Langit biru senja perlahan digantikan semburat ungu gelap — bukan malam biasa, tapi malam yang membawa gema dari sesuatu yang... lama terkunci.
Andra berdiri di depan jam pasir yang kini utuh. Pasirnya mengalir lembut, seolah mengatur ulang napas dunia. Tapi ada satu keanehan.
Pasir itu... tak pernah habis.
> “Ini bukan jam biasa,” gumamnya. “Ini penunjuk jalan.”
Ira mendekat. “Penunjuk ke mana?”
Nara menjawab pelan, tatapannya kosong menembus garis cakrawala.
“Ke tempat yang bahkan waktu pun takut mengingatnya.”
---
Cahaya dari jam pasir itu membentuk peta di udara — peta yang tidak cocok dengan peta dunia mana pun yang pernah mereka lihat. Tidak ada benua, tidak ada laut. Hanya lingkaran-lingkaran konsentris, dengan simbol-simbol waktu yang berputar.
Di tengahnya... sebuah kata:
> AMARTA
Nara menarik napas tajam. “Menara itu… benar-benar ada?”
Andra terdiam. Dahinya berkerut.
> “Kita pikir selama ini ‘Amarta’ cuma simbol. Tapi ternyata… itu lokasi nyata.”
Ira menatap jam pasir, yang kini bergetar pelan. “Jadi ke sanalah kita harus pergi? Tapi bagaimana caranya?”
> [📢 Sistem Deteksi: Gerbang Amarta tidak eksis di realitas saat ini. Aktivasi perjalanan membutuhkan pemantik ingatan kolektif.]
“Pemantik ingatan?” tanya Ira, bingung.
Nara menunduk. “Kita butuh orang… atau entitas… yang pernah menyentuh Menara Amarta.”
Andra menggenggam jam pasir itu. Kilatan cahaya menyambar dari dalam — membentuk sebuah simbol baru di udara.
Simbol itu… bukan milik siapa pun di antara mereka.
> Sebuah tanda spiral.
Dan di bawahnya: Data Hilang. Sumber: Tidak Tercatat.
---
Malam semakin pekat.
Mereka bertiga berdiri dalam diam, di tengah atap gedung yang kini dipenuhi bayangan kabut. Di kejauhan, suara denting waktu terdengar seperti gema pelan. Tapi semakin lama… suara itu berubah.
Bukan denting jam.
Tapi langkah kaki.
Langkah berat, perlahan, seolah menapaki dimensi yang belum pernah disentuh siapa pun.
> “Ada seseorang datang…” bisik Nara.
Andra dan Ira bersiap, namun udara terasa lebih berat dari sebelumnya.
Dari balik bayangan kabut, sosok muncul — tinggi, berselubung, wajah tertutup topeng hitam retak di satu sisi.
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi saat mendekat, jam pasir di tangan Andra... pecah.
Waktu membeku sejenak.
Lalu sosok itu menunjuk ke arah mereka, dan dari retakan topengnya... suara nyaris tak terdengar bergema:
> “Amarta belum memanggil kalian. Tapi seseorang… telah membukakan pintu dari dalam.”
> “Dan saat kalian masuk… kalian mungkin tidak akan bisa keluar lagi.”
Andra menelan ludah. “Siapa kamu?”
Sosok itu tak menjawab.
Ia mengangkat tangannya — dan dari telapak tangan gelap itu, cahaya keemasan terbentuk. Tapi bukan sembarang cahaya.
Itu... fragmen dari ingatan Nara.
Nara tersentak. “Itu… kenapa kamu bawa itu?”
Sosok bertopeng membisik…
> “Karena kamu... adalah kunci yang dikira sudah hilang.”
---
Langkah terakhir sosok itu memudar dalam kabut, meninggalkan jejak cahaya spiral di udara.
Andra menoleh ke Nara, pelan.
“Nara... apa yang belum kamu ceritakan pada kami?”
Nara membeku. Wajahnya berubah — seperti seseorang yang baru saja mengingat dosa yang tak pernah ia akui.
> “Aku pernah ke Amarta.”
> “Tapi… aku tidak sendiri.”
> “Aku masuk… bersama satu orang yang sekarang harus aku lupakan.”
---
Jam digital di langit berdetik mundur.
Sistem kembali berbicara:
> [PENGUNCI TERAKHIR TELAH DITEMUKAN.]
[GERBANG AMARTA AKAN TERBUKA DALAM: 00:59:59]
---
🕰️
Dan di tengah langit malam yang tak lagi diam, waktu mulai membentuk pusaran baru — satu jam lagi menuju dunia yang tak pernah dicatat.
Bab selanjutnya...
akan menjadi perjalanan paling berbahaya mereka.
Dan seseorang... tidak akan kembali.