Part Four

1624 Kata
"Uncle... uncle...." ucap Nico menggantung. "Uncle? Kata bibi Minah daddy itu yang biasa dengan mommy ya? Tapi,kenapa daddy Fefe gak pernah bersama mommy?." "Karena daddy Fefe akan bersama mommy saat fefe tak melihatnya." "Tapi,mommy selalu bersama Fefe. Dulu Fefe dan mommy selalu bersama uncle. Tapi,fefe gak tau daddy." Menurut Nico ini bukan waktu yang tepat untuk seorang gadis kecil seumuran fefe memahami masalahnya dengan Ferina dulu. Kesalahan terindah yang pernah ia buat bersama Ferina. "Fefe boleh panggil Uncle Nico daddy." Fefe menatap mata Nico yang sangat mirip dengan matanya. "Serius uncle?." Nico mengangguk mantap. "Yeaah,makanya mulai sekarang panggil uncle Daddy." Ucap Nico pada gadis kecilnya. "Daddy,dulu mommy adalah orang yang sangat hebat. Daddy tau,dulu aku pernah jatuh dari salah satu playground dan kakiku terluka dan mengeluarkan banyak darah,aku sangat takut waktu itu. Tapi,mommy selalu bilang jika aku tak perlu takut,mommy akan menjaga dan melindungi aku. Mommy selalu memeluk aku waktu aku sakit. Pada malam harinya waktu mommy menemani aku tidur,mommy menangis aku ikut sedih tapi aku tetap saja pura pura jika aku tidur. Aku masih ingat mommy berkata "co,maaf ya aku gak bisa jaga fefe baik baik." Mommy menangis. Aku baru melihat mommy menangis malam itu. Tapi semenjak itu mommy gak pernah nangis lagi." Fefe bercerita sambil mengingat wajah Ferina. Wajah mommy yang cantik,lembut,selalu tersenyum. Dan kehangatan mommy-nya tak pernah ia dapatkan dari siapapun. Nico terdiam. Bibirnya kelu untuk menanggapi cerita Fefe. Tenggorokannya tercekat,hatinya teriris. "Fefe,kangen banget sama mommy,dad. Fefe kangen dipeluk mommy,fefe kangen mommy buatin fefe waffle,fefe kangen mommy dad." Kini air mata fefe hampir keluar. "Daddy juga kangen mommy fefe." Nico mengelus puncak rambut Fefe. Disaat dia bersenang senang dengan banyak w***********g diluar sana. Wanita dan putrinya justru malah menderita. Dia merasa bahwa dia adalah orang yang paling bodoh. +-+-+-+-+-+-+-+ Fefe memakan dengan lahap makanan yang disajikan oleh bibi Minah. Dia benar benar sudah lapar. Waktu tak terasa saat dia dan "daddy baru" nya menonton kartun Disney. "Besok kita pergi jalan jalan ya,kita beli perlengkapan fefe sekolah." Ucap Nico sambil meminum gelas air putihnya. "Oke,daddy." Ucap Fefe sambil mengangkat ke udara ibu jarinya. "Kayaknya cuacanya agak mendung ini. Dari tadi kilat kilat terus." Bibi Minah yang bercerita sambil membereskan piring piring yang sudah kosong dihadapan Nico dan Fefe. "Iya,bi. Kayaknya mau ujan deres banget." Nico menatap kearah atap kaca yang dia minta kepada bagian apartement. Fefe terdiam. Dia takut petir dan hujan. Biasanya ketika hujan lebat maka Mommy akan memeluknya. -+-+-+-+- Benar,apa yang Fefe takutkan terjadi. Hujan deras disertai angin kencang dan petir menyambar dengan kerasnya. Dia sangat takut untuk memejamkan mata. "Mommy,where are you? I miss you so bad. I need you mom." Air mata Fefe jatuh. Dia sangat takut. Dia memeluk boneka teddy bear ungu yang dibawa oleh uncle uncle suruhan daddynya untuk membawa barangnya. *dueeeeeerrrr* "Aaaaaaaa.... Mommy aku takut." Tangisan Fefe semakin kencang. Dengan keberanian penuh dia berlari ke arah pintu dan berniat lari ke kamar Nico. Dia mengetuk terlebih dahulu dengan tangan mungilnya. "Daddy.." "daddy..." fefe mengeraskan ketukannya. Nico yang mendengar suara gadis kecilnyapun segera membuka mata dan berlari kecil ke arah pintu. Dibukanya pintu kamar mewahnya. Diliatnya Fefe yang sudah menangis ketakutan.  Nico terkejut dan langsung menggendong Fefe kedalam pelukannya. "Fefe takut petir daddy." Ucapan Fefe sambil menenggelamkan wajahnya diantara lekukan leher Nico. "Fefe tidur disini ya sama daddy.'' Ucap Nico sambil menidurkan gadis kecilnya di tempat tidur king size miliknya. Dipeluknya Fefe sama seperti memeluk Ferina dulu. Fefe berlindung ditubuh kekar Nico. Mencari kehangatan yang sama dengan mommynya. Dielusnya lembut rambut kecoklatan Fefe. Sambil diciumnya puncak kepala Fefe. Tak pernah Nico bosan mencium puncak kepala Fefe. "Daddy bakalan jaga kamu,sayang. Daddy bakalan turutin semua kemauan kamu sayang." Fefe telah tertidur dengan nyamannya. Tak perduli dengan suara hujan yang gaduh dan suara petir yang menjerit-jerit. Gadis kecil itu menghirup harum wangi tubuh Nico yang membuatnya nyaman. Mata milik daddynya sangat mirip dengan matanya. -+-+-+-+- "Daddy wake up..." ucap Fefe pada Nico yang masih memejamkan matanya. "Daddy banguuuun. Daddy janji hari ini kita pergi beli kebutuhan Fefe." Ucap Fefe sambil menggoyangkan tubuh Nico. Nico membuka matanya perlahan sambil merenggangkan otot tubuhnya yang kaku. Dihadapannya gadis kecil dengan wajah khas bangun tidurnya,merupakan pemandangan terindah yang pernah Nico lihat saat pertama membuka mata. "Ya,sayang. Daddy ingat kok tanpa kamu ingatkan" kini Nico justru menarik Fefe dan memeluk Fefe lagi. "Kita tidur lagi aja ya sayang. Daddy masih ngantuk nih." Fefe pun merengut. "Daddy!!! Fefe itu udah gak ngantuk." Ucap Fefe sambil mencoba melepaskan pelukan Nico. "Daddy!!! Aku ngambek nih ya." Nico jadi teringat wanita yang telah melahirkan malaikatnya. "Nic,aku ngambek ya sama kamu!" Itu ucapan yang sering diucapkan Ferina padanya. "Iyaya princess." Nico melepaskan pelukannya dan kini Fefe mengambil kesempatan itu untuk bebas dari pelukan Nico. "Cium daddy dong princess." Ucap Nico pada Fefe dan Fefe mencium kedua pipi Nico bergantian. +-+-+-+-+-+ Kini Fefe telah menggunakan dress berwarna putih bergambar pulkadot,sepatu kets berwara pink. Sangat cocok dan pas ditubuh mungil Fefe. "Bi,kita mau pergi dulu ya." Ucap Nico pada bi minah. "Iya,tuan muda." Sungguh betapa bahagianya wajah tuan mudanya. Gadis kecil itu sangat membawa banyak perubahan pada tuannya. Nico Bintang Leviando. Seorang CEO yang kejam dan memiliki sejuta pesona. One night stand adalah pekerjaan sampingnya. Clubbing dan minum wine dengan harga yang fantastis juga adalah kebiasaan malamnya. Berkencan dengan banyak gadis. Dari kalangan artis,model,designer,dan gadis manapun yang ia kencani. Bahkan bukan Nico yang menginginkan mereka diranjangnya. Tetapi,mereka sendiri yang akan cuma-cuma memberikan pada CEO tampan itu. Namun kini semua telah berubah. Tak ada lagi kencan dengan gadis dan berakhir diranjang,tak ada lagi clubbing setelah pulang kantor dan akan pulang pagi. Jangankan pulang pagi,mengingat ada gadis kecil yang menunggunya pulang dan akan berlari ke arahnya lebih membahagiakan dari apapun. Bahagia memang saat tau apa yang dikerjakan kini bertujuan jelas. Kini tujuannya bekerja adalah bukan untuk menghamburkan. Tetapi bagaimana caranya uang yang dia hasilkan selama ini digunakan untuk membahagiakan putri kecilnya. +-+-+-+-+ "Daddy..." Kini Nico menatap gadis kecil dihadapannya yang sedang mencoba dress berlengan pendek dan panjangnya selutut bergambar kelinci berwarna peach. Nico mengamati dari atas kebawah.  "Hmmm menurut daddy kebesaran,coba fefe coba ini." Ucap Nico lalu memberikan dress dengan lengan setali berwarna ungu dan cardigan berbahan lembut berwarna pink. Fefe berbalik ke kamar pas dan mencoba baju pilihan Nico. "Mr.Leviando ini adalah baju koleksi terbaik kami." Ucap manager pada Nico. Tentu saja manager itu tau bahwa pelanggannya adalah pemilik mall termewah ini. Dress dengan warna putih yang cenderung ke mewah. Fefe sudah membeli 5 potong baju dan peralatan sekolah. Harganya? Tentu saja fantastis sekali.  Namun berapa jutapun yang Nico keluarkan untuk Fefe sama sekali bukan apa apa. Tidak sebanding dengan rasa bersalah dan menyesalnya. "Daddy,apakah ini bagus?." Tanya Fefe setelah selesai mencoba dressnya.  Nico menatap dari bawah ke atas. Rambut panjang dan ikal fefe disampirkan dibelakang telinga. Dress dengan cardigan ungu. "Hmmm,perfect sayang!" Nico tersenyum puas. "Aku beli yang ini." Ucap Nico pada manager toko baju anak kecil itu. "Daddy,fefe laper.." ucap Fefe pada Nico. Belanjaan mereka tadi dibawakan oleh pengawal Nico. Tak dua hingga tiga pasang mata,semua pasang mata disekitar mereka akan menatap kagum pada anak dan ayah itu. Nico dengan polo shirt berwarna biru donker serta celana blue jeans. Kakinya beralaskan sepatu merk Adidas yang tentu saja harganya jutaan rupiah. Rambut yang dibuat berantakan serta wajah tegas menambah kesan maskulin. Tak cocok menjadi ayah beranak satu. Tapi,menjadi hot daddy juga bukan hal yang buruk. Gadis-gadis menatap kagum seorang lelaki yang tengah menggandeng gadis kecil cantik. Benar benar mempesona dan menarik perhatian. "Fefe mau makan dimana?" Tanya Nico pada Fefe yang sedang berjalan dengan semangatnya. "Fefe,mau makan pizza daddy." Ucap Fefe pada Nico. Nico mengangguk. "Dery,lo bisa balik dulu ke mobil,lo taruh belanjaannya dan ini kunci mobilnya,gue sama fefe mau jalan jalan dulu."  "Oke,sir!". Dery adalah teman Nico kuliah. Sudah sangat dekat namun Dery tak mendapat pekerjaan dan Nico menawarkan pekerjaan menjadi pengawal kepercayaan Nico. Selain Nico tau seluk beluk Dery,Nico juga sangat mempercayai Dery. "Daddy,kenapa uncle Dery gak ikut kita sekalian?" Tanya Fefe polos. "Der,habis lo taruh itu belanjaan lo langsung nyusul ke Restaurant Italy tempat gue biasa makan ya." Ucap Nico langsung setelah Fefe tanya. "Oke,sampai ketemu nanti gadis manis." Ucap Dery pada Fefe. +-+-+-+-+- Ada kalanya Nico dan Dery seperti pengawal dan majikan. Namun ada kalanya mereka seperti teman. Ya,jika saat seperti ini mereka berteman. Dery juga tidak memakai baju pengawal. Ya sama santainya seperti Nico. Mungkin tempat dan keadaan yang akan membedakan hubungan mereka. "Fefe,pelayan itu dari tadi liatin daddy kamu terus. Kamu cemburu gak?." Tanya Dery pada Fefe yang sedang melahap pizza nya. "Ehmmm,cemburu itu apa uncle?" Tanya Fefe pada Dery. "Eh,lo gak usah ngajarin anak gue aneh aneh ya. Gue pecat lo!" Ucap Nico bercanda. "Sorry brooo,gue kan bercanda." Ucap Dery sambil tertawa. Fefe juga ikut tertawa walaupun dia bingung dengan apa yang diucapkan daddy dan Dery Uncle. "Nicoooooo...." Gadis berperawakan tinggi dengan dress selutut dan tas yang ditaruh dibahunya. Sederhana namun elegant. Nico menoleh dan tersenyum. "Angel.." Fefe menatap bingung dengan gadis yang dipanggil daddynya Angel. Angel mendekat dan mencium pipi kanan kiri Nico. Dery yang melihat itu ikutan tertawa. "Angel,lo gak bisa gituin Nico lagi sekarang. Liat tu didepan Nico." Ucap Dery. Reflect Angel melihat dihadapan Nico. Gadis cantik yang mirip dengan Nico. "Fefe bisa perkenalkan diri dengan aunty Angel." Ucap Nico pada Fefe yang menatap Angel bingung. Begitu pula sebaliknya. "Hai aunty,namaku Ferdina Milly Leviando." Ucap Fefe pada Angel. Angel bingung,sangat bingung. "Hai cantik,Angelia Flowie panggil Aunty Angel." Ucap Angel dan tersenyum. "Ini anak lo sama cewek yang mana,co?" Tanya Angel. Dery tertawa kencang. "Sialan lo!" Angel duduk disamping Fefe. Angel adalah teman kuliah Nico. Sangat dekat dan mereka bersahabat. Namun Angel tak tahu menahu soal Ferina. Hanya tahu Ferina mantan kekasih Nico. Sudah hanya itu yang Angel tau. "Ini anak gue,sama... Ferina." Ucap Nico dan Angel membulatkan matanya terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN