Bagian 11 : GA MAU PUNYA ABANG KAYAK BARA
.
.
.
.
Diara diam memperhatikan orang di depannya. Lelaki itu bulak - balik seperti sebuah setrika hidup di hadapan Diara yang duduk di kursi memanjang lorong rumah sakit.
"Udah si elah, lu kayak setrikan," kata Diara yang sudah jengah dengan perlakuan Bara.
Iya. Bara dan dirinya sedang di rumah sakit. Tiba-tiba saja Bara menelepon Diara untuk menemaninya ke rumah sakit saat dirumah Bima untung saja Bara mengijinkan mengganti baju seragamnya dulu sebelum ke rumah sakit. Ibu tiri Diara melahirkan anak dari ayahnya. Sempat sedih sebenarnya. Dirinya harus rela berbagi lagi dengan seseorang yang bahkan Diara tidak tau nantinya akan jadi seperti apa.
Sudah itu berbagi Ayah dengan Bara, sekarang harus di tambah lagi ? Tapi Diara melihat gejolak kesenangan saat melihat ayahnya yang mengantar mama tiri Diara masuk ke ruang bersalin. Menemaninya dan terus memberikan semangat untuk berjuang.
Diara tau, Bundanya yang ada di rumah sakit yang sama sudah mengetahui ini. Tapi untuk hari ini, khusus hari persalinan Bunda Diara bersikap seperti semuanya baik-baik saja. Bahkan sedari berdiri dan berkomat-kamit membacakan doa keselamatan untuk mama dan calon adik tiri Diara.
"Lah gue lagi tegang ini," sahut Bara saat mendengar Diara berceloteh tentang dirinya.
Diara mengangkat kedua bahunya tak acuh. Bahkan dirinya yang paling tenang. Tidak ada rasa takut, sakit, tegang atau apapun. Entah. Tapi itulah kenyataanya.
Dan saat dokter yang membantu persalinan mama tiri Diara keluar dari ruangan yang ditungguinya itu, Diara seakan mematung di tempat.
Seorang bayi perempuan dengan mata bulat dan kulit putih bersih sudah di gendong ayahnya yang menyusul dokter keluar.
"Kok dia mirip lo sih, Ra ?"
Dan perkataan dari Bara itu membuat Diara pergi dari tempatnya. Dirinya mungkin bisa menerima adik tiri laki - laki. Tapi tidak dengan perempuan.
Diara sangat ingat sewaktu masih kecil, Diara dimanja dan disayang melebihi apapun oleh ayah dan bundanya. Kata mereka karena Diara seorang gadis, maka dari itu ayah dan bunda akan membesarkan Diara dengan kasih sayang yang berlebih. Ayah dan bunda memang sangat menantikan kehadiran Diara saat itu. Jadilah, dirinya dimanja dan disayang. Bahkan bisa di bilang, sangat di manja.
Di pikiran Diara yang sedang berjalan terus ke luar rumah sakit, bahwa ayah dan bunda apalagi mama tirinya Diara akan sangat menyayangi bayi itu. Dan lama - lama akan lupa tentang adanya dirinya di dunia ini. Bahkan Bara juga pasti akan lupa. Pasti tidak akan ada seperti dulu. Iya. Dulu. Sewaktu mereka bersama di masa seragam putih biru.
* * *
Diara masih saja diam di tempatnya duduk dengan bunyi bising yang seakan tidak terdengar oleh dirinya. Bayangan gadis kecil yang di gendong ayahnya sambil tersenyum senang dan berseri terus berputar di kepalanya. Matanya menyiratkan dirinya sedang berduka kala ini.
"Lo kemana aja Ra ? Kok baru ke sini lagi ?"
Omogan itu membuat Diara tersentak sadar akan dirinya. Pasalnya, orang yang bertanya itu sedikit berteriak agar terdengar oleh Diara. Hentakan musik yang menggema disini membuat orang itu harus sedikit menaikkan oktaf bicaranya.
Diara tersenyum menatap laki - laki di depannya. Bertender itu teman lama Diara. Teman yang tau masa kelamnya.
"Gue waktu itu nyoba buat berhenti ke sini. Tapi tadi ada yang buat gue jadi pengen tepar lagi di sini," kata Diara dengan oktaf yang sama membalas perkataan dari laki - laki di depannya itu.
"Lo bawa hp ?" Tanya bertender dengan nama d**a Gunawan itu.
Diara mengangguk kecil setelah meneguk minuman yang sudah lama di pesannya tadi dengan sekali teguk, "kenapa ?"
"Lo rencana mau tepar disini itu artinya gue yang bertanggung jawab," sahut Gunawan lagi.
"Bahasa lo bikin geli anjir g*n," kata Diara terkekeh lalu tangannya mengangkat gelas kecil mengisyaratkan untuk menambah lagi minumannya.
Berteder itu tersenyum menuang air tidak berwarna itu dengan gelembung kecil - kecil ke gelas kecil yang tadi di acungkan Diara.
"Kenapa emangnya ?" Tanya Diara masih belum puas dengan jawaban Gunawan tadi.
"Nanti pasti ada yang nyariin lo kayak pas pertama kali tepar disini," jawab Gunawan.
Diara berdecak lalu meneguk minumannya lagi; "masih inget aja lo. Malu - maluin tau anjir," katanya setelah habis meneguk minumnya itu.
"Iya lo kan baru abis tiga gelas kecil gitu, maboknya parah sampe ngigau ngomong sendiri da -"
"s****n lo," kata Diara memotong pembicaraan Gunawan, "ga usah di ceritain atau lo lupain aja elah susah bet, Gun."
Gunawan terkekeh mendengar omelan si cewek yang dikenalnya beberapa tahun lalu.
"Gue kesana dulu bentar," kata Gunawan menunjuk pelanggan lain diangguki Diara cepat.
Masih saja seperti itu, bahkan Diara masih ingat bagaimana Gunawan membantu dirinya agar dirinya tidak mabuk dulu. Melarang minum inilah itulah. Tapi masih saja selalu mabuk. Sampai pada akhirnya Bara menelepon Diara dan diangkat oleh Gunawan yang memberikan informasi keadaan Diara waktu itu yang mabuk total. Itu kata Gunawan dan Bara.
Diara terkekeh kecil lagi. Sepertinya dia mulai mabuk setelah menghabiskan beberapa gelas kecil dengan kadar alkohol yang agak tinggi dari pada yang terakhir dia minum.
Ponsel di saku celananya bergetar sedikit lebih lama, mengartikan ada telepon yang masuk ke ponselnya. Ketika Diara merogoh ponselnya dirinya hanya diam sesaat melihat siapa yang memanggilnya melalui telepon.
Bara's calling.
Diara membuang nafas jengah. Pasti Bara menanyakan keberadaanya sekarang.
"g*n, lagi dong," teriak Diara menyimpan ponsel di samping gelasnya memanggil Gunawan untuk mengisi gelas kosongnya.
Setelah sekian lama meneguk minuman melebih batasnya, Diara mabuk. Bahkan Diara hanya bisa bergumam sesekali menjawab pertanyaan Gunawan. Ponsel di samping kepalanya masih saja bergetar saat Gunawan melihatnya. Jengah dengan Diara yang semakin minta dosis alkoholnya di tambah, Gunawan mengangkat teleponnya.
Di benak Gunawan dirinya merasa de javu. Dulu dirinya juga seperti itu. Mengangkat telepon milik Diara dan mengatakan keadaan Diara juga alamat tempat Diara mabuk. Setelah itu Bara akan datang menjemput Diara. Selalu seperti itu. Tapi pernah sekali, yang menjemput Diara itu bukan Bara. Melainkan Fathur.
Diara pernah bercerita, Fathur adalah kenalannya di dunia balapan liar. Jadi, Gunawan tidak perlu khawatir. Lagian Diara masih cukup sadar saat itu.
Diara masih menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan miliknya. Diara kali ini bukan bergumam tapi terisak. Dan saat Bara sampai, Diara bersikap seolah dirinya tidak mabuk.
"Ra, lo sadar kan ?"
Diara mengangguki pertanyaan Bara. Lalu berdiri bermaksud untuk pulang. Tapi karena tingkat alkohol di dalam tubuh Diara cukup tinggi, jalannya sempoyongan dan harus di bantu Bara.
Sebelum pergi, Bara mengucapkan terima kasih seperti biasa pada Gunawan dan menghilang di balik pintu keluar. Diara duduk di jok penumpang milik Bara. Tanpa memakai sabuk pengamannya dia mengamati club itu dari luar.
Club yang menjadi sosok bisu akan titik terendah seorang Diara. Diara tersenyum kecil merasakan Bara yang mendekat untuk memasang sabuk pengamannya sebelum berjalan meninggalkan club itu.
"Sini dulu Ra, lo harusnya pas -"
"Kenapa Bar ?" Ucap pelan Diara memotong perkataan Bara.
"Apa ?"
Jarak mereka dekat. Sangat dekat. Bahkan Diara bisa merasakan hembusan nafas Bara di wajahnya. Posisinya, Bara yang akan menarik sabuk pengaman milik Diara dengan Diara di bawahnya.
"Lo. Selalu aja kayak gini," ucap Diara mendorong Bara untuk duduk di posisinya sebagai pengemudi.
"Gue kayak gini karena sekarang gue abang lo, Ra," kata Bara menatap Diara sendu.
Diara menggeleng kecil lalu terkekeh, "lo bisa ga sih nge- ah lo ga bakal bisa ngerasain rasanya jadi gue kan ?"
Bara masih saja menatap Diara. Dirinya masih menunggu keterusan kalimat dari mulut Diara.
"Karena gue. Gue sakit Bar disini. Gue tau lo tau semuanya tentang gue. Termasuk titik paling rendah yang ada di diri gue. Tapi lo ga bisa terus gini Bar," Diara menatap Bara.
"Kenapa ?"
Diara tersenyum kecil, "karena gue ga bakal pernah nganggap lo kayak abang, Bar."