"Uh, Daddy ... pelan sedikit ...," rintih Kirana. "Tidak bisa, Baby. Aku sudah menunggu selama tiga bulan," gumam Leonard. "Nanti ... anak kita pikir ... ada gempa bumi." Kirana menggeliat gelisah di bawah sang suami karena rasa itu semakin memuncak. "Dia akan mengerti." Kirana menancapkan kukunya di punggung Leonard saat gelombang puncak menerpa. Matanya terpejam dan bibirnya merekah menyuarakan rintihan tertahan. Ya, sudah lama sekali sejak dia merasakan 'kematian kecil' ini. Tidak lama kemudian Leonard menyusul. Denyut tubuh mereka berpadu seiring nafas memburu. Kirana menggerakkan pinggul dan berhasil mendapatkan gelombang berikutnya. Leonard mengerang dalam himpitan si wanita. "Baby ... kamu lebih sensitif?" "Uhm ... Iya, sejak hamil." Kirana tersipu malu. "Istriku memang luar

