. Emosi yang sempat memuncak seketika hilang diganti dengan rasa canggung dan takut melihat ekspresi Nico yang malah menyunggingkan senyum kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN