Chapter 20

1001 Kata
CHAPTER 20   Aku berdiri gugup di koridor timur. Koridor yang bisa dibilang cukup sepi karna hanya terdapat ruang olahraga, kamar ganti, dan gudang sekolah. Aku menimang-nimang keputusanku. Setelah berbicara dengan Kak Dani tadi, aku memang sedikit lega. Tapi saat kami berpisah, kegugupan itu kembali datang. Datang dengan cepat dan menghujam tajam. Aku menyenderkan tubuhku di tembok dan memejamkan mataku. Mengatur napas yang memburu. Sebentar lagi waktu pulang. Sebentar lagi, aku harus memutuskan. Seperti kata Riri, jatuh cinta itu dihadapkan dengan dua keberanian. Berani mengungkapkan atau berani melihat dia bersama orang lain. Tapi kali ini, aku bingung harus pilih yang mana. Aneh rasanya, aku yang notabene seorang Adlina, yang ansos tak dianggap bisa jadi seliar ini. Berpacaran dengan seorang Ramdani Pratama dan mencoba mengungkapkan perasaan kepada Davi Ramadhan. Huh, tak masuk akal.  Dengan sedikit keyakinan yang tersisa dan sedikit kata nekat yang merasuki jiwa ku, aku menegakan tubuhku dan menarik napas panjang. Rileks. Aku sudah memutuskan. Aku akan berjuang sekarang. Aku melangkahkan kaki menuju koridor kelas 12. Berharap bertemu Kak Ardan di sana. Tangan ku mengepal kuat di sisi tubuh. Bahkan telapaknya pun sudah basah oleh keringat. Deg. Entah ilusi seperti apa yang ada di otak ku. Ku jamin, ilusi ini lebih mengerikan dari sekedar genjutsu milik Uciha Itachi. Sangking buruknya, rasa-rasanya aliran darah ku berhenti begitu saja. Degup jantungku melemah sepersekian detik. Deru napasku tersumbat erat. Benar-benar ilusi yang menjerat. "Eh Lin, darimana?" Ujarnya sambil tersenyum dan menghentikan langkah tepat di depan ku. Tunggu. Tunggu dulu. "Abis jalan-jalan aja kak." Ucapku tanpa komando. Gerak refleks sepertinya. Otak ku tidak tahu menahu akan jawaban itu. "Oh..." balasnya sambil terkekeh membuat matanya menyipit, "yaudah deh, gua duluan. Mau ke ruang or, naro bola." Aku tergugu di tempat. Itu bukan ilusi. Bukan genjutsu. Bukan imajinasi. Itu nyata. Dia nyata. Ardan nyata. Hembusan angin menerpa sisi tubuhku yang dilewatinya. Angin pelan yang entah mengapa membuat aku menggigil. Aku gemetar di tempatku berdiri. Hingga sebuah kesadaran hadir. Aku berbalik dan menatap punggungnya yang menjauh. Dengan kesadaran penuh aku memanggil namanya. "Kak Ardan!" Dia pun menoleh dan berbalik. Sekarang posisinya berputar. Alisnya terangkat sebagai bahasa ganti dari kenapa. Secara perlahan aku mulai mendekar ke arahnya. Hingga aku berhenti dua langkah di depannya. "Boleh minta waktu kakak sebentar?" Tanya ku gugup. Tapi kali ini aku berani memfokuskan lensa ku ke dalam lensanya. "Segala minta waktu," dia tertawa, "mau ngapain emang?" Katanya. "Aku mau-- ada yang mau aku omongin kak." "Oke, bentar. Gua mau naro bola dulu. Lu tunggu sini aja." Katanya dan kubalas dengan anggukan. Dia berbalik dan masuk ke ruang or. Aku menunggu detik-detik yang mencengkam. Hingga akhirnya dia kembali. "Mau ngomong dimana?" Tanyanya dengan tangan yang terletak di saku celana. "Disini aja kak." Balasku cepat mengalihkan kegugupan. "Oke. Jadi?" Katanya mendesak. Aku menghela napas. Oke. To the point. "Aku suka sama kakak. Sangat suka bahkan." Mataku menusuk tepat di pupilnya. "Udah lama. Sejak aku masih kelas 10 saat MOPD. Sejak aku pertama kali liat kakak. Sejak aku pertama kali pulang seangkot sama kakak. Sejak aku liat kakak di jalan waktu kita turun angkot. Sejak aku pertama kali natap mata kakak. Sejak aku... sejak aku tau bahwa kakak adalah seorang Davi Ramadhan. "Sejak itu, aku selalu berusaha liat kakak, ketemu kakak, deket sama kakak. Dari kejadian air minum, basket, toilet, futsal, naik gunung. Semuanya aku lakuin supaya aku deket sama kakak. Bahkah...aku dengan Kak Dani pun karna kakak." Aku menarik napas. Mataku sudah berkaca-kaca entah karna apa. Hati ku butuh pelampiasan akan semua yang ditanggungnya saat ini dan hal itu dilampiaskan dengan air mata, walau masih sanggup ku bendung. "Tapi dari sekian banyak hal yang aku lakuin saat itu, aku tau bahwa hal yang seharusnya aku lakukan dari dulu adalah memberitahu kakak bahwa...aku cinta kakak." Kali ini, air mata itu benar-benar turun mengaliri pipiku. Aku terus menatapnya yang diam tergugu di depanku. Begitu pun dengan ku yang masih diam di tempat. Aku masih menatapnya. Tak sekali pun aku mengalihkan pandangan darinya. Namun, selama aku menatapnya, aku tak mampu membaca satu pun makna tersirat di bola mata hitam itu. Ia tak terbaca. Kak Ardan juga membalas tatapan ku. Entah mengapa senyum yang biasanya ada kini terhapus dan menunggalkan kesan serius di mimik wajahnya. Selang beberapa menit, dia membuka suara. "Lin..." katanya. Hanya itu yang keluar. Hingga sebuah suara yang terdengar jauh menggema kencang di sepanjang koridor sepi itu. "Eh Ardan, mojok bae ama cewek!" Kami menoleh. Oh, teman-teman Kak Ardan rupanya. Tapi tak ada Kak Dani. Aku mencoba tersenyum kepada mereka. "Ceweknya Alin lagi!" "Woy Dan, inget, Alin punya Dani. Lu juga inget Atha! Baru jadian kemaren lusa aja udah mendua!" "Hahahahahahaha!" "Kita duluan Dan! Tempat biasa!" Lalu hening. Aku mengedipkan mata sambil mencoba memahami sesuatu. Memahami untaian kata yang keluar dan membentuk kalimat yang sarat akan makna. Kak Ardan kembali menatapku. Sorot matanya yang meredup seakan menegaskan itu semua. Jadi? Entah bagaimana caranya, tiba-tiba semua terasa kosong. Aku mencoba untuk tersenyum, hingga akhirnya tawa sumbang yang keluar, "Jadi, Kak Ardan sama Kak Atha?" Tanya ku masih sambil tersenyum. Dia memgangguk. Anggukan yang menjelaskan semuanya. Anggukan yang menegaskan semuanya. "Oh...hhh...oohh, gitu ya." Kali ini aku tertawa. Benar-benar tertawa seperti orang bodoh. Tawa yang terdengar menyedihkan. "Kakak cocok sama Kak Atha. Iya, cocok banget...Hehehehe. Lucu." "Lin..." "Selamat ya kak, akhirnya kakak ga jomblo lagi. Hehe. Oh iya kak, PJ jangan lupa. Hehehe." "Semoga langgeng ya kak. Semoga awet. Semoga kakak bahagia. Semoga kalian bahagia." "Eh, ga kerasa udah jam segini. Aku pulang ya kak. Udah lewat jam pulang nih! Takut dicariin ibu. Sekali lagi selamat kak..." Aku berbalik. Jika tadi aku menganggap bertemu dengannya di tikungan adalah ilusi mengerikan. Namun kali ini adalah ilusi mematikan. Mematikan hati ku dalam sekejap entah untuk berapa lama. "Lin..." suaranya kembali ku dengar. "Are you okay?" Tanyanya. Sedangkan aku menjawab dengan menganggukan kepalaku tanpa berbalik ke arahnya. Ri, kamu bilang jatuh cinta itu dihadapkan dengan dua keberanian. Berani bilang atau berani liat dia sama orang lain. Tapi kenapa saat aku memutuskan untuk berani bilang, aku juga harus berani liat dia sama orang lain?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN