Bagian 52 : SEPERTI PETIR DI SIANG BOLONG "Jadi udah bisa ?" Bima mengajak Diara berbicara setelah hampir dua jam mereka belajar dasar dari basket. Diara meminum minuman dinginnya lalu menggeleng cepat. "Ga bisa, ga paham dan ga mau tau." Kekehan Bima keluar dari mulutnya ketika mendengar Diara menjawab pertanyaan dari Bima dengan cepat dan masih ngos - ngosan. "Lo pasti bisa. Tadi udah berapa kali masukin bola ke ring ?" "Dua." Bima terkekeh. "Besok bisa sampai lima ?" "Kalo bisa ?" Senyuman Bima menjadi alasan mengapa kening Diara berkerut bingung. Aneh saja. Harusnya Bima tidak tersenyum seperti itu. Bima seperti orang m***m yang sedang memikirkan hal - hal berbau m***m dan menemukan target yang sudah lama dia nanti. "Apa ?" Kata Diara canggung. "Gue bakal ngasih lo

